5 Daerah dengan Angka Kematian Anak Terendah di Sumatra Selatan
Yandi Triansyah July 20, 2026 12:27 PM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Kualitas pelayanan kesehatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah dapat diukur dari bagaimana mereka melindungi generasi masa depannya.

Salah satu indikator kunci untuk menilai kondisi tersebut adalah Angka Kematian Anak (AKA).

Semakin rendah angka kematian anak, semakin baik pula potret pemenuhan hak kesehatan dasar, gizi, serta fasilitas sanitasi di daerah tersebut.

Kabar baik berembus dari Bumi Sriwijaya. Provinsi Sumatra Selatan secara kolektif mencatatkan tren positif dalam perlindungan anak.

Baca juga: 5 Daerah dengan Kematian Balita Tertinggi di Sumsel, Empat Lawang hingga Muratara

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, angka kematian anak di tingkat provinsi berhasil ditekan dari yang semula berada di angka 2,84, kini menyusut menjadi 2,41.

Meskipun angka rata-rata provinsi berada di 2,41, grafik performa di tingkat kabupaten dan kota menunjukkan pencapaian yang lebih progresif.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Senin (20/7/2026) menunjukkan bahwa wilayah perkotaan (urban) mendominasi capaian terbaik dalam menekan angka kematian anak.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai 5 daerah dengan angka kematian anak terendah di Sumatra Selatan:

1. Kota Palembang: Sang Pelopor Layanan Kesehatan Anak

Berada di posisi puncak performa, Ibu Kota Provinsi, Palembang, sukses mengukuhkan diri sebagai daerah dengan angka kematian anak paling minim se-Sumatra Selatan. Palembang mencatatkan angka kematian anak di titik 2,12.

Keunggulan Palembang ini tidak lepas dari statusnya sebagai pusat rujukan medis utama di Sumsel.

Aksesibilitas masyarakat urban terhadap fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas) yang terakreditasi, sebaran rumah sakit ibu dan anak (RSIA), serta masifnya program posyandu terintegrasi menjadi benteng kokoh yang menekan risiko kematian dini pada anak-anak di Palembang.

2. Kota Prabumulih: Konsistensi Kota Nanas

Menempel ketat di posisi kedua adalah Kota Prabumulih. Kota yang dikenal dengan julukan Kota Nanas ini menorehkan angka kematian anak sebesar 2,14.

Sebagai kota otonom yang wilayah geografisnya relatif lebih ringkas dibanding kabupaten induk, Pemerintah Kota Prabumulih dinilai lebih responsif dalam mendistribusikan program jaminan kesehatan daerah dan intervensi gizi buruk tepat sasaran ke tingkat kelurahan.

3. Kota Lubuklinggau: Jawara dari Belahan Barat Sumsel

Kota Lubuklinggau mengunci peringkat ketiga sebagai daerah urban pelindung anak terbaik di Sumsel dengan angka 2,17.

Keberhasilan Lubuklinggau membuktikan bahwa akselerasi pembangunan infrastruktur kesehatan di wilayah barat Sumatera Selatan telah berjalan di jalur yang tepat.

Ketersediaan dokter spesialis anak dan fasilitas kedaruratan perinatal di kota ini mampu memotong rantai keterlambatan penanganan medis pada balita.

4. Kabupaten OKU Timur: Pengecualian Manis dari Sektor Agraris

Kejutan muncul di peringkat keempat melalui Kabupaten OKU Timur.

Sebagai satu-satunya daerah berbasis kabupaten non-urban di posisi empat besar, OKU Timur berhasil mencatatkan angka kematian anak yang sangat rendah, yakni di angka 2,23. 

Keberhasilan ini mengindikasikan bahwa ketahanan pangan yang kuat sebagai lumbung padi regional berkorelasi positif terhadap kecukupan gizi ibu hamil dan balita, didukung oleh jaringan bidan desa yang aktif bergerak.

5. Kabupaten Banyuasin: Pengunci Lima Besar

Kabupaten Banyuasin menutup daftar elite ini di peringkat kelima dengan torehan angka kematian anak sebesar 2,26.

Kendati memiliki tantangan geografis berupa wilayah perairan dan pasang surut yang luas, kedekatan akses wilayah daratan Banyuasin dengan fasilitas kesehatan di Kota Palembang turut memberikan andil penting dalam mempermudah akses penanganan medis darurat bagi anak-anak.

Keberhasilan Kolektif di Bawah Rata-Rata Provinsi

Hal yang paling patut diapresiasi dari kelima kabupaten dan kota di atas adalah keberhasilan mereka menekan angka kematian anak jauh di bawah ambang batas rata-rata Provinsi Sumatra Selatan yang bertengger di angka 2,41.

Penurunan AKA di lima wilayah ini menjadi potret nyata bahwa investasi jangka panjang pada sektor sanitasi lingkungan, penyediaan air bersih, pemenuhan imunisasi dasar lengkap, serta edukasi penanganan stunting telah membuahkan hasil.

Tantangan berikutnya bagi Sumsel adalah menduplikasi sistem penanganan dan kemudahan akses kesehatan di lima daerah terbaik ini ke wilayah kabupaten lain yang geografisnya lebih terpencil, agar tidak ada lagi lentera masa depan yang padam terlalu cepat di Bumi Sriwijaya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.