TRIBUN-MEDAN.com, TAPTENG - Tapanuli Tengah (Tapteng) kembali dilanda banjir bandang, Sabtu (18/7/2026).
Bencana hidrometeorologi ini tercatat untuk yang ketiga kalinya terjadi, di wilayah Tapteng.
Sebelumnya juga pernah terjadi banjir besar dalam kurum waktu berdekatan, yaitu pada pada tanggal 11 dan 16 Februari 2026.
Musibah tersebut merupakan rentetan dari bencana terparah pada 25 November 2025.
Kala itu hampir seluruh wilayah Tapteng dilanda banjir bandang dan tanah longsor hingga merusak kehidpan dan penghidupan warganya.
Otoritas setempat juga melaporkan bencana ekologis pada tahun lalu telah menelan korban jiwa dengan jumlah yang tidak sedikit.
Bencana ekologis yang disebabkan kerusakan lunglingkungan faktor aktivitas manusia hingga terjadi perubahan tatanan ekologi.
Berdasarkan data dari BPBD Tapteng, yang dirilis pada tanggal 8 Februari 2026 lalu, korban meninggal dunia sebanyak 131 jiwa, korban hilang 33 jiwa, dan warga yang mengungsi sebanyak 1.469 jiwa.
Kembali pada peristiwa banjir terbaru, Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Tapteng, juga telah merilis sebaran wilayah terdampak banjir.
Plh Kalaksa BPBD Tapteng Ardiansyah Harahap, dalam siaran pers pascabanjir, bahkan menyajikan informasi kronologi dan titik lokasi terdampak.
1. Wilayah Kecamatan Tukka
Kelurahan Sipange: Tingginya curah hujan memicu kenaikan debit air Aek Sigala-gala. Luapan air sungai tersebut dilaporkan sempat memasuki pemukiman dan merendam rumah warga.
Kelurahan Hutanabolon: Luapan air dari Sungai Aek Harse dan Aek Sigala-gala akibat hujan deras merendam sejumlah rumah warga di wilayah tersebut.
Kelurahan Bonalumban: Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan jebolnya tanggul Aek Siaili. Akibatnya, air meluap dengan cepat ke pemukiman warga dengan ketinggian mencapai pinggang orang dewasa.
2. Wilayah Kecamatan Badiri
Luapan Sungai Lopian akibat hujan deras menggenangi badan jalan utama. Kondisi ini, sempat mengganggu arus lalu lintas dan membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas.
3. Wilayah Kecamatan Pinangsori.
Kelurahan Pinangsori: Tingginya volume hujan membuat parit atau saluran drainase tidak mampu menampung air, sehingga meluap ke badan jalan dan merendam rumah-rumah warga sekitar.
4. Wilayah Kecamatan Sarudik.
Kelurahan Pondok Batu: Hujan deras juga memicu kenaikan debit air sungai di wilayah tersebut. Namun, berdasarkan pantauan berkala, kondisi, di Kelurahan Pondok Batu, dilaporkan masih dalam batas aman.
Laporan terbaru dari Pusdalops BPBD Tapteng pada 18 Juli malam, menyatakan kondisi banjir di wilayah terdampak sudah berangsur surut.
"Meski demikian, tim penyelamat masih bersiaga di lokasi-lokasi banjir untuk mengantisipasi cuaca buruk susulan," kata Ardi.
Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) membuka posko kesehatan di lokasi pengungsian Gereja HKBP Sipange, Sabtu 18 Juli 2026. Langkah cepat ini diambil untuk menjamin pelayanan medis bagi warga terdampak bencana yang kini bertahan di penampungan.
Posko pengungsian di Gereja HKBP Sipange saat ini tercatat menampung sebanyak 25 Kepala Keluarga beserta Anggota Keluarga.
Kepala Dinas Kesehatan Tapteng, Lisnawati Panjaitan, SKep., Ns., MKes., menyatakan bahwa pembukaan posko kesehatan ini merupakan bentuk respons cepat pemerintah daerah dalam melindungi warga yang sedang mengungsi agar tidak rentan terserang penyakit.
"Kesehatan warga di pengungsian adalah prioritas utama kami. Melalui posko ini, tim medis akan bersiaga penuh untuk memantau dan memberikan pengobatan langsung kepada warga yang membutuhkan," ujar Lisnawati Panjaitan.
Selain membuka posko kesehatan, Dinas Kesehatan Tapteng juga menyalurkan sejumlah bantuan logistik esensial yang sangat dibutuhkan di lokasi penampungan, di antaranya obat-obatan, selimut untuk menjaga kehangatan pengungsi, serta pampers bagi anak-anak dan balita.
(*/ Tribun-medan.com)