TRIBUNNEWS.COM, CILEGON – Keberlanjutan sektor perikanan nasional tidak hanya ditentukan oleh hasil tangkapan nelayan, tetapi juga kesehatan ekosistem laut yang menjadi fondasi rantai pasoknya.
Di Indonesia, terumbu karang merupakan salah satu aset alam yang menopang produktivitas perikanan, pariwisata bahari dan menjahga ketahanan ekonomi masyarakat pesisir.
Nilai ekonominya pun tidak kecil. Bank Dunia mencatat ekonomi laut Indonesia menghasilkan aktivitas ekonomi lebih dari US$280 miliar atau sekitar Rp4.550 triliun per tahun.
Dari jumlah tersebut, sektor perikanan menyumbang sekitar US$27 miliar atau setara Rp439 triliun dan menjadi sumber mata pencaharian bagi lebih dari tujuh juta orang.
Namun, potensi tersebut menghadapi tekanan akibat menurunnya kualitas ekosistem laut.
Bank Dunia, mengutip data LIPI, menyebut sekitar sepertiga terumbu karang Indonesia berada dalam kondisi kurang baik, sementara sekitar 38 persen stok ikan tangkap telah mengalami eksploitasi berlebih (overfishing).
Degradasi ekosistem ini dinilai dapat menekan produktivitas perikanan, mengurangi pendapatan masyarakat pesisir, sekaligus meningkatkan risiko terhadap ketahanan ekonomi kawasan pantai.
Di tengah tantangan tersebut, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Banten menjalankan rehabilitasi terumbu karang di Pulau Merak Besar, Kota Cilegon, melalui transplantasi 225 paket terumbu karang sebagai bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan di wilayah operasional Selat Sunda.
General Manager PT Pelindo Regional 2 Banten Benny Ariadi mengatakan, sebagai operator pelabuhan yang beroperasi di kawasan pesisir, perusahaan memiliki kepentingan untuk menjaga kualitas ekosistem laut yang menjadi penopang aktivitas ekonomi masyarakat maupun keberlanjutan kawasan.
"Kerusakan terumbu karang berdampak langsung pada berkurangnya habitat ikan sehingga hasil tangkapan nelayan ikut menurun. Karena itu, rehabilitasi ekosistem bukan hanya upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menjaga produktivitas ekonomi masyarakat pesisir," ujar Benny.
Menurut dia, pemulihan kawasan Pulau Merak Besar diharapkan mampu mengembalikan fungsi ekologis terumbu karang sebagai habitat berbagai biota laut.
Baca juga: Transplantasi Terumbu Karang dan Budidaya Kepiting Bakau Angkat Ekonomi Lokal Labuan Bajo
Dalam jangka panjang, kawasan tersebut juga berpotensi dikembangkan sebagai destinasi ekowisata yang dapat menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat setempat.
Program rehabilitasi dilakukan menggunakan metode transplantasi karang hidup dengan media rak berbentuk web spider. Sebanyak 225 paket transplantasi, termasuk penyulaman sekitar 10 persen, dipasang untuk mempercepat pemulihan ekosistem bawah laut.
Pelaksanaan program dilakukan bersama LAZ Harapan Dhuafa (LAZ Harfa) dengan melibatkan kelompok nelayan dan pemuda setempat.
Mereka tidak hanya berperan dalam pemasangan media transplantasi, tetapi juga memperoleh pelatihan mengenai teknik rehabilitasi dan pemeliharaan terumbu karang sehingga diharapkan mampu menjaga keberlanjutan program setelah selesai dilaksanakan.
Baca juga: Kenapa Alam Indonesia Disebut Pusat Terumbu Karang Dunia? Ini Faktanya
Dikatakannya, pendekatan tersebut merupakan bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai salah satu faktor pendukung keberlanjutan bisnis.
Perusahaan menilai investasi pada pemulihan ekosistem laut akan memberikan manfaat jangka panjang, baik bagi lingkungan maupun aktivitas ekonomi di sekitar pelabuhan.
Urgensi menjaga ekosistem laut juga tercermin dari besarnya kerugian ekonomi akibat degradasi lingkungan.
Bank Dunia memperkirakan pencemaran sampah laut saja menyebabkan kerugian lebih dari US$450 juta atau sekitar Rp7,3 triliun setiap tahun melalui dampaknya terhadap sektor perikanan, pariwisata, dan berbagai jasa ekosistem.
"Karena itu, investasi pada pemulihan ekosistem laut tidak lagi dipandang semata sebagai kegiatan sosial perusahaan, melainkan menjadi bagian dari strategi membangun ekonomi pesisir yang lebih tangguh sekaligus mendukung agenda ekonomi biru yang berkelanjutan," kata Benny.