Mahasiswa AKS AKK Wujudkan Nilai Sumbu Filosofi dalam Karya Busana
Yoseph Hary W July 21, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM – Puluhan mahasiswa semester akhir Program Studi Desain Busana Akademi Kesejahteraan Sosial (AKS) AKK Yogyakarta menampilkan karya terbaik mereka dalam pagelaran busana Gelar Cipta 2026, Senin (20/7/2026) malam. 

Mengusung tema A Fashion Journey of Sumbu Filosofi Yogyakarta, sebanyak 34 mahasiswa mempresentasikan 68 rancangan busana yang lahir dari proses kreatif sekaligus menjadi bagian dari tugas akhir mereka di Atrium Ambarrukmo Plaza.

Tidak sekadar mempertontonkan karya, pagelaran ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerjemahkan nilai budaya Yogyakarta ke dalam desain busana kontemporer. Inspirasi diambil dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang membentang secara imajiner dari Pantai Selatan, Keraton Yogyakarta, Tugu Pal Putih, hingga Gunung Merapi.

Hadirkan identitas Yogyakarta

Dosen Program Studi Desain Busana AKS AKK Yogyakarta, Hari Agung Wicaksono, menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih sebagai upaya menghadirkan identitas Yogyakarta dalam karya para mahasiswa, di tengah semakin berkembangnya industri fesyen di kota ini.

"Yogyakarta sekarang identik dengan berbagai event fashion. Namun, belum banyak yang benar benar mengangkat Yogyakarta itu sendiri. Karena itu kami mencoba mengenalkan dan memaknai Yogyakarta melalui Sumbu Filosofi yang menjadi identitas kota ini," ujarnya.

Menurut Hari, setiap titik dalam Sumbu Filosofi memiliki makna yang kemudian diterjemahkan menjadi karakter busana. Pantai Selatan dimaknai sebagai simbol kelahiran, kesucian, dan awal kehidupan. Keraton menjadi sumber inspirasi dari sisi sejarah, arsitektur, hingga busana tradisional.

Tugu Yogyakarta merepresentasikan nilai spiritual dan kemenangan, sementara Gunung Merapi dimaknai sebagai simbol penerimaan diri atau semeleh, yang diwujudkan melalui pilihan warna dan karakter desain.

Seluruh proses kreatif tidak berhenti pada tahap perancangan konsep. Mahasiswa juga dituntut mengolah material secara mandiri, mulai dari pembuatan motif hingga teknik pewarnaan. Mereka didorong menggunakan pendekatan berbasis kerajinan tangan dengan melibatkan pelaku UMKM serta mengurangi penggunaan material cetak instan.

"Kami mengupayakan proses dari hulu sampai hilir. Mahasiswa tidak kami izinkan menggunakan produk printing. Mereka membuat sendiri materialnya, ada yang membatik, membuat jumputan, mengembangkan motif baru, bahkan berkolaborasi dengan UMKM. Harapannya mereka memahami proses penciptaan busana secara utuh," jelas Hari.

Ia menambahkan, sebagian karya juga mulai menerapkan prinsip sustainable fashion melalui penggunaan pewarna alami dan material ramah lingkungan. Meski belum seluruhnya menggunakan konsep tersebut, pendekatan keberlanjutan mulai diperkenalkan sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Sebagai dosen pembimbing, Hari menilai para mahasiswa berhasil menerjemahkan gagasan besar Sumbu Filosofi menjadi karya yang memiliki identitas masing masing.

"Menurut saya, sekitar 90 persen mahasiswa berhasil menginterpretasikan tema Sumbu Filosofi Yogyakarta menjadi produk busana yang memiliki karakter kuat," katanya.

Agenda rutin

Direktur AKS AKK Yogyakarta, Prihatin Saraswati, mengatakan pagelaran busana merupakan agenda rutin tahunan kampus sebagai wadah bagi mahasiswa semester akhir mempresentasikan hasil pembelajaran mereka kepada masyarakat.

Berbeda dengan tema pada tahun sebelumnya yang lebih universal, tahun ini mahasiswa secara khusus diarahkan mengangkat implementasi Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai benang merah seluruh koleksi.

"Kami ingin menghubungkan pendidikan khas Kejogjaan dengan karya yang dihasilkan mahasiswa. Seluruh proses, mulai dari membuat desain, membatik, membuat pola, menjahit, hingga menghasilkan busana akhir, semuanya mengacu pada konsep Sumbu Filosofi," ungkapnya.

Menurut Prihatin, pendekatan tersebut menjadi bagian dari komitmen kampus dalam menjaga nilai budaya lokal melalui pendidikan desain busana. Mahasiswa tidak hanya belajar menciptakan produk fesyen, tetapi juga memahami filosofi, sejarah, dan kearifan lokal yang menjadi sumber inspirasi karya mereka.

"Visi dan misi kami memang memuat pelestarian budaya serta kearifan lokal. Karena itu kami berharap mahasiswa mampu mempertahankan identitas budaya, sekaligus menghadirkan desain yang relevan dengan perkembangan fesyen saat ini," tuturnya.

Ia menilai kualitas karya mahasiswa terus berkembang. Selain tetap mempertahankan unsur budaya, desain yang ditampilkan juga dinilai mampu bersaing dengan berbagai pagelaran busana yang digelar di luar kampus.

Melalui Gelar Cipta 2026, AKS AKK Yogyakarta tidak hanya menampilkan hasil tugas akhir mahasiswa, tetapi juga menunjukkan bagaimana nilai nilai budaya dapat diolah menjadi karya busana yang modern, inovatif, sekaligus memiliki akar kuat pada identitas Yogyakarta.(nto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.