SURYA.CO.ID - Bukti-bukti bahwa Femas Yani Arianto (22), warga Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, sudah berencana kabur saat berwisata ke Korea Selatan, diungkap pihak agensinya Berani Backpacker.
Diketahui, Femas tiba-tiba memisahkan diri dari rombongan ketika pada hari pertama perjalanan wisata di Korea.
Saat rombongan diberi waktu bebas berbelanja di kawasan Myeongdong, Seoul, ia berpamitan kepada tour leader untuk mencari sepatu.
Namun, setelah itu dia tidak pernah kembali ke titik kumpul.
CEO Berani Backpacker, Fariz Ragil Ramadhani menduga Femas telah merencanakan aksinya sejak sebelum keberangkatan dari Indonesia.
Baca juga: Buntut Hilangnya Femas Pria Madiun di Korea, Agensi Didenda Rp 125 Juta, Tuding Sengaja Kerja Ilegal
Menurut dia, dugaan tersebut muncul karena Femas beberapa kali menghindari kamera saat sesi foto bersama pada hari pertama perjalanan.
"Ketika foto bersama, dia seperti sengaja tidak menampakkan diri. Malam harinya, saat peserta diberi waktu bebas untuk berbelanja, dia berpamitan hendak membeli sepatu. Sejak saat itu dia memisahkan diri dari rombongan," katanya.
Dhani juga mengungkapkan, Femas sempat menyampaikan kepada peserta lain bahwa dirinya telah membeli paket data roaming internasional selama 30 hari, meski durasi perjalanan wisata jauh lebih singkat.
"Kalau informasi itu lebih cepat kami terima, tentu kami akan melakukan pengawasan lebih ketat dan tidak membiarkannya lepas dari rombongan," ujarnya.
Sebelumnya, Dhani juga sudah koordinasi dan mendatangi langsung rumah penjamin di Kabupaten Madiun.
Tim Berani Backpacker menemukan sejumlah fakta di antaranya, Femas pernah belajar bahasa di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) khusus ke Korea.
Keluarga mengklaim Femas sudah satu bulan tidak pulang, namun tetangga sekitar melihat Femas masih menunaikan ibadah salat Jumat di kampungnya pada 26 Juni 2026, beberapa hari sebelum keberangkatan.
Sebelum izin tinggal Femas berakhir pada 13 Juli 2026, pihak Berani Backpacker mengaku telah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul, kepolisian Korea Selatan, serta mendatangi keluarga Femas di Madiun.
Menurut Dhani, pihaknya bahkan menawarkan tiket pesawat pulang secara cuma-cuma apabila Femas bersedia kembali ke Indonesia.
"Saya sudah menyampaikan langsung kepada ibunya. Kalau Femas tidak punya tiket pulang, kami siap membelikannya secara gratis," katanya.
Dhani menyebut Femas sempat bekerja secara ilegal di Korea Selatan setelah memisahkan diri dari rombongan pada hari pertama perjalanan.
Dugaan tersebut diperoleh berdasarkan informasi yang diterima dari komunitas warga negara Indonesia (WNI) di Korea Selatan.
"Kami mulai melacak keberadaan Femas sejak hari pertama laporan diterima. Berdasarkan informasi dari komunitas WNI di sana, dia sempat bekerja, tetapi tidak betah, lalu kembali lagi ke masjid," ujar Fariz, Senin (20/7/2026).
Menurut Fariz, hasil penelusuran menunjukkan Femas sempat berpindah-pindah lokasi setelah meninggalkan tempat kerjanya.
Salah satu lokasi yang sempat terlacak ialah Masjid Ansan di Provinsi Gyeonggi-do.
"Femas ada di Ansan. Polisi sudah ke sana, tetapi dia bersembunyi di masjid. Polisi tidak bisa masuk karena itu tempat ibadah. Selain itu, kasusnya masih urusan imigrasi, belum masuk kategori criminal case," katanya.
Dhani mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, aparat kepolisian Korea Selatan tidak dapat langsung melakukan penindakan terhadap seseorang yang berada di dalam rumah ibadah.
Menurut dia, petugas baru dapat mengambil tindakan apabila yang bersangkutan telah keluar dari area masjid.
Namun, ketika petugas mendatangi Masjid Ansan, pengurus masjid menyampaikan bahwa Femas sudah tidak berada di lokasi.
"Kami terus mengumpulkan data lokasi dan informasi terbaru. Berdasarkan informasi yang kami terima, yang bersangkutan pindah ke sebuah penginapan kecil yang diduga masih berada di sekitar kawasan masjid itu," ujarnya.
Dhani yang bertahun-tahun berkecimpung di industri pariwisata mengakui bahwa modus penyalahgunaan visa liburan untuk bekerja secara ilegal di luar negeri sudah sering terjadi.
Namun, banyak agensi memilih menutup rapat kasus ini demi menjaga nama baik.
"Kalau jujur, modus seperti ini sebenarnya sudah cukup sering terjadi. Hanya saja selama ini banyak travel memilih menyelesaikannya secara internal, jadi tidak banyak yang sampai terekspos ke publik," jelas Dhani.
Setelah kasus Femas viral, Dhani justru dibanjiri pesan dari para WNI yang menetap di Korea Selatan.
Mereka membagikan informasi mengenai keberadaan kantong-kantong komunitas WNI yang kerap dijadikan tempat bersembunyi bagi pekerja migran ilegal.
"Dari informasi yang saya terima, memang ada komunitas WNI di beberapa daerah yang menjadi tempat berkumpul. Hal itu membuat orang yang overstay (melebihi izin tinggal) atau bekerja secara ilegal lebih mudah berbaur dan berpindah-pindah," lanjutnya.
Semua data tersebut kini telah diteruskan Dhani ke pihak imigrasi dan otoritas pemerintah setempat di Korea Selatan.
Menurut Dhani, iming-iming gaji besar menjadi pemikat utama mengapa banyak oknum nekat menempuh jalur pintas ini, tanpa memikirkan dampak panjangnya.
"Kebanyakan karena tergiur ingin bekerja di luar negeri menggunakan visa wisata. Padahal visa wisata itu diperuntukkan untuk berlibur, bukan untuk bekerja. Mungkin yang dilihat hanya peluang penghasilannya, tapi risikonya tidak dipikirkan," kata Dhani.
Risiko fatal seperti deportasi dan masuk dalam daftar cekal (blacklist) kini menghantui Femas.
Tak hanya itu, reputasi pariwisata Indonesia juga dipertaruhkan, yang bisa berdampak pada pengetatan pengajuan visa bagi turis Indonesia lainnya di masa depan.
Meski telah menempuh jalur hukum terhadap pihak penjamin Femas di Indonesia, Dhani menegaskan bahwa pihak travel masih membuka pintu komunikasi yang baik.
Pihaknya bahkan siap membiayai kepulangan Femas.
"Kami berharap Femas segera pulang ke tanah air. Dan jika tidak memiliki tiket pulang, kami siap membelikannya," pungkas Dhani.
Muatin alias MT, ibu Femas mengatakan tidak tahu menahu tentang keberangkatan anak laki-lakinya tersebut.
"Tidak tahu kalau berangkat ke Korea, pamitnya ke saya mau berangkat ke Surabaya," kata MT, Minggu (19/7/2026).
MT menyebutkan, Femas merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sehari-hari ia hanya di rumah, alias belum bekerja.
Oleh karena itulah ia juga penasaran dari mana anaknya tersebut mendapatkan uang untuk berangkat ke Korea.
"Sehari-hari hanya di rumah, tidak kuliah, tidak kerja," lanjutnya.
MT menyebutkan Femas merupakan sosok pendiam, dan tidak banyak bertingkah aneh-aneh. Kesehariannya hanya antar jemput adiknya yang baru duduk di bangku PAUD.
MT tinggal di Desa Bantengan bersama Femas dan adiknya. Sementara anaknya yang nomor satu sudah tinggal bersama suaminya.
MT sendiri saat ini hidup dalam kesederhanaan setelah suaminya meninggal dunia 4-5 tahun yang lalu. Usaha jual beli pupuk yang dirintis suaminya tidak bisa berjalan seperti sedia kala saat sang suami masih hidup.
"Makanya saya tidak tahu (Femas) dapat uang dari mana. Saya tidak ngasih (memberi) uang sehari-hari," lanjutnya.
Hingga kini MT belum mendapatkan kabar apapun dari anaknya tersebut. Ia juga tidak bisa menghubungi Femas sejak keberangkatan nya ke Korea.
"Ya semoga anak saya diparingi umur panjang, badannya sehat di mana pun dia berada," pungkasnya.