Oleh: Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID- DIA mendesah sambil mengembuskan nafas panjang. Dia tampak lelah, terutama perasaan dan pikirannya. Ada rasa putus asa yang menyelimuti hatinya. “Dalam kondisi seperti ini, masihkah ada harapan? Pada siapa harapan itu kita gantungkan?” katanya mengeluh.
Sangat mungkin, si “dia” mewakili perasaan dan pikiran banyak orang. Siapa pun yang waras, tentu terguncang hatinya ketika informasi buruk datang bertubi-tubi kepadanya. Informasi itu antara lain kasus mega korupsi yang penuh drama, pasang surut ekonomi yang mengkhawatirkan, pendidikan yang gonta-ganti kurikulum dan kebijakan, masyarakat sipil yang makin lemah, termasuk ormas keagamaan yang makin terkooptasi, kaum cendekiawan dan ulama yang lebih suka “bermesraan” dengan kaum elit kaya-berkuasa ketimbang memihak pada rakyat yang lemah, dan seterusnya.
Lebih buruk lagi (dan karena itu mungkin makin laku?), teknologi informasi kiwari semakin membuka lebar peluang-peluang untuk manipulasi dan kepalsuan. Ada aplikasi yang bisa membuat foto dan video jauh lebih indah dari warna aslinya. Yang tua tampak muda. Yang kasar menjadi halus-mulus. Yang kering coklat menjadi hijau. Yang sumbang menjadi merdu. Yang pelan menjadi lantang. Bahkan, berkat kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI), orang bisa membuat rupa-rupa foto, video, flyer, hingga konsep-konsep ilmiah yang canggih, tanpa harus bekerja keras.
Jika ditinjau lebih dalam, sebenarnya potensi kepalsuan dalam diri manusia itu memang sudah ada dari mula keberadaannya. Mungkin karena fitrah manusia itu baik, benar dan indah. Karena itu, ia menyukai kebaikan, kebenaran dan keindahan dan membenci sebaliknya. Hal ini kemudian mendorongnya untuk tampil dan tampak baik, benar dan indah. Kadangkala, apa yang tampak itu tidak sesuai dengan kenyataan. Dia hanya berpura-pura dan bersandiwara. Jika sikap berpura-pura itu menjadi kebiasaan, maka dia akhirnya menjadi manusia munafik alias hipokrit.
Sekarang, ketika teknologi semakin berkembang dan mampu membuat banyak kepalsuan, mungkin lambat laun kemunafikan dianggap hal biasa. Banyak orang terjerumus dalam lembah kemunafikan. Ciri-cirinya adalah seperti sabda Nabi: jika berbicara, dia bohong; jika berjanji, dia mengingkari; jika diberi kepercayaan, dia berkhianat. Jika orang-orang munafik semakin banyak dan dominan, maka orang-orang yang tulus dan jujur akan tampak semakin aneh. Yang berintegritas akan tersingkir dan terkucilkan, sedangkan yang culas akan berjaya dan berkuasa.
Dalam masyarakat yang didominasi kemunafikan, kepercayaan menjadi langka. Orang hidup dalam suasana saling curiga dan waspada. Tak ada yang benar-benar dapat dipercaya. Makin sulit mencari orang yang benar-benar mampu sekaligus setia. Kadangkala ada orang yang pintar, kompeten dan mampu, tetapi tidak setia, bahkan menikam dari belakang, menggunting dalam lipatan. Akibatnya, pertimbangan nomor satu dan paling utama yang dicari oleh seorang pejabat ketika mengangkat bawahannya adalah loyalitas, sementara kompetensi tidak lagi diutamakan.
Akibatnya, persatuan menjadi rapuh. “Kau sangka mereka bersatu, padahal hati mereka berseteru” (QS 59: 14). Yang ada hanyalah kepentingan pribadi, dibungkus dalam retorika kepentingan umum. Karena itu, wajar jika kita menyaksikan makin banyak manusia kutu loncat, yang sanggup berpindah dari satu kubu ke kubu lain. Hari ini bermusuhan, besok berkawan. Bahkan mereka pun bisa saling menyandera. Tak ada teman abadi. Yang abadi hanyalah kepentingan. Andai yang dimaksud adalah kepentingan umum, tentu tak masalah. Sayang, yang dimaksud adalah kepentingan pribadi!
Padahal, hidup bersama tanpa saling percaya sungguh menyiksa. Sebaliknya, dalam masyarakat yang saling mempercayai akan tumbuh rasa aman dan damai. Orang tak perlu banyak khawatir. Dalam bahasa agama ‘iman’ atau percaya, melahirkan ‘amn’ atau rasa aman, dan ‘amanah’ yakni bisa diberi kepercayaan. Hal ini sejalan dengan kajian Robert Putnam dalam bukunya, Making Democracy Work. Menurutnya, modal sosial berupa “trust” alias kepercayaan adalah kunci kesehatan demokrasi, ketika tiap orang dan kelompok yang berbeda dapat membangun jembatan kerjasama.
Saya kembali teringat kawan yang mendesah gelisah di atas. Apakah kita sudah kehilangan harapan dan putus asa? Tidak! Sepanjang zaman, senantiasa ada manusia yang tulus dan culas. Ibarat positif dan negatif, keduanya selalu ada. Al-Qur’an sendiri menyebutkan beberapa jenis manusia: mukmin, kafir, musyrik, dan munafik. Mukmin itu percaya dengan tulus. Kafir itu terus terang mengaku tidak percaya. Musyrik itu percaya kepada lebih dari satu (Tuhan). Munafik itu pura-pura percaya. Bukankah dalam kehidupan manusia saat ini rupa-rupa karakter itu juga ada?
Alhasil, dunia ini tak pernah benar-benar gelap tanpa cahaya. Juga tak pernah total terang benderang tanpa gelap sedikit pun. Pertanyaan yang penting bukanlah apakah kita masih punya harapan, tetapi apakah kita termasuk dalam golongan yang membangun harapan itu ataukah meruntuhkannya? (*)