TRIBUNNEWS.COM – Pelatih Timnas Spanyol, Luis de la Fuente, mengaku bangga setelah sukses mengantarkan La Roja menjuarai Piala Dunia 2026 usai mengalahkan Argentina dengan skor 1-0 lewat sepakan Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu di Stadion MetLife, Senin (20/7/2026) dini hari WIB.
Kemenangan tersebut memastikan Spanyol meraih gelar Piala Dunia kedua sepanjang sejarah sekaligus melengkapi kesuksesan mereka setelah menjuarai Euro 2024.
Keberhasilan itu terasa semakin istimewa karena La Roja juga mencatatkan rekor sebagai tim juara dengan jumlah kebobolan paling sedikit sepanjang sejarah Piala Dunia.
Perjalanan Spanyol menuju tangga juara memang layak mendapat apresiasi. Sepanjang turnamen, mereka hanya kebobolan satu gol, yakni saat menyingkirkan Belgia dengan skor 2-1 di babak perempat final.
Penampilan paling impresif ditunjukkan ketika Spanyol menumbangkan Prancis dengan skor 2-0 di babak semifinal, meski Les Bleus datang dengan skuad bertabur bintang.
Football Enthusiast Bimo Adhy Nugroho menilai performa La Roja sepanjang turnamen membuktikan bahwa mereka memang pantas keluar sebagai juara.
"Spanyol itu menunjukkan mereka benar-benar layak. Tim yang selengkap Prancis dibuat tak berdaya sama Spanyol," kata Bimo Adhy Nugroho dalam podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Setelah pertandingan selesai, Luis de la Fuente pun menyebut skuad yang dimilikinya sebagai generasi emas yang telah memenangkan segalanya.
"Saya sangat bangga dengan generasi pesepak bola ini yang terus berkembang dengan filosofi ini, memberikan contoh sebuah kelompok, sebuah tim, sebuah keluarga. Mendampingi mereka dalam perjalanan ini adalah suatu kehormatan bagi saya," ujar De la Fuente dalam konferensi pers seusai pertandingan, dikutip dari Worldsoccertalk.
Pelatih berusia 65 tahun itu mengungkapkan suasana emosional di ruang ganti setelah peluit panjang dibunyikan. Menurutnya, para pemain menyadari bahwa mereka baru saja mencatatkan sejarah baru bagi sepak bola Spanyol.
"Kami telah banyak berbicara dengan para pemain. Mereka berkata kepada saya, 'Pak, kami telah memenangkan segalanya, segalanya.' Mereka adalah contoh bagi generasi muda Spanyol dan bagi negara ini. Bersama-sama kita lebih kuat," katanya.
Baca juga: Hadiah Spanyol Juara Piala Dunia 2026: Kantongi Ratusan Miliar Rupiah hingga Cincin Eksklusif
Meski harus menunggu hingga babak tambahan waktu untuk memastikan kemenangan lewat gol Ferran Torres pada menit ke-106, De la Fuente menilai timnya sebenarnya layak mengakhiri pertandingan lebih cepat.
Sepanjang laga, Spanyol mendominasi permainan dengan terus menekan pertahanan Argentina dan menciptakan sejumlah peluang berbahaya.
Namun, penampilan gemilang Emiliano Martinez di bawah mistar gawang membuat La Roja berkali-kali gagal mencetak gol pada waktu normal.
"Saya percaya pertandingan seharusnya bisa ditentukan lebih cepat. Penyelamatan hebat Dibu (Emiliano Martinez) mencegah pertandingan berakhir lebih awal. Tetapi karena kami terus berjuang, kami menunjukkan bahwa kami siap menghadapi apa pun," tutur De la Fuente.
Penampilan Emiliano Martinez memang menjadi salah satu alasan Argentina mampu bertahan hingga babak perpanjangan waktu.
Kiper Aston Villa itu tampil luar biasa dengan membukukan 11 penyelamatan sepanjang pertandingan.
Meski akhirnya harus memungut bola dari gawangnya setelah Ferran Torres memecah kebuntuan, penampilan tersebut menjadi catatan individu terbaik Martinez sepanjang kariernya di ajang Piala Dunia.
Sebagai perbandingan, dalam 14 pertandingan Piala Dunia sebelumnya bersama Argentina, Martinez hanya mencatatkan total 16 penyelamatan.
Artinya, hampir 70 persen dari seluruh penyelamatannya di Piala Dunia tercipta hanya dalam satu pertandingan, yakni final melawan Spanyol.
Meski tampil heroik, Martinez tetap tidak mampu menghindarkan Argentina dari kekalahan sekaligus menggagalkan ambisi Lionel Messi dan kolega untuk mempertahankan gelar juara dunia.
Di sisi lain, lini depan Argentina tampil di bawah performa terbaiknya. Selama 90 menit waktu normal, La Albiceleste bahkan gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran.
Dengan kata lain, pemain sekelas Lionel Messi yang mencetak 8 gol pun dibuat tak perdaya.
Catatan tersebut menjadi rekor terburuk di final Piala Dunia 2026, yakni untuk pertama kalinya sebuah tim gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang waktu normal.
Keberhasilan menaklukkan sang juara bertahan semakin menegaskan dominasi Spanyol di pentas sepak bola internasional dalam dua tahun terakhir.
Setelah mengangkat trofi Euro 2024, La Roja kini melengkapinya dengan gelar Piala Dunia 2026.
Pencapaian tersebut mengukuhkan era kepelatihan Luis de la Fuente sebagai salah satu periode paling gemilang dalam sejarah sepak bola Spanyol.
(Tribunnews.com/Ali)