Michael Olise mencatatkan sejarah di panggung terbesar sepak bola dunia, namun penyerang sayap Bayern Munich itu harus menelan kekecewaan mendalam setelah Prancis kalah 6-4 dari Inggris dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia. Meski berhasil memecahkan rekor yang telah lama dipegang oleh legenda asal Brasil, Pele, pemain berusia 24 tahun itu gagal menikmati momen pribadi setelah membuang sejumlah peluang emas di Miami.
Malam penuh suka dan duka di Miami
Menurut laporan dari L'Equipe, bintang Bayern Munich tersebut terlihat menangis di ruang ganti usai laga karena gagal memanfaatkan dua peluang emas di babak kedua. Prancis sebenarnya bangkit dari ketertinggalan besar di babak pertama hingga memperkecil skor menjadi 4-3, dan Olise menjadi motor kebangkitan itu. Namun, penyerang kelahiran London tersebut dua kali gagal mencetak gol pada menit ke-75 dan ke-81, ketika tampak memiliki peluang pasti untuk menyamakan kedudukan. Dua kegagalan itu menjadi penentu gagalnya harapan Prancis untuk membalikkan keadaan, dan performa luar biasa sang winger sepanjang musim panas seolah hilang sesaat ketika ia hanya memikirkan peluang yang terbuang.
Melewati catatan legenda sepak bola
Meski dirundung kekecewaan, Olise tetap menorehkan namanya dalam buku sejarah selama pertandingan yang penuh drama itu. Dengan dua assist yang ia berikan untuk Kylian Mbappe, total assist-nya di turnamen ini mencapai tujuh, melewati rekor lama milik legenda Brasil, Pele. Sang juara dunia tiga kali sebelumnya mencatatkan enam assist pada edisi 1970 di Meksiko, namun kini Olise resmi menjadi pemegang rekor assist terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia.
Pencapaian ini menegaskan betapa pesatnya perkembangan Olise sejak bergabung dengan Bundesliga, di mana ia mencetak 42 gol dan 54 assist dalam dua musim terakhir. Meskipun catatannya masih di bawah rekor sepanjang masa Lionel Messi di Piala Dunia dengan 12 assist, kemampuan Olise dalam menciptakan peluang menjadi aspek penting dalam perjalanan Prancis di turnamen ini, dengan sang pemain menunjukkan bahwa dirinya lebih mengutamakan kesuksesan tim ketimbang pencapaian pribadi.
Dukungan dari Didier Deschamps
Pelatih tim nasional, Didier Deschamps, terlihat memeluk Olise yang tampak terpukul di lapangan, dan kemudian mengonfirmasi bahwa ia berbicara secara pribadi untuk menguatkan sang pemain. Deschamps, yang sejak awal menjadi pendukung utama Olise dalam proses adaptasinya ke tim senior, mengakui bahwa pertandingan tersebut memberikan beban emosional yang besar bagi anak asuhnya.
Dukungan sang pelatih datang pada momen yang penting ketika Olise mencoba memproses turnamen yang menjadi paradoks antara keberhasilan pribadi dan kekecewaan kolektif. Prancis datang ke turnamen ini sebagai salah satu unggulan utama, dan meskipun finis di posisi keempat dapat dianggap terhormat, kekalahan 6-4 dari rival lama mereka meninggalkan rasa pahit di akhir perjalanan.
Saga transfer di balik layar
Terlepas dari air mata di Miami, nilai pasar Olise kini tengah meroket, dan masa depannya di Bayern Munich menjadi sorotan klub-klub elit Eropa. Laporan menyebutkan bahwa sang winger “sangat bertekad” untuk memaksakan kepindahan ke Real Madrid agar bisa bergabung dengan rekan setimnya di tim nasional, Kylian Mbappe, di ibu kota Spanyol.
Presiden Real Madrid, Florentino Perez, dikabarkan melihat Olise sebagai kepingan terakhir dalam proyek "Galactico", yakni seorang kreator yang mampu memberikan suplai ideal bagi lini depan bertabur bintang Los Blancos. Raksasa Prancis, Paris Saint-Germain, disebut telah mundur dari perburuan karena enggan memenuhi harga tinggi yang dipatok, sehingga Madrid kini berada di posisi terdepan untuk mendapatkan tanda tangan sang pemain.