TRIBUNSTYLE.COM - Iran melalui presidennya, Masoud Pezeshkian, mengumumkan perang skala penuh melawan Amerika Serikat.
Pernyataan itu diumumkan Pezeshkian pada Senin (20/7/2026) waktu setempat.
Sang presiden juga meminta rakyat Iran bersiap untuk menghadapi perang skala besar.
Ia menyerukan agar seluruh masyarakat siap menerima segala bentuk konsekuensi alami yang timbul dari perlawanan terhadap agresi AS.
"Faktanya, hari ini Republik Iran sedang terlibat dalam perang skala penuh. Kita harus bersikap realistis dan menerima konsekuensi alami dari perlawanan ini," kata Pezeshkian.
Di tengah situasi darurat ini, sang presiden meminta rakyat Iran untuk tetap menjaga persatuan dan kesiapsiagaan nasional.
Baca juga: Sama-sama Saling Unjuk Kekuatan, Iran Jebol Pertahanan AS di Yordania, Trump Kirim Serangan Balasan
Konflik bersenjata antara kedua negara kini dilaporkan telah meluas hingga ke kawasan Teluk Persia.
Aksi saling balas serangan yang intensif terus terjadi dan memicu ketegangan hebat di wilayah regional.
Sebagai bentuk pembalasan atas gempuran AS, Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke Bahrain serta Kuwait.
Sirene peringatan serangan udara langsung menggema di kedua negara tetangga tersebut untuk memperingatkan warga.
Pemerintah setempat bergegas meminta seluruh penduduknya untuk segera mencari tempat perlindungan yang aman.
Kuwait mengklaim bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone Iran yang masuk.
Meski demikian, Kuwait menuduh gelombang serangan Iran menyebabkan kebakaran serta kerusakan pada infrastruktur vital listrik, air, dan minyak.
Rentetan insiden serangan balasan ini menuai kecaman keras dari sejumlah negara di kawasan Teluk.
Hingga saat ini, klaim mengenai tingkat kerusakan akibat serangan balasan Iran tersebut masih belum dapat diverifikasi secara independen.
Meski menghadapi musuh yang tak bisa diremehkan, AS berusaha mengimbangi.
Baca juga: Rahasia Iran Membuat Rudal yang Mampu Kecoh Pertahanan AS, Trump Ngamuk Banyak Tentaranya Tewas
Pada Minggu (19/7/2026), Washington turut unjuk kekuatan dengan melancarkan serangan besar terhadap Iran.
Serangan itu disebut juga sebagai bentuk penghormatan terhadap personel militer AS yang tewas dalam serangan Iran.
Trump mengatakan operasi tersebut dilakukan setelah jumlah korban diperkirakan mencapai tiga tentara Amerika Serikat.
Menurut Trump, AS menguasai Selat Hormuz dan menyebut Iran tidak memiliki kendali atas kawasan tersebut.
Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan telah melancarkan gelombang baru serangan terhadap aset-aset Iran untuk malam kesembilan berturut-turut.
Operasi militer tersebut menandai terus meningkatnya eskalasi konflik antara Washington dan Teheran di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Iran mengklaim telah membalas melalui serangan mendadak yang menyasar wilayah Suriah dan Yordania.
Sebelumnya, satu anggota militer AS dipastikan tewas dalam serangan di Irak, sementara dua personel lainnya dilaporkan tewas akibat serangan terhadap pangkalan Amerika di Yordania.
Dalam rekaman di Viory tampak aktivitas intens di kapal induk AS saat amunisi dimuat dan jet tempur dipersiapkan untuk menjalankan misi.
Video tersebut juga memperlihatkan peluncuran rudal yang diikuti ledakan di sejumlah target yang diduga merupakan aset milik Iran. (Tribun Style/Tribun Video)