
DI TENGAH persaingan global dan perubahan kebutuhan dunia kerja yang berlangsung cepat, perguruan tinggi menghadapi tantangan untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri.
Persaingan global merupakan kompetisi antarnegara maupun antarperusahaan di berbagai bidang — ekonomi, teknologi, politik, dan budaya untuk memperkuat posisi, pengaruh, serta daya saing di panggung internasional.
Saat ini, persaingan tidak lagi hanya soal kekuatan militer, melainkan juga inovasi, perdagangan, dan soft power
Tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi menunjukkan masih adanya kesenjangan antara proses pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.
Karena itu, membangun kemitraan yang lebih erat antara kampus dan industri menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat kualitas pembelajaran, meningkatkan kesiapan kerja lulusan, sekaligus memperkuat daya saing sumber daya manusia Indonesia di tingkat global.
Persaingan global dan perkembangan teknologi dinilai menuntut perguruan tinggi di Indonesia menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja.
Lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja adalah mereka yang dibekali keterampilan teknis, kemampuan adaptif, serta soft skills yang relevan dengan perkembangan industri modern.
Perguruan tinggi dan lembaga pelatihan kini menekankan kurikulum berbasis industri, sertifikasi kompetensi, serta pengalaman praktik agar lulusan siap bersaing di pasar kerja lokal maupun global.
Lulusan yang kompeten bukan hanya menguasai keahlian teknis, tetapi juga memiliki soft skills, sertifikasi, dan pengalaman praktik.
Dengan kombinasi ini, mereka dapat menjawab kebutuhan dunia kerja yang terus berubah, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri dipandang menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing lulusan sekaligus mendukung kebutuhan tenaga profesional di berbagai sektor.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada 2025 terdapat sekitar 1,01 juta lulusan perguruan tinggi yang masih menganggur dari total 7,28 juta pengangguran terbuka di Indonesia.
Pengangguran terbuka adalah kondisi ketika seseorang yang termasuk angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan dan sedang aktif mencari pekerjaan, atau sudah memiliki pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.
Jenis pengangguran ini paling mudah terdeteksi karena biasanya tercatat dalam statistik pencari kerja resmi.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan universitas tercatat sebesar 5,39 persen, sementara kelompok usia 15–24 tahun menjadi penyumbang angka pengangguran tertinggi.
Data tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam menyelaraskan pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri.
Rektor Swiss German University (SGU), Samuel P. Kusumocahyo, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri menjadi bagian dari pengembangan proses pembelajaran.
"Kolaborasi ini merupakan wujud komitmen menghadirkan pendidikan yang mampu menjembatani kebutuhan industri dengan proses pembelajaran di perguruan tinggi," ujarnya.
Untuk itu diperkenalkan Program Konsentrasi Event Management.
Memberikan pengalaman belajar berbasis industri bagi mahasiswa yang berminat pada bidang event management, Meetings, Incentives, Conventions and Exhibitions, hospitality, dan industri kreatif.
"Membekali mahasiswa dengan pengalaman belajar berbasis industri guna mempersiapkan lulusan yang siap berkarier di sektor event management, MICE," kata dia.
Mahasiswa akan mengikuti pembelajaran yang menggabungkan teori dan praktik, termasuk perkuliahan praktik di hotel kerja sama dengan Bidakara Hospitality, pembelajaran di lingkungan industri, program magang, serta keterlibatan dalam berbagai proyek profesional sebagai bagian dari proses akademik.
Pengalaman belajar yang selaras dengan kebutuhan industri, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman praktis.
“Pengalaman belajar selaras dengan kebutuhan industri, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi memiliki pengalaman praktis," ujar General Manager Bidakara Hospitality, Wisnu Reza.