Di Balik Gelar Juara Dunia Spanyol: Identitas Bermain yang Bisa Jadi Contoh Timnas Indonesia
Drajat Sugiri July 21, 2026 06:57 PM

TRIBUNNEWS.COM - Keberhasilan Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 bukan hanya berarti menambah satu bintang di lambang federasi mereka. 

Lebih dari itu, gelar tersebut kembali menegaskan bahwa La Roja memiliki identitas sepak bola yang mampu bertahan melintasi pergantian generasi.

Trofi Piala Dunia 2026 menjadi gelar kedua bagi Spanyol setelah yang pertama mereka raih 16 tahun yang lalu, di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.  

Di final Piala Dunia 2026, Spanyol menundukkan Argentina 1-0 lewat gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu. 

Argentina sang juara bertahan dibuat tak berdaya di hadapan Spanyol. Lionel Messi cs tak bisa melepaskan tembakan selama 90 menit.

Andaikan Emiliano Martinez tak tampil heroik dengan total 11 penyelamatan, Spanyol bisa saja menuntaskan pertandingan lebih cepat tanpa perpanjangan waktu.

Meski begitu, pada akhirnya Spanyol tetap keluar sebagai pemenangan dengan statistik yang sangat jomplang dengan Argentina.

Tim asuhan Luis de la Fuente melepaskan 20 percobaan tembakan dengan 11 diantaranya tepat sasaran, berbanding 3 milik Argentina yang semuanya melenceng dari target.

Dominasi Spanyol juga terlihat dari penguasaan bola yang menyentuh 68 persen, dua kali lipat dari Argentina yang hanya mencatatkan 32 persen ball possesion.

Tidak berlebihan jika Spanyol dikatakan sebagai tim yang paling sempurna di Piala Dunia 2026 ini untuk meraih gelar kedua mereka sejak 2010.

Mereka hanya kebobolan satu kali dari delapan laga yang dijalani. Sebelum mengalahkan Argentina yang sebelumnya menempati 1 dunia FIFA, tim tangguh lainnya sudah mereka kalahkan.

TROFI PIALA DUNIA - Trofi Piala Dunia dipamerkan saat acara FIFA World Cup™ Trophy Tour by Coca-Cola di Jakarta, Kamis (22/1/2026). Jelang FIFA World Cup 2026, Coca Cola Indonesia menggelar acara FIFA World Cup™ Trophy Tour by Coca-Cola, dimana acara ini memberikan kesempatan istimewa bagi pencinta sepak bola Indonesia untuk melihat langsung The Original FIFA World Cup™ Trophy berbahan emas 18 karat, sekaligus merasakan euforia olahraga paling digemari di dunia. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
TROFI PIALA DUNIA - Trofi Piala Dunia dipamerkan saat acara FIFA World Cup™ Trophy Tour by Coca-Cola di Jakarta, Kamis (22/1/2026). Jelang FIFA World Cup 2026, Coca Cola Indonesia menggelar acara FIFA World Cup™ Trophy Tour by Coca-Cola, dimana acara ini memberikan kesempatan istimewa bagi pencinta sepak bola Indonesia untuk melihat langsung The Original FIFA World Cup™ Trophy berbahan emas 18 karat, sekaligus merasakan euforia olahraga paling digemari di dunia. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Baca juga: Ranking FIFA usai Piala Dunia 2026: Spanyol Kembali Top 1, Norwegia Naik 12 Tingkat, Maroko 6 Besar

Tiga tim peringkat 10 besar FIFA secara beruntun disingkirkan, mulai dari Portugal (7) di 16 besar, Belgia (9) di 8 besar lalu Prancis (3) di semifinal.
 
Kesuksesan itu membuat FIFA secara khusus mengulas bagaimana model permainan Spanyol dibangun selama bertahun-tahun dan mengapa negara tersebut terus mampu melahirkan generasi emas baru.

Menurut FIFA, benang merah antara skuad juara dunia 2010 dan 2026 memang berbeda dari sisi pemain maupun perkembangan sepak bola modern. Namun, keduanya memiliki kesamaan mendasar, yakni pemahaman kolektif tentang cara bermain.

Bagi Spanyol, penguasaan bola bukanlah tujuan utama. Ball possession dipandang sebagai alat untuk mengendalikan ritme pertandingan, membuka ruang, sekaligus meminimalkan peluang lawan berkembang.

Filosofi tersebut sudah tertanam sejak level pembinaan usia muda hingga tim nasional senior sehingga tidak bergantung kepada satu pelatih atau satu generasi pemain.

Direktur Sekolah Pelatih Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF), David Gutierrez, menyebut perubahan besar itu dimulai sejak era Luis Aragones pada 2008 yang tandai dengan diraihnya gelar Euro.

Kala itu, Aragones menyadari bahwa karakter pemain Spanyol tidak dibangun dari keunggulan fisik semata, melainkan kecerdasan bermain secara kolektif.

"Dia (Aragones) membuat kami semua menyadari bahwa, secara genetik, kami mungkin bukan yang tercepat atau terkuat, tetapi ada satu area di mana kami unggul – yang sangat kami tekankan ketika kami mendidik pelatih – dan itu adalah memahami bagaimana bermain bersama sebagai satu kesatuan," kata Gutierrez. 

Pendapat serupa disampaikan mantan Direktur Teknik RFEF Jose Francisco Molina.

Menurutnya, keberhasilan Spanyol lahir ketika federasi mampu menyatukan karakter pemain yang dibentuk klub-klub dengan filosofi yang sama.

"Klub mengembangkan pemain dan tim nasional memanggil mereka, dan dia memutuskan untuk menyatukan pemain itu – di situlah semuanya dimulai untuk tim nasional dan asosiasi. Karena terbukti sangat sukses, kami mulai mengejar gaya permainan itu," kata Molina kepada FIFA.

Sejak saat itu, seluruh sistem pembinaan bergerak dalam satu arah sehingga identitas bermain tetap terjaga meski pelatih maupun pemain berganti. 

Dengan visi itu, Spanyol yang sebelumnya tak dipandang di kancah Eropa dan Dunia, kini berubah menjadi tim raksasa yang selalu diperhitungkan.

Enam gelar turnamen mayor kini sudah mereka rengkuh sejak saat itu, dengan rincian trofi Euro 2008, 2012 dan 2024.

Lalu Piala Dunia 2010 dan 2026 yang selalu diraih setelah juara Eropa, serta satu gelar UEFA Nations League pada tahun 2023.

Baca juga: Spanyol Juara Piala Dunia 2026 dengan Nyaris Sempurna, Ronaldo hingga Messi Dibuat Tak Berkutik

Filosofi yang Bertahan Melewati Generasi

Keunggulan Spanyol bukan hanya terlihat dari kualitas individu seperti Rodri, Fabian Ruiz, Dani Olmo, atau Lamine Yamal.

Yang membuat mereka berbeda adalah setiap pemain memahami ruang, pergerakan rekan setim, kapan harus menekan, kapan menguasai bola, hingga bagaimana menciptakan keunggulan posisi.

Model tersebut membuat permainan Spanyol tetap konsisten meski tidak lagi bergantung pada lulusan akademi Barcelona seperti era Xavi Hernandez, Andres Iniesta, hingga Sergio Busquets.

Menurut Direktur Teknik RFEF Aitor Karanka, pelatih Spanyol sejak awal diajarkan bukan hanya melatih teknik pemain, tetapi mengajari pemain memahami permainan.

Kini pemain-pemain dari berbagai klub mampu menjalankan filosofi yang sama karena telah mendapatkan pendidikan sepak bola serupa sejak usia dini.

Pendekatan tersebut membuat pengambilan keputusan pemain menjadi jauh lebih cepat dan efektif di lapangan.

"Pelatih Spanyol memanfaatkan pelatihan mereka dan menumbuhkan pemahaman tentang permainan pada pemain sejak usia yang sangat muda, tidak hanya dengan tujuan untuk mengembangkan bakat individu tetapi juga memikirkan kinerja kolektif,"kata  Direktur olahraga RFEF saat ini, Aitor Karanka.

"Metodologi ini berpusat pada latihan berbasis penguasaan bola dan membangun keahlian yang memungkinkan para pemain, terlepas dari kemampuan alami mereka, untuk menafsirkan permainan sejak usia muda," sambungnya.

Timnas Spanyol berfoto bersama jelang laga Spanyol vs Mali dalam lanjutan penyisihan grup B Piala Dunia U17 2023 di Stadion Manahan, Solo, Senin (13/11/2023). Spanyol berhasil mengalahkan Mali dengan skor 1-0. TRIBUN SOLO/Muhammad Nursina
SPANYOL U17 - Timnas Spanyol berfoto bersama jelang laga Spanyol vs Mali dalam lanjutan penyisihan grup B Piala Dunia U17 2023 di Stadion Manahan, Solo, Senin (13/11/2023). Spanyol berhasil mengalahkan Mali dengan skor 1-0. TRIBUN SOLO/Muhammad Nursina (Tribun Solo/Muhammad Nursina)

Hector Souto: Saya Melihat Transformasi Itu Sendiri

Pandangan tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan pelatih Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto.

Melalui akun Instagramnnya, pelatih asal Spanyol kelahiran 1981 itu merefleksikan bagaimana La Roja bisa menjadi juara eropa dan dunia dua kali dalam kurun dua dekade.

Sebelum era Luis Aragones, Spanyol pernah satu kali menjuarai Euro yakni saat menjadi tuan rumah pada 1964, Namun setelah itu, Spanyol kesulitan untuk menjadi juara.

"Saya lahir di Spanyol yang belum pernah melampaui babak perempat final Piala Dunia atau Piala Eropa. Jika pada tahun 2007 seseorang mengatakan kepada saya semua yang akan dicapai sepak bola Spanyol setelah itu, saya mungkin tidak akan mempercayainya," buka Souto dalam unggahan di Instagramnya.

Menurut Hector, perubahan terbesar bukan hanya soal gelar juara. Yang lebih penting adalah keberhasilan Spanyol mempertahankan identitas bermain selama bertahun-tahun.

"Sejak saat itu (era Luis Aragones), sepak bola Spanyol telah menunjukkan bahwa ada cara lain untuk menang: menguasai permainan, memperhatikan setiap detail, dan memahami bahwa penguasaan bola bukanlah tujuan, melainkan alat untuk mengendalikan pertandingan," kata pelatih berusia 44 tahun ini.

Ia menilai pencapaian terbesar bukan sekadar mengangkat trofi.

"Yang paling menginspirasi bukanlah trofi, melainkan melihat bahwa identitas bermain yang dibangun dengan baik mampu bertahan melewati pergantian generasi dan tetap bersaing di level tertinggi," jelas Souto.

Di akhir refleksinya, Hector melontarkan pertanyaan yang menarik untuk negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Apakah sebuah negara bisa membangun identitas bermain yang begitu kuat sehingga tetap mampu menang meskipun pemain dan pelatihnya terus berganti?" tutup Hector Souto.

Pertanyaan tersebut menjadi relevan bagi Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan signifikan di berbagai level tim nasional.

Bukan berarti Indonesia harus menyalin gaya bermain Spanyol secara utuh.

Namun, prinsip yang dibangun La Roja—yakni keseragaman filosofi dari pembinaan usia dini, pendidikan pelatih, hingga tim nasional senior—menjadi aspek yang dapat dijadikan acuan.

Dengan populasi pemain yang besar dan pembinaan yang mulai berkembang, Indonesia memiliki peluang membangun identitas permainan sendiri yang sesuai karakter pemain lokal, sebagaimana Spanyol menemukan jati dirinya sejak era Luis Aragones, bukan hanya sekadar mengandalkan strategi naturalisasi pemain.

Baca juga: Misi Pencarian Pelatih Italia, FIGC Terbang ke Spanyol Temui Guardiola

Pengamat Indonesia Sudah Melihat Kelebihan Spanyol

Sebelum final Piala Dunia 2026 berlangsung, sejumlah pengamat Indonesia telah menilai Spanyol sebagai tim paling layak menjadi juara.

Football enthusiast Bimo Adhy Nugroho menyebut konsistensi permainan menjadi pembeda utama La Roja dibanding negara lain.

"Spanyol itu menunjukkan mereka benar-benar layak. Tim yang selengkap Prancis dibuat tak berdaya sama Spanyol," ujar Bimo Adhy Nugroho dalam Podcast Super Taktik Tribunnews di Karanganyar, Jawa Tengah.

Menurut Bimo, kekuatan terbesar Spanyol justru berada pada struktur permainan mereka.

"Timnas Spanyol saat ini memiliki warna tersendiri. Ketika pertandingan dikontrol oleh Rodri, Fabian Ruiz, dan Dani Olmo, ketiganya mengandalkan ruang gerak mereka yang sangat luar biasa," kata dia.

Senada dengan itu, analis sepak bola Hamid Anwar menilai keberhasilan Spanyol bukan terjadi secara kebetulan.

"Melihat Spanyol ini dia bermain dengan positional play, pressing terstruktur, mengatur tempo, defensifnya kompak dan mampu membaca arah serangan lawan dengan baik," kata Hamid Anwar.

Pendapat tersebut sejalan dengan ulasan FIFA yang menyebut keberhasilan Spanyol merupakan hasil dari filosofi yang dibangun secara sistematis selama bertahun-tahun.

Karena pada akhirnya, trofi memang menjadi tujuan akhir. Namun, seperti yang ditunjukkan Spanyol, identitas bermain yang kuat adalah fondasi yang membuat sebuah negara mampu terus bersaing di level tertinggi, bahkan ketika generasi pemain dan pelatih silih berganti.

(Tribunnews.com/Tio)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.