Hari Jadi ke-195 Bantul: Bupati Ungkap 5 Pesan, Sri Sultan Ingatkan soal Introspeksi Diri
Yoseph Hary W July 20, 2026 02:03 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL  -  Suasana di Lapangan Trirenggo, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, pada Senin (20/6/2026) pagi, terlihat berbeda. Ribuan orang tampak datang mengenakan busana jawa untuk mengikuti Upacara Hari Jadi ke-195 Kabupaten Bantul yang berlangsung khidmat.

Upacara peringatan tahun ini mengusung tema "Dharmaning Satriya Akarya Raharjaning Nagari" yakni kewajiban seorang kasatria adalah mewujudkan kesejahteraan negeri. Upacara itu pun dihadiri oleh jajaran Forkopimda DIY dan Kabupaten Bantul, seluruh anggota DPRD Kabupaten Bantul, hingga Bupati Bantul pada periode sebelumnya.

"Atas nama Pemerintah Kabupaten Bantul, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang hadir, terima kasih kepada Ngarsa Dalem (Gubernur DI Yogyakarta) yang telah memberikan petuah-petuah leluhur," ucap Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih.

Lima pesan Bupati Bantul

Dalam kesempatan itu, Bupati menyampaikan lima pesan semangat. Pesan pertama yakni, meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi seluruh masyarakat dengan meneladani semangat satriya (ksatria) para leluhur, demi mewujudkan Bantul yang maju, tangguh, dan demokratis, serta menjamin kesejahteraan warganya.

Kemudian pesan kedua yakni membuka jalan menuju kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada di wilayah Bantul, termasuk pengelolaan kawasan pesisir selatan.

Ketiga yakni membangun infrastruktur dan fasilitas yang bermanfaat serta tersebar secara merata bagi seluruh masyarakat, sebagai perwujudan keadilan sosial sekaligus sarana untuk meningkatkan kualitas hidup dan taraf penghidupan.

"Empat, menumbuhkan semangat gotong royong, kerukunan warga, dan empati bersama demi menjamin kedamaian dan ketenteraman bagi masyarakat," kata dia.

Selanjutnya, pesan kelima yakni  merevitalisasi aparatur pemerintah agar menjadi sosok yang profesional, tanggap, dan penuh empati dalam melayani masyarakat, melalui penerapan inovasi serta penguasaan teknologi informasi.

Di usia 195 tahun ini, Kabupaten Bantul berhasil memperoleh penghargaan dari berbagai lembaga pemerintah. Salah satunya, berhasil memperoleh nomor empat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia.

"IPM itu artinya bahwa sumber daya manusia di Kabupaten Bantul dinilai baik. Karena IPM itu Indeks Pembangunan Manusia. Yang dinilai itu bukan pemerintah saja, tetapi sampai ke masyarakat melalui survei dan kajian, baik melalui BRIN maupun BPS," terangnya.

Pesan Sri Sultan HB X: Instrospeksi diri

Sementara itu, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, berharap, pada puncak acara perayaan Hari Jadi Kabupaten Bantul ini, mudah-mudahan dapat berlangsung dengan lancar dan penuh khidmat tanpa halangan.

"Peringatan yang insya Allah penuh berkah dan rahmat ini, sudah tepat dan benar jika bersendikan semboyan Dharmaning Satriya Akarya Raharjaning Nagari (Kewajiban seorang kesatria adalah mewujudkan kesejahteraan negeri)," ujarnya.

Melalui hal itu, kata Ngarsa Dalem, sudah sepantasnya jajaran pemerintahan lebih dahulu melakukan introspeksi diri terhadap jalannya pemerintahan di Kabupaten Bantul ini. Sebab, hal itu dapat dijadikan sebagai langkah untuk menjawab tantangan perubahan zaman yang cepat dan dinamika alam.

"Inti dari kehidupan itu bergantung pada tiga hal yakni keberanian, harta, dan kecerdasan (kebijaksanaan). Karena, jika sampai kehilangan ketiga hal itu, maka lenyaplah martabat manusia, seperti daun jati kering yang tak berarti, akhirnya menjadi sengsara dan terlunta-lunta," papar dia.

Ungkapan winasis (cerdas) ini ditujukan kepada warga yang pandai, yang dalam semboyan disebut cerdas, tidak mudah terombang-ambing oleh angin perubahan sehingga menjadi sengsara seperti daun jati kering yang disebut dalam Pupuh Sinom tersebut.

Kehidupan warga yang sehat tidak hanya tampak pada kondisi fisik semata. Tetapi, juga memiliki kepribadian yang matang, utuh, tangguh, serta terampil dalam mengupayakan pengembangan budaya Jawa di tengah arus budaya asing. Pribadi yang matang bagaikan giri lusi janma tan kena kina, yaitu perumpamaan cacing mendaki gunung.

"Makna dari ungkapan rahasia itu adalah jangan pernah suka menyombongkan diri dan merendahkan orang lain. Orang yang sehat jiwanya tidak mudah melakukan tindakan tercela. Karena kepribadiannya sudah utuh sesuai dengan tatanan susila untuk menjalin silaturahmi yang lurus, serasi, dan benar. Itulah makna yang terkandung dalam tema peringatan hari ini," tandasnya.(nei)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.