TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kisah seorang kakek bernama Umar memberikan pelampung terakhir untuk sang cucu, Naura sebelum KM Nurul Salsa tenggelam viral di media sosial.
Foto terakhir sebelum kakek Umar (80) dan Naura (13) jadi korban kapal tenggelam pun diungkap keluarga.
Untuk diketahui, KM Nurul Salsa yang ditumpangi kakek Umar dan Naura dilaporkan tenggelam di Perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Rabu (15/7/2027) sekira pukul 05.00 Wib.
Kapal tersebut membawa 74 penumpang termasuk kakek Umar dan Naura.
Dari 74 penumpang, 49 penumpang berhasil selamat setelah dievakuasi, termasuk Naura.
Sementara itu kakek Umar dan Naura kabarnya hingga kini belum diketahui kondisi serta keberadaannya.
Di kapal tersebut, Naura bersama empat anggota keluarga termasuk kakek Umar yakni ada Maridaeng, Bau Intang, dan Syahrul Amin.
Sebelum KM Nurul Salsa tenggelam, keluarga Naura sempat mengirimkan foto ke keluarganya bernama Eka.
Di foto tersebut terlihat ada kakek Umar dan Salsa sedang duduk berhadapan.
Kakek Umar tampak mengenakan jaket coklat sementara Naura mengenakan pelampung.
Terlihat kakek Umar memandangi Naura yang terduduk lesu.
"Foto dikirim ke saya katanya kapal mau tenggelam karena mati mesin," ungkap Eka dilansir dari Tribun Style, Selasa (21/7/2026).
Selain foto, Eka pun menguak alasan kakek Umar tak mengenakan pelampung sebelum kapal tenggelam.
Rupanya kakek Umar sempat mendapatkan pelampung.
Namun pelampung terakhir yang tersedia di kapal itu akhirnya Umar berikan untuk sang cucu, Naura.
Sebelum kapal tenggelam, keluarga Naura sempat masih berkomunikasi dengan Eka.
Namun komunikasi terputus pada sore hari.
"Sampai sore saya masih terus komunikasi dan terakhir sambungan telepon putus pada jam empat sore," imbuh Eka.
Baca juga: Warga Bogor Tenggelam di Pantai Sukabumi, Ternyata Sempat Jalan Kaki 3 Kilo dari Cibuaya
Sementara kakek Umar dan Naura belum ditemukan, publik dikejutkan dengan kisah penumpang lain yang berhasil selamat.
Seorang bocah bernama Diska Yanti (8) dalam kondisi selamat setelah empat hari terombang-ambing di lautan.
Diska lolos dari maut lantaran berpegangan pada pelampung gabus bersama penumpang kapal lainnya.
Awalnya Diska berpegangan gabus bersama kedua orangtuanya.
Namun di malam pertama terombang-ambing di lautan, Diska terpisah dari ayahnya.
Penyebabnya adalah karena ada ombak besar yang menyapu gabus tersebut.
Di hari ketiga, ibunda Diska kondisinya kian melemah hingga akhirnya meninggal dunia.
Diska dan penumpang lainnya yang tersisa pun akhirnya selamat di hari keempat setelah ditemukan nelayan.
"Nyawanya (ibunda Diska) tidak bisa diselamatkan, sudah tidak mampu bertahan mengapung kasian," ungkap paman DY, Andi Samad, yang juga korban dalam peristiwa tersebut, dikutip dari Tribun Timur.
Empat hari terombang-ambing di laut, Diska dan penumpang lainnya nyaris putus asa.
Sebab selama empat hari itu tidak ada kapal yang melintas.
Hingga akhirnya ada penumpang mencoba mencari bantuan dengan cara cerdik.
Penumpang tersebut mengambil cermin kecil dari tasnya.
Ia lalu memantulkan cahaya matahari ke arah laut agar pantulannya bisa dilihat kapal jauh yang melintas.
Ajaib, cara cerdas itu membuahkan hasil manis.
Seorang nelayan KM Sinar Mattoanging 04 asal Bulukumba yang sedang berlayar di Laut Flores.
ABK KM Sinar Mattoanging 04 pun mendekati sumber pantulan cahaya dan menemukan para korban sedang terapung.
Mereka lalu menyelamatkan para penumpang.
Kini para korban yang selamat menjalani perawatan di RSUD Khayyung.