SURYA.co.id, JOMBANG – Saat sebagian besar santri menghabiskan waktu luang dengan mengaji atau beraktivitas di lingkungan pesantren, Shanum Anjanique justru memilih menantang langit.
Di balik kesehariannya sebagai siswi kelas VII SMP Sains Tebuireng Jombang, remaja berusia 13 tahun itu menekuni olahraga paralayang hingga sukses mengukir prestasi di tingkat Jawa Timur.
Santri asal Pacitan tersebut meraih juara II kategori siswa putri nomor ketepatan mendarat dalam Liga Paralayang Jawa Timur Seri I 2026 yang berlangsung di Gunung Banyak, Kota Batu, pada 17–19 Juli 2026.
Baca juga: Ribuan Kader IPNU dan IPPNU Jombang Siap Sukseskan Muktamar ke-35 NU
Di tengah persaingan ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur, Shanum tampil tenang saat mengendalikan parasut hingga mendarat tepat di titik sasaran.
Hasil itu mengantarkannya berdiri di podium kedua di bawah atlet asal Mojokerto, sementara posisi ketiga ditempati peserta dari Madiun.
Bagi Shanum, medali tersebut bukan sekadar penghargaan.
Prestasi itu menjadi hasil dari proses panjang yang dimulai dari rasa penasaran saat beberapa kali mencoba penerbangan tandem.
Sensasi melayang di udara membuatnya jatuh hati pada olahraga dirgantara tersebut.
Sejak duduk di bangku kelas IV SD Alam Pacitan, Shanum mulai mempelajari teknik dasar ground handling di Lapangan AURI Pacitan.
Latihan demi latihan dijalaninya dengan disiplin hingga akhirnya lolos menjadi atlet binaan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Paralayang Kabupaten Pacitan ketika masih duduk di kelas VI sekolah dasar.
Kemampuannya semakin berkembang setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan atlet yang diselenggarakan Dinas Kepemudaan dan Olahraga Jawa Timur di Saradan dan Kota Batu. Bekal tersebut menjadi modal penting untuk tampil di berbagai kejuaraan.
Meski kini menjalani pendidikan di lingkungan pesantren, semangat Shanum untuk terus mengembangkan kemampuannya di dunia paralayang tidak surut.
Dukungan dari SMP Sains Tebuireng membuatnya tetap bisa mengikuti berbagai kompetisi tanpa mengabaikan kewajibannya sebagai pelajar dan santri.
Orang tua Shanum, Hari DC, menyebut keberhasilan putrinya merupakan buah dari latihan yang dijalani secara konsisten selama bertahun-tahun.
"Alhamdulillah, Shanum berhasil meraih juara dua. Kami berterima kasih kepada SMP Sains Tebuireng yang telah memberikan izin, juga kepada FASI Paralayang Pacitan dan Pengurus Paralayang Jawa Timur yang terus membina dan memberikan kesempatan bagi Shanum untuk berkembang," ucap Hari DC kepada SURYA.co.id, Senin (20/7/2026).
Di luar dunia paralayang, Shanum juga menggemari olahraga selancar (surfing).
Dua cabang olahraga ekstrem itu sama-sama menuntut keberanian, keseimbangan, serta kemampuan membaca kondisi alam.
Prestasi di Gunung Banyak menjadi langkah penting dalam perjalanan atlet muda tersebut. Masih banyak kejuaraan yang ingin diikuti dan target prestasi yang ingin diraih.
Bagi Shanum, terbang bukan sekadar melayang di udara.
Setiap kali mengembangkan sayap paralayang, ia membawa mimpi setinggi langit, membuktikan seorang santri mampu berprestasi di olahraga dirgantara tanpa meninggalkan semangat belajar dan nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren.