Harga Sembako dan Sayuran di Muara Enim Melonjak Dua Kali Lipat, Imbas MBG Kembali Beroperasi
Odi Aria July 21, 2026 10:27 AM

SRIPOKU.COM, MUARA ENIM– Harga sejumlah bahan pokok dan sayur-mayur di Pasar Inpres Muara Enim kembali mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir.

Sejumlah pedagang menduga lonjakan permintaan dari dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu faktor yang membuat pasokan di tingkat pedagang berkurang.

Pantauan Sriwijaya Post & Tribun Sumsel di Pasar Inpres Muara Enim, Selasa (21/7/2026), harga daging ayam potong naik dari kisaran Rp33 ribu–Rp34 ribu menjadi Rp38 ribu per kilogram.

Harga telur ayam juga meningkat dari Rp22 ribu–Rp23 ribu menjadi Rp28 ribu per kilogram.

Kenaikan lebih tajam terjadi pada komoditas sayuran. Harga kacang panjang melonjak dari Rp8 ribu menjadi Rp20 ribu per kilogram atau naik sekitar 150 persen.

Tomat naik dari Rp7 ribu menjadi Rp15 ribu, mentimun dari Rp7 ribu menjadi Rp15 ribu, wortel dari Rp8 ribu menjadi Rp20 ribu, serta kentang dari Rp10 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram.

Sementara itu, harga cabai rawit naik dari Rp30 ribu menjadi Rp70 ribu per kilogram, sedangkan cabai setan meningkat dari Rp35 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram.

Agus Suryo Pramono (56), pedagang sayur di Pasar Inpres Muara Enim, mengatakan kenaikan mulai terasa sejak dapur MBG kembali beroperasi di sekolah-sekolah.

Menurutnya, tingginya permintaan dari dapur MBG membuat pasokan dari distributor ke pedagang menjadi berkurang sehingga harga di pasar ikut terdorong naik.

"Semua bahan pokok dan sayuran naik. Yang membuat kami bingung, kenaikan sayuran mencapai lebih dari 100 persen. Ini bukan sekadar naik harga, tapi sudah berubah harga," ujar Agus.

Meski demikian, Agus mengakui kenaikan harga juga dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti kondisi cuaca dan biaya distribusi. Namun menurutnya, lonjakan kali ini jauh lebih signifikan dibanding biasanya.

Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok agar masyarakat tidak terbebani.

Sementara itu, pedagang telur ayam, Kurdiansyah (50), juga mengakui harga telur naik dalam sepekan terakhir dari Rp23 ribu menjadi Rp27 ribu per kilogram.

Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan tersebut karena harga yang diterimanya sudah naik dari tingkat agen.

Akibat kenaikan harga, para pedagang mengaku omzet penjualan mulai menurun karena daya beli masyarakat ikut berkurang.

Keluhan serupa disampaikan Cut Malahayati (34), pedagang kantin sekolah. Menurutnya, kenaikan harga bahan baku membuat pedagang kecil berada dalam posisi sulit.

Jika harga jual dinaikkan, daya beli siswa menurun. Sebaliknya, jika harga tetap dipertahankan, keuntungan yang diperoleh semakin kecil.

Cut mengaku mendukung Program MBG, namun berharap pemerintah juga memberikan solusi terhadap dampak kenaikan harga kebutuhan pokok yang dirasakan masyarakat.

"Kami tidak menolak MBG. Tapi pemerintah juga harus mencarikan solusi agar harga kebutuhan pokok tidak terus naik. Jangan sampai masyarakat kecil yang menanggung dampaknya," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.