CEO Berani Backpacker Klarifikasi Isu Denda Rp 125 Juta, Pasca Femas Hilang di Korea Selatan
Titis Jati Permata July 21, 2026 12:05 PM

 

SURYA.co.id, MADIUN – CEO Berani Backpacker, Fariz Ragil Ramadhani, meluruskan informasi yang ramai beredar mengenai denda Rp125 juta setelah Femas Yani Arianto, warga Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun,Jawa Timur, diduga kabur dari rombongan wisata di Korea Selatan.

Fariz menegaskan, nominal Rp125 juta bukan merupakan sanksi yang dijatuhkan pemerintah Korea Selatan.

Nilai tersebut berasal dari skema jaminan dalam kerja sama bisnis antara agen perjalanan dan vendor pengurusan visa.

"Perlu diluruskan, itu bukan denda dari pemerintah Korea. Itu murni urusan business to business (B2B) antara kami dengan vendor pengurusan visa," kata Fariz.

Deposit Hangus Jika Peserta Kabur

Fariz menjelaskan, dalam kerja sama tersebut terdapat sistem deposit atau uang jaminan yang menjadi bagian dari mekanisme pengurusan visa.

Apabila ada peserta yang melakukan overstay atau melarikan diri, dana jaminan tersebut otomatis hangus sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak.

"Jadi itu bukan hukuman dari pemerintah Korea, melainkan jaminan yang memang sudah menjadi ketentuan dalam kerja sama bisnis," ujarnya.

Baca juga: Gelagat Femas Pria Madiun Sebelum Hilang di Korea Disorot Agensi, Benarkah Sudah Rencana Kabur?

Ia berharap masyarakat tidak salah memahami persoalan tersebut karena informasi yang beredar seolah-olah pemerintah Korea Selatan menjatuhkan sanksi finansial kepada agen perjalanan.

Keberadaan Femas Sempat Terlacak

Selain meluruskan isu denda, Fariz mengungkap perkembangan pencarian Femas oleh otoritas Korea Selatan.

Menurutnya, keberadaan Femas sebenarnya telah diketahui sejak hari pertama kasus tersebut menjadi viral. Informasi itu diperoleh dari sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang melaporkan melihat Femas berada di Islam Korea Ansan Mosque, Ansan, Provinsi Gyeonggi.

Laporan tersebut kemudian diverifikasi melalui foto dan video sebelum diteruskan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul serta pihak berwenang Korea Selatan.

Polisi Tak Bisa Langsung Masuk Masjid

Meski lokasi Femas sempat diketahui, proses pengamanan tidak berjalan sesuai harapan.

Fariz mengatakan aparat kepolisian Korea Selatan tidak dapat langsung memasuki area masjid karena menghormati aturan yang berlaku terhadap tempat ibadah.

"Polisi sudah datang ke lokasi. Tapi karena Femas berada di dalam masjid, mereka tidak bisa sembarangan masuk," ungkapnya.

Situasi itu dimanfaatkan Femas untuk meninggalkan lokasi sebelum aparat berhasil mengamankannya.

Karena alasan tersebut, Berani Backpacker juga memilih tidak mempublikasikan lokasi Femas kepada masyarakat.

"Kami sengaja menahan informasi supaya dia tidak tahu kalau keberadaannya sudah terlacak. Harapannya bisa diamankan dulu oleh pihak berwenang," jelas Fariz.

Ia menambahkan, sejak awal pihaknya terus berkoordinasi dengan KBRI Seoul dan otoritas terkait untuk membantu proses pencarian Femas serta memastikan seluruh informasi yang diperoleh segera disampaikan kepada pihak yang berwenang.

Hilang di Korea Selatan

Kabar tersebut mengundang perhatian publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial, sementara keluarga di kampung halaman mengaku baru mengetahui keberangkatan Femas setelah informasi itu viral.

Kondisi ini membuat keluarga diliputi kecemasan. Di tengah keterbatasan ekonomi yang dijalani sejak ayah Femas meninggal dunia beberapa tahun lalu, sang ibu mengaku tidak mengetahui rencana perjalanan anaknya ke luar negeri.

Bahkan hingga kini, ia belum menerima kabar apa pun maupun dapat menghubungi putranya sejak berangkat ke Korea Selatan.

Viral di Media Sosial

Informasi mengenai hilangnya Femas pertama kali ramai dibagikan melalui akun Threads @sarjanabackpacker.

Dalam unggahan tersebut disebutkan Femas diduga menghilang beberapa hari lalu ketika rombongan tengah berada di kawasan Myeongdong, Seoul, Korea Selatan, usai berpamitan untuk melihat-lihat sepatu.

SURYA.co.id kemudian mendatangi kediaman keluarga Femas di Desa Bantengan. Ibunya, Muatin (MT), mengaku sama sekali tidak mengetahui keberangkatan putranya ke Korea Selatan.

"Tidak tahu kalau berangkat ke Korea, pamitnya ke saya mau berangkat ke Korea," kata MT, Minggu (19/7/2026).

Keluarga Bingung Asal Biaya Perjalanan

MT menuturkan, Femas merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Selama ini, keseharian putranya lebih banyak berada di rumah dan belum memiliki pekerjaan maupun melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

"Sehari-hari hanya di rumah, tidak kuliah, tidak kerja," lanjutnya.
Karena kondisi tersebut, MT mengaku heran dari mana Femas memperoleh biaya untuk melakukan perjalanan ke Korea Selatan.

"Makanya saya tidak tahu (Femas) dapat uang dari mana. Saya tidak ngasih (memberi) uang sehari-hari," lanjutnya.

Baca juga: Usai Mancing Lalu Mandi Di Sungai, Pelajar 16 Tahun di Ponorogo Tenggelam dan Tewas

Menurut MT, Femas dikenal sebagai pribadi pendiam dan tidak pernah menunjukkan perilaku yang mencurigakan. Aktivitas hariannya lebih banyak membantu keluarga, termasuk mengantar dan menjemput adiknya yang masih duduk di bangku PAUD.

Saat ini MT tinggal bersama Femas dan anak bungsunya di Desa Bantengan. Sementara anak sulungnya telah berkeluarga dan tinggal terpisah.

Sejak suaminya meninggal sekitar empat hingga lima tahun lalu, kehidupan keluarga berubah. Usaha jual beli pupuk yang sebelumnya dirintis sang suami tidak lagi berjalan seperti dahulu.

Hingga kini, keluarga belum memperoleh kabar mengenai keberadaan Femas. MT hanya bisa berharap putranya segera ditemukan dalam keadaan selamat.

"Ya semoga anak saya diparingi umur panjang, badannya sehat di mana pun dia berada," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.