*Oleh Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jogja
KHUSUS buat pendukung Argentina, jangan marah jika baca tulisan ini. Apalagi setelah di laga puncak, Tim Tango secara dramatis harus menelan pil pahit setelah gol Ferran Torres di menit ke-106 memastikan gelar juara dunia adalah milik La Furia Roja Spanyol.
Agar tidak menimbulkan spekulasi bahwa catatan ini muncul dari seorang pembenci Argentina, saya harus pastikan dulu bahwa saya bukan pendukung Spanyol, bukan pula pendukung Mesir.
Saya bahkan harus sampaikan bahwa dari 104 laga yang dihelat di Piala Dunia 2026 yang melibatkan 48 negara dengan prestasi sepakbola terbaik, tidak satupun yang saya tonton.
Saya justru merasa sok tahu perhelatan ini dan seolah terlibat langsung setelah ‘berdebat’ dengan salah satu pendukung Tim Tango Argentina.
Kisah-kisah di luar pertandingan bagi saya lebih menarik diikuti dibanding hasil pertandingan itu sendiri. Utamanya usai ramai di jagat sosial media yang menyebut bahwa laju Argentina di sepanjangang kompetisi banyak ‘dibantu’ oleh FIFA.
Tentang Argentina ini, saya menjadi semakin tertarik mengikuti perkembangannya usai berhasil memulangkan Mesir yang konon kata banyak analis penuh dengan kontroversi. Saya harus jujur, tak sedikit pula yang membela dan menyebut bahwa tudingan Argentina yang selalu dibantu FIFA adalah tudingan ngawur.
Disclaimer, saya bukan penggemar bola, apalagi pakar bola. Untuk itu saya tidak punya kapasitas untuk ikut-ikutan menuding FIFA sebagai penyelenggara sekaligus regulator Piala Dunia benar-benar membhantu Argentia.
Yang saya tahu, tudingan peran FIFA membantu Argentina ini terasa massif dan nuansanya kentara betul di Piala Dunia 2026 ini. Dan jujur, akibat nuansa ini, meski sekali lagi saya tidak menonton perhelatan puncak, dukungan saya mengarah ke Spanyol untuk bisa menjuarai turnamen empat tahunan ini.
Saya memang tidak ikut bersukacita melihat Lamine Yamal mengangkat trofie mas piala dunia, tapi saya bisa tersenyum melihat Messi menangis usai laga puncak. Saya tidak ikut bangga ketika Spanyol juara dunia di perhelatan yang digelar di Amerika ini, tetapi rasanya senyum saya sinis menonton potongan-potongan video pemain Argentina tampak marah dan emosional usai pertandingan.
Maaf, kalimat di atas barangkali tampak sinis, tetapi itulah yang bisa saya sampaikan. Saya tidak bisa terima ketika regulator sudah campur tangan pada kompetisi.
Sama halnya jika analogi ini digunakan untuk memotret situasi di negeri ini. Statuta FIFA dimainkan untuk memuluskan satu tim yang disebut sebagai anak emas. Sementara di negeri ini Konstitusi diperkosa demi untuk memuluskan anak penguasa.
Saya percaya, FIFA masih banyak yang membela, tapi begitu indikasi mereka memainkan statutanya dan memainkan kewenawangan pengadil di lapangan untuk menyeting kemenangan satu tim, namanya bukan lagi FIFA, tapi fu fu FIFA yang rasanya pantas untuk mendegradasi maruah dari FIFA.
Ketidakpercayaan publik sepakbola yang rusak ini mampu mendegradasi kesakralan gelar piala dunia. Bukankah ini juga sama dengan ketidakpercayaan public ini dengan penegakan hukum di negeri ini yang sama-sama juga sudah terkontaminasi dengan virus fu fu FIFA.
Saya ingin mengingatkan bahwa public negeri ini juga sudah putus asa sejak munculnya fu fu FIFA memainkan syarat pencalonan wakil presiden.
Yang berbeda, kekecewaan publik bola yang mencurigai ada keterlibatan regulator dalam sebuah kompetisi bisa segera berakhir hanya suisia turnamen.
Jika ada yang kecewa, mereka cukup terhibur dengan hasil akhir turnamen yang tidak menempatkan mereka yang dianggap menjarah statute fu fu FIFA. Mereka yang keberatan sudah cukup puas dengan melihat Messi angkat trofi plus dengan tangis dan air matanya.
Sementara untuk virus fu fu FIFA yang merasuki negeri ini, kita tak pernah tahu kapan kebenaran akan tampil sebagai pemenang.
Kita seolah terlena lantaran kebohongan demi kebohongan terus terjadi di negeri ini. Lama kita membiarkan kebohongan yang terjadi, kita sampai tak menyadari bahwa kebohongan telah menguasai negeri ini.
Kita tak pernah memeroleh jawaban tentang keaslian ijazah yang juga kentara bahwa kekuasaan ikut melindungi masalah ini. Kita juga sudah lupa bahwa kita pernah dibohongi tentang mobil Esemka.
Masih mau nambah? Ingat soal bagaimana uang rakyat dihabiskan untuk proyek IKN yang konon tidak akan menggunakan APBN dan investor luar negeri sudah antre? Kita tidak pernah sadar tentang ini hingga harapan tentang ibukota baru terjawab dengan ketidakjelasan masa depan IKN.
Dimulai dari kebohongan demi kebohongan dan penjarahan konstitusi layaknya fu fu FIFA, kita menjadi terbius tentang ketidakberesan penegakan hukum dan saling sikut penegak hukum di negeri ini.
Terakhir saya berharap, jika fu fu FIFA sudah mengakhiri kisahnya di perhelatan Piala Dunia, maka akhir dari virus fu fu FIFA di negeri ini juga harus diikhtiarkan ujung ceritanya. (*)