Final Piala Dunia 2026: Bola Menolak Rumus, Feeling Terus Menggelinding dari Layar ke Layar
AS Kambie July 20, 2026 08:06 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Pertandingan final pun tersaji, Senin pagi, 20 Juli 2026. Suara adzan Subuh bersahutan di Paratambung, Tamalate, Makassar. Menara masjid seakan saling over panggilan. Bahkan sejak babak kedua baru saja dimulai.Mereka yang “berani” meninggalkan layar, buru-buru melangkah kembali.

Sayang. Bukan pertandingan puncak. Laga terakhir Piala Dunia 2026. Tak ada yang puncak dalam pertandingan itu. Selain hanya penguasaan bola Spanyol yang puncak. 

Lionel Messi membuat banyak orang kecele. Bukan karena golnya. Bukan pula karena umpan ajaibnya. 

Mereka yang sejak malam menunggu duel dua generasi, Lionel Messi dan Lamine Yamal, harus mengubah ekspektasi. Nama besar yang selama turnamen menjadi pusat perhatian justru memulai laga terakhir Piala Dunia dari luar lapangan.

Mungkin Lionel Scaloni punya hitung-hitungan sendiri. Tetapi publik juga punya hitung-hitungan.Termasuk Geng Makassar.

Sebab selama Piala Dunia 2026, Messi bukan lagi sekadar seorang pemain. Namanya sudah menjadi pusat dari begitu banyak percakapan. Dari kekaguman, pembelaan, kecurigaan, hingga petisi jutaan tanda tangan yang menuding Argentina mendapat jalan istimewa menuju final.

Di Kaluppang, Pinrang, Alimuddin Budung bahkan sudah lebih dahulu mabbaca. Sanrona Argentina dari Pinrang sudah yakin. Doa sudah dipanjatkan. Makanan sudah dihidangkan. Argentina tinggal bermain.

Namun di Parangtambung, Makassar, suara azan Subuh datang ketika pertandingan belum juga memberikan apa yang sejak awal dijanjikan oleh kata final. Orang-orang beranjak ke masjid.

Sebagian meninggalkan layar dengan berat hati. Sebagian mungkin masih menengok ponsel. Lalu buru-buru kembali. Takut kehilangan momen. Ternyata, yang tertinggal tidak banyak. Spanyol masih menguasai bola. Argentina masih menunggu.Dan Messi masih menjadi pertanyaan.

Final yang selama berhari-hari dibangun oleh prediksi, ritual, petisi, doxa, orthodoxy, dan heterodoxy itu seperti sedang mengajarkan satu hal:sepakbola selalu lebih keras kepala daripada semua ramalan.

Jalannya Pertandingan

Pertandingan belum dimulai, Geng Makassar sudah lebih dahulu menentukan pemenang.

Nasran Mone membuka gelanggang. Pukul 23.50 Wita, sebuah video pendek dilempar ke grup. Dua bola bergambar bendera Spanyol dan Argentina menggelinding beradu cepat. Keduanya menuju bibir laut. Bola Spanyol selamat dan menyentuh bendera. Bola Argentina menghantam batu. Hancur.

“Ok birulaaaah,” tulis Nasran.

Entah dari mana video itu diperoleh. Yang jelas, hasil final sudah lebih dahulu ditentukan oleh algoritma media sosial. Argentina kalah sebelum kick-off. 

Anggota Geng Makassar lainnya punya cara berbeda menikmati final.

Ronny De Fretes mengirim suasana nonton bareng di kediaman Ketua Umum Peradi, Prof Dr Harris Arthur Hedar. Pendukung Argentina berbaju biru-putih. Pendukung Spanyol berbaju merah.

Di tempat lain, layar televisi bahkan dipasang di ruang terbuka. Ada yang menonton beramai-ramai. Ada pula yang hanya ditemani makanan ringan.

Piala Dunia memang sedang dimainkan di Amerika. Tetapi final juga berlangsung di Makassar. Di layar. Di warung. Di rumah. Dan, tentu saja, di Geng Makassar.

Begitu pertandingan berjalan, optimisme terhadap Argentina mulai berhadapan dengan fakta lapangan. 

“Tempo tinggi. Luar biasa style serangannya Spanyol,” tulis Farid M. Ibrahim.

Husain Abdullah lebih dramatis. “Argentina dibikin kayak tenggelam di sungai. Ngeri Spanyol.”

Farid melanjutkan “Beautiful football dimainkan Spanyol.” Pemain Spanyol, katanya, mengandalkan skill individual dan stamina tinggi.

Husain Abdullah terus mencoba memancing Najib Latandang keluar arena. 

NL tak bergeming. “Coach NL menunggu hasil pertandingan ketua.” Kali ini Subhan Mappaturung memancing Legenda Hidup PSM Makassar itu masuk gelanggang.

“Mode Masjid Al Abrar,” balas Husain Abdullah.

Farid menerima umpan pendek dari Subhan Mappaturung, “Menunggu siaran ulang. Kalau siaran ulang tak berlaku feeling.” NL tetap tenang hingga hydration break. “Tak terasa break mi,” ujar Andi Suruji.

Belum ada gol. Tetapi Geng Makassar sudah membaca arah angin. Spanyol menekan. Argentina bertahan.

Bola lebih banyak berada di kaki pemain Spanyol. Serangan datang bergelombang. Argentina seperti dipaksa menjadi penonton dalam pertandingan yang seharusnya mereka mainkan.

“Pemain Spanyol menari-nari di lapangan... pemain Argentina seperti diopspek,” tulis Farid.

Husain Abdullah punya catatan lebih statistik, “Tanjung Verde senyum-senyum lihat dua tim finalis yang pernah dia bikin sport jantung.”

“Belum ada tendangan Argentina mengarah ke gawang. Sebaliknya, Spanyol sudah 2-3 kali memaksa kiper Argentina lakukan penyelamatan,” tambah Husain Abdullah.

Satu menit kemudian, Pahir Halim mencoba men-delay permainan. 

“Melambat permainan,” tulis Pahir Halim.

“Iya, Spanyol turunkan ritme permainan,” balas Husain Abdullah.

“Spanyol masih sulit bongkar pertahanan Argentina,” tulis Pahir Halim.

Subhan Mappaturung mencoba memecah kebuntuan.

“Pertandingan Inggris bs Prancis serasa final ketua. Main terbuka, boros gol, open bill ki,” tulis Subhan Mappaturung.

Lalu datang laporan yang mungkin paling menyakitkan bagi para pemuja Sang Messiah.

“Messi baru dua kali sentuh bola... Spanyol dominasi penguasaan bola,” tulis Farid.

Husain menimpali pendek “Mate bale.” Bahasa Bugis, artinya “Ikan sudah mati.” Ungkapan ini biasa digunakan menggambarkan sesuatu yang diluar spektasi.

“Hilang tombol dewanya. “Messi dianggap tidak ada,” tambah Husain Abdullah.

Final seperti sedang mempermainkan semua narasi yang dibangun sebelum pertandingan. Selama berhari-hari orang berbicara tentang Lionel Messi. 

Tentang Piala Dunia terakhirnya. Tentang kemungkinan mahkota terakhir. Tentang Argentina yang disebut-sebut mendapat jalan mulus. Bahkan tentang mabbaca Alimuddin Budung di Kaluppang.

Tetapi di lapangan, Messi justru seperti hilang.

“Messi jarang-jarang dapat bola,” tulis Ola La Mallawangeng.

Sebaliknya, dua kata muncul dari anggota grup, “Yamal Top.”

Begitulah Geng Makassar.

Doxa yang dibangun berhari-hari bisa runtuh hanya dalam beberapa menit pertandingan.

Yang sebelumnya yakin Argentina mulai ragu. Yang menjagokan Spanyol mulai bersuara.

Yang menunggu Messi mulai mencari-cari Messi.

Namun pertandingan belum selesai. 

Dan seperti kata Pahir Halim ketika serangan Spanyol kembali mengalir: “Semakin hidup ki serangan Spanyol.”

Final masih berjalan. Begitu pula Geng Makassar. Sebab dalam sepak bola, 90 menit bukan hanya waktu untuk menentukan juara. Ia juga waktu yang cukup untuk membuat orang berpindah-pindah antara keyakinan, keraguan, harapan, dan kenyataan.

Babak II Geng Makassar

Spanyol terus menyerang. Tetapi Argentina tidak juga roboh.

Pertahanannya justru mulai mendapat pengakuan.

“Pertahanan Argentina layak dapat jempol,” tulis Husain Abdullah.

Harris Hody masih menggoda. “Baling-baling bambu,” tulisnya ketika William disebut-sebut sebagai andalan.

Husain Abdullah membalas, “Sabar Om. Messi masih lari-lari. Lama-lama ditarik keluar.”

Tawa pun berhamburan. Messi memang ada di lapangan. Tetapi kehadirannya nyaris tidak terasa.

“Panggolo lemo mi ini Messi,” tulis Anno Suparno. Dia mencoba menghidupkan semangat lama di Geng Makassar.

Geng Makassar mulai kehilangan kesabaran menunggu keajaiban. Argentina mulai bermain keras. Kartu keluar. Enzo Fernandez bahkan akhirnya mendapat kartu merah.

“Berat tanpa Enzo Fernandes,” kata Husain.

Farid M Ibrahim lebih kecewa lagi, “Bertahan terus Argentina 2 x 45 menit. Padahal kita tunggu serangan-serangan cantiknya Messi.”

Angka di layar kemudian mempertegas apa yang sejak tadi dibicarakan Geng Makassar.

Spanyol enam percobaan. Argentina nol.

Husain Abdullah mulai membaca satu-satunya jalan keluar, “Cari adu penalti Argentina. Menyerah mi hadapi Spanyol.”

Farid tak tahan lagi, “Paccei permainannya Argentina. Tidak sesuai predikatnya sebagai juara dunia.”

Bahkan kemenangan Argentina, kalaupun akhirnya datang, mulai dianggap hanya mungkin melalui satu jalan: bertahan selama mungkin, mengulur waktu, lalu menyerahkan nasib kepada adu penalti.

Tetapi sepakbola kadang menghukum tim yang terlalu lama berharap kepada waktu.Menit ke-106. Ferran Torres. Gol. Spanyol 1. Argentina 0. Geng Makassar meledak.

“Ancur,” tulis Pahir Halim. “Pantas tawwa menang.”

“Anaknya Fernando Torres memang DNA striker,” ujar Husain Abdullah.

Husain Abdullah menyebut rangkaian nama, “Yamine-William-Ferran golll.....”

Farid M Ibrahim hanya membutuhkan satu kata: Alhamdulillah.

Geng Makassar Temukan Juara

Di tempat nonton bareng, orang-orang melompat. Tangan terangkat. Video kegembiraan segera masuk ke grup.

“Habis cemilan,” komentar Husain Abdullah.

Tetapi pertandingan belum benar-benar selesai.

Anno Suparno mengingatkan, “Masih ada 10 menit.”

Husain menjawab, “Buat tambah gol.”

Argentina tetap tidak menemukan jalan. Messi yang ditunggu-tunggu tak kunjung menjadi Messi yang dibayangkan. Waktu terus habis. Lima menit. Satu menit. Tiga puluh detik.

Lalu, di saat Spanyol semakin dekat dengan gelar juara dunia, percakapan Geng Makassar kembali kepada tema yang sejak semifinal tak pernah selesai. Feeling.

Najib Latandang masuk.

Legenda PSM Makassar itu seperti sedang menunggu waktu yang tepat untuk menagih sebuah tesis. “Ini Spanyol vs Argentina tidak bisa lagi pakai hitung-hitungan atau prediksi. Memang harus pakai feeling mami.”

Subhan Mappaturung menyambut, “Cocok coach. Feeling ini.”

Najib semakin yakin, “Tidak ada rumus bisa hitung ini, Pak Dr Subhan.”

Lalu Najib bercerita. Ketika ditanya siapa yang akan menang, jawabannya datang bukan dari strategi. Bukan dari statistik. Bukan pula dari taktik.

“Pakai mi perasaan (feeling). Susah saya jelaskan kalau pakai strategi atau taktik.” Arman Arfah tertawa.

Najib seperti menemukan permainannya kembali. “Anjo pasewa-sewa pantara ka, Pak Dr Subhan, langsung ji bertanya, ‘Yang mana ini menang?’ Langsung ji saya jawab, ‘Pakai perasaan (feeling)’. Susah saya jelaskan kalau pakai strategi atau taktik,” tulis Najib Latandang.

Dia memakai diksi Bahasa Makassar, “pasewa-sewa pantara”. Artinya, mereka yang suka saling sewa-menyewa dalam pertandingan. Bahasa lazimnya: judi.

“Yayaya pakai rumus mimpi coach,” balas Arman Arfah.

Najib membalas, “Ini lebih cocok.” Lalu datang kalimat penutupnya, “Cantik memang itu bola tawwa.”

Dan di situlah mungkin seluruh percakapan Geng Makassar tentang Piala Dunia menemukan muaranya. 

Berhari-hari mereka berdebat. Tentang statistik. Tentang ranking FIFA. Tentang taktik. Tentang sejarah. Tentang Messi. Tentang prediksi Joachim Klement. Tentang mabbaca Alimuddin Budung. Tentang doxa. Bahkan tentang feeling Najib Latandang.

Pada akhirnya, Spanyol menang 1-0 setelah perpanjangan waktu.

Gol Ferran Torres pada menit ke-106 mengakhiri perjalanan Argentina. Lionel Messi gagal mendapatkan mahkota terakhir yang dibayangkan banyak orang.

Namun Geng Makassar mendapatkan sesuatu yang lain. Sebuah pembenaran bagi Najib Latandang.

Bahwa sepakbola memang bisa dihitung. Bisa dianalisis. Bisa dibaca melalui statistik, taktik, ranking, sejarah, bahkan teori sosial.

Tetapi ketika bola sudah menggelinding, semua rumus bisa ambruk. Di luar batas itulah Geng Makassar punya satu kata sederhana. Feeling. Atau, meminjam Najib Latandang “Tidak ada rumus bisa hitung ini, Pak Dr Subhan.”

Mungkin karena itulah sepakbola terus ditonton. Kalau semuanya bisa dihitung, barangkali Piala Dunia cukup dimainkan di kalkulator.

Lapangan Lain Juga Sengit

Di WAG lain, Info Alumni Sosiologi Unhas, pertandingan yang sama menghasilkan kegaduhan yang hampir serupa.

Teriakan bersahutan. “Goooollll...” “Vaaaarrrr...”

Rahmat Muhammad, Guru Besar Sosiologi Unhas, bahkan sempat meminta wasit segera meniup peluit.

“Recuuuu wasit FAFI, gooollll dianulir pacceeee tong.”

Suryani membalas, “Marecuuuu siiii.”

Ketika gol akhirnya tercipta, teori sosial tampaknya ikut ditinggalkan sejenak.

“Goooooolllll.”

“Goooooollll.”

Tak ada lagi paradigma fakta sosial. Tak ada definisi sosial. Tak ada perilaku sosial.

Yang ada hanya gol.

Ada yang sempat mengingatkan, “Tunggu VAR, kaka Tetta.”

Rahmat membalas dengan stiker tertawa. 

“Vaaaarrrr,” teriaknya.

Tak lama kemudian, Rahmat mengunggah fotonya sendiri mengenakan jersey merah Spanyol. Tangan kanannya mengepal.

“Cukup foto yang teriaaakkk,” tulisnya.

Gol ternyata bukan sekadar peristiwa di lapangan. Gol telah berpindah ke layar telepon. Menyeberang dari stadion ke ruang keluarga, tempat nonton bareng, Geng Makassar, hingga grup alumni sosiologi.

Jenny Mardiana Amir menulis, “Akhirnya.”

Rahmat kembali menggoda soal VAR, “malu-malu mi VAR tetta.”

Ketika pertandingan berakhir, Suryani menulis, “Yesssss.”

Harmin mengirim bendera Spanyol. Selesai. Spanyol juara dunia.

Tetapi pagi itu memperlihatkan sesuatu yang mungkin lebih menarik daripada skor 1-0.

Pertandingan hanya berlangsung di satu lapangan. Tetapi final berlangsung di banyak tempat.

Di stadion, pemain berlari mengejar bola.

Di Geng Makassar, Najib Latandang mempertahankan feeling.

Di Info Alumni Sosiologi Unhas, profesor, doktor, dan alumni berteriak gol, memanggil VAR, mengirim stiker, tertawa, lalu mengibarkan bendera Spanyol.

Inilah yang mungkin disebut Emile Durkheim sebagai efervesen kolektif dalam bentuk digital.

Orang-orang tidak berada dalam satu tribun. Tidak duduk dalam satu ruangan. Bahkan mungkin terpisah puluhan hingga ribuan kilometer.

Namun pada menit yang sama, mereka marah bersama. Menunggu bersama. Berteriak bersama. Dan merayakan bersama.

Stadionnya tidak lagi memiliki tembok. Tribunnya bernama WhatsApp.

Final Piala Dunia 2026 ternyata bukan hanya mempertemukan Spanyol dan Argentina.

Ia juga mempertemukan orang-orang yang berjauhan dalam satu waktu sosial yang sama.

Dan mungkin di situlah sepakbola terus membangun kekuatannya yang lain. Bola menggelinding di lapangan, tetapi emosi menggelinding dari satu layar ke layar yang lain.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.