Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dari lintasan “Jalan Hidup” berbahan kardus bekas hingga lomba membangun dunia di Minecraft, hari kedua ACD 2026 memperlihatkan pendidikan yang terhubung dengan kehidupan nyata.
Sebuah bola menggelinding di lintasan berkelok yang tersusun dari kardus dan kalender bekas. Tak jauh dari sana, anak-anak asyik bermain di sand tray raksasa, sementara dari panggung utama mengalun musik dan tarian karya siswa.
Hari kedua Aloysius Creativity Day (ACD) 2026, Jumat (17/7/2026) berlangsung semakin semarak.
Sejak pagi, kampus Sekolah Santo Aloysius Bandung dipadati siswa, orang tua, alumni, dan masyarakat yang datang menikmati pameran inovasi keberlanjutan, pentas seni, wahana bermain edukatif, belasan kompetisi kreatif, hingga bazar kuliner.
Di balik keramaian itu, semangat “Reimagining Our World: From Consciousness to Action” tetap menjadi benang merah.
Berbagai kegiatan menghadirkan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa untuk mencoba, mencipta, bekerja sama, dan menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan kehidupan nyata.
“Jalan Hidup”: Filosofi dalam Selembar Kardus Bekas
Area Aloysius Sustainability Innovation Hub(ASIH) kembali menjadi magnet pengunjung.
Salah satu karya yang ramai dikunjungi adalah proyek fisika berjudul “Jalan Hidup”, hasil kolaborasi guru dan siswa SMA dari ekstrakurikuler fisika.
“Karya ini menggambarkan perjalanan kehidupan manusia yang memiliki banyak pilihan, namun tetap menuju tujuan yang sama. Jalannya bisa ke A, B, C, tetapi akhirnya tetap menuju satu tujuan,” ujar Michelle.
Yang membuat karya ini istimewa, seluruhnya dibuat dari limbah: kardus bekas, kalender bekas, dan kertas daur ulang yang dicampur lem.
“Justru ini jadi menarik karena bisa dimainkan langsung oleh pengunjung,” katanya.
Sambil bermain, pengunjung sekaligus belajar konsep fisika, mulai dari sudut lintasan hingga pengaruh gravitasi agar bola dapat terus bergerak tanpa terhenti.
Satu karya menghadirkan beberapa pengalaman sekaligus: belajar sains, berkreasi dengan bahan yang tidak lagi terpakai, serta menemukan refleksi tentang perjalanan hidup.
Karya seperti “Jalan Hidup” menjadi salah satu contoh bagaimana ACD menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada satu bidang pengetahuan.
Melalui berbagai pengalaman yang saling terhubung, siswa diajak melihat bahwa apa yang mereka pelajari dapat bertemu dengan kreativitas, kepedulian, dan kehidupan nyata.
“Yang ingin kami hadirkan melalui ACD adalah pengalaman belajar yang utuh. Anak-anak tidak hanya belajar sains, seni, teknologi, atau lingkungan secara terpisah. Mereka belajar menghubungkan pengetahuan dengan kreativitas, kepedulian, dan kehidupan nyata. Dari situlah kami berharap kesadaran tidak berhenti pada pemahaman, tetapi bertumbuh menjadi tindakan,” ujar Dr. Ir. Sherly Iliana, M.M
Panggung yang Menumbuhkan Kepercayaan Diri
Di panggung utama, penampilan tari, musik, vokal, dan pertunjukan kreatif siswa bergantian menghibur pengunjung sepanjang hari. Momen yang mencuri perhatian datang dari para siswa termuda.
Anak-anakKB-TK tampil percaya diri melalui Fashion Show busana dari barang bekas dan Talent Show.
Panggung menjadi ruang bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan, mengekspresikan diri, dan mengalami kegembiraan saat karya serta bakat mereka mendapat apresiasi.
“Anak-anak jadi punya kesempatan menunjukkan kemampuan mereka, misalnya menyanyi atau dance. Jadi bukan hanya belajar di kelas, tapi mereka juga bisa mengembangkan bakatnya,” ujar Sisi, salah seorang orang tua. Ia juga menilai kegiatan seperti ini membangun kedekatan antar siswa dan guru melalui pengalaman kebersamaan yang berlangsung dalam suasana yang hangat dan menyenangkan.
Belajar Melalui Bermain, Bertumbuh Bersama Keluarga
Di halaman sekolah, area bermain Aksi Gerak Serukembali dipenuhi anak-anak yang bereksplorasi melalui sand tray raksasa, tanah liat, permainan gerak, ular tangga, ludo raksasa, dan berbagai aktivitas kreatif. Anak-anak mengasah kemampuan sensorik, koordinasi tubuh, keseimbangan, kreativitas, dan kemampuan berpikir.
Namun pada hari kedua, kebersamaan keluarga mendapat ruang yang lebih kuat.
Melalui lomba membuat clay dan melukis di atas kanvas bersama untuk jenjang KB-TK, orang tua dan anak duduk berdampingan, berkreasi dan menikmati proses bersama.
Di sinilah salah satu semangat ACD menemukan bentuknya: pendidikan bukan hanya perjalanan anak di sekolah, tetapi perjalanan yang tumbuh bersama keluarga.
Dari Kanvas hingga Minecraft: Arena Lomba untuk Semua Bakat
Rangkaian kompetisi ACD 2026 dirancang menyentuh spektrum bakat yang luas.
Kepedulian lingkungan diuji dalam Lomba Membuat Pakaian Daur Ulang, tempat anak-anak dari berbagai sekolah menyulap botol plastik dan tutup botol bekas menjadi kostum yang dihias sesuai imajinasi mereka.
“Kalau dari kecil sudah dibiasakan memilah sampah dan mengolahnya kembali, nanti akan menjadi karakter. Mereka jadi tahu mana sampah organik, anorganik, maupun sampah berbahaya,” ujar Nengsih, salah satu pembimbing dari peserta.
Menurutnya, kebiasaan yang ditanamkan sejak dini akan berdampak besar ketika anak tumbuh dewasa.
Dunia digital yang akrab dengan keseharian anak juga hadir sebagai ruang untuk belajar dan mencipta.
Di ranah seni, Lomba Musikalisasi Puisi mempertemukan sastra dan musik, Lomba Tari digelar secara daring melalui karya video yang membuka pintu bagi peserta untuk berkreasi tanpa batas ruang, Lomba Poster Digital, Metaverse Competition, Lomba Scratch dan Build and Craft menggunakan platform Minecraft, murid belajar merancang, membangun, dan menuangkan gagasan.
Sementara Lomba Desain Aplikasi Sustainability dan Lomba Ide Bisnis Kreatif menantang peserta melangkah lebih jauh: mengubah kepedulian menjadi gagasan dan solusi yang memberi dampak nyata.
Di sini, teknologi bukan tujuan, melainkan sarana untuk mengembangkan kreativitas sekaligus tanggung jawab.
Di lapangan olahraga, pertandingan Mini Soccerantarsekolah masih berlanjut dengan seru. Tim SD Santo Ursula, misalnya, mempersiapkan diri sekitar dua minggu berlatih shooting, passing, dribbling, hingga membangun mental bertanding.
“Kami latihan shooting, passing, dribbling, finishing, offense, defense, sama mental. Semoga bisa juara,” ujar para pemain penuh semangat.
Bagi mereka, tantangan terbesar bukan hanya soal teknik, tetapi bagaimana membangun komunikasi dan kerja sama yang tumbuh melalui pengalaman langsung di lapangan.
Suasana yang Merangkul Semua
Bazar makanan menjadi salah satu titik paling ramai sejak pagi, menghadirkan aneka kuliner dari tenant yang melibatkan siswa maupun pelaku usaha.
“Rame, pilihannya banyak, harganya juga murah-murah,” ujar Violin, siswi SMA, sambil tertawa.
Apresiasi juga datang dari para orang tua. “Meriah, rame, permainannya banyak, bazarnya juga variatif,” kata Lili, wali murid kelas III SD, yang mengapresiasi upaya Sekolah Santo Aloysius dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keberlanjutan sejak dini.
Hari kedua ACD 2026 memperlihatkan bagaimana pembelajaran menjadi hidup ketika anak-anak mendapat ruang untuk mencoba, mencipta, bermain, berkolaborasi, dan menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan kehidupan nyata.
Dari selembar kardus bekas yang menjadi media belajar fisika, kanvas yang dilukis bersama orang tua, hingga dunia yang dibangun di Minecraft, setiap pengalaman menghadirkan cara yang berbeda bagi anak untuk belajar dan bertumbuh.
Aloysius Creativity Day 2026 akan ditutup pada Sabtu, 18 Juli 2026 dan terbuka untuk umum.