Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Suasana sakral nan syahdu mewarnai festival kereta suci Jagannatha Ratha Yatra di Griya Agung Krishna Balaram Ashram, Denpasar, pada Kamis (16/7/2026) lalu.
Rangkaian perayaan yang memuncak pada pengarakan tiga kereta suci ini melewati tahapan yang cukup panjang, sistematis, dan sarat makna penyucian spiritual.
Rangkaian prosesi sakral ini sejatinya telah dimulai dua minggu sebelum puncak acara melalui ritual Snana Yatra, yakni upacara abhiseka atau pemandian suci pratima yang dilangsungkan tepat pada hari bulan purnama.
Untuk mempersiapkan upacara abhiseka tersebut, para bhakta melakukan perjalanan spiritual berkeliling Pulau Bali untuk nunas tirta dari 108 sumber air suci.
Baca juga: Perumda Swatantra Buleleng Optimistis Setor PAD Rp1,5 Miliar Meski Biaya Operasional Naik
Air suci inilah yang kemudian digunakan untuk membasuh pratima Sri Jagannatha, Sri Baladewa, dan Dewi Subhadra.
Usai Snana Yatra, umat memasuki fase jeda selama dua pekan menuju hari H Ratha Yatra.
Selama dua minggu tersebut, umat Hindu penekun bhakti marga melakukan beragam bentuk tirakat, pengucapan mantra (japa), puasa, pengendalian hawa nafsu, serta pelayanan rohani, baik di kediaman masing-masing maupun di lingkungan tempat suci.
Setelah melewati masa penempaan diri dan penyucian sarana melalui ritual pamelaspasan, tiga kereta suci berukuran megah mulai ditarik secara bergotong-royong oleh umat Hindu dari Bali maupun luar daerah.
Baca juga: Dua Maling Congkel Pintu Rumah di Desa Takmung, Bawa Kabur 12 Sertifikat Tanah
Di atas ketiga kereta suci tersebut, berstana pratima Sri Jagannatha (Sri Krishna), Sri Baladewa, dan Dewi Subhadra.
Jalannya pengarakan berlangsung meriah dan penuh sukacita.
Prosesi ini diiringi dentuman genta, gejolak tarian kerohanian, serta lantunan mantra Veda dan lagu-lagu suci yang terus mengagungkan nama Tuhan.
Sulinggih yang memimpin upacara, Ida Dewa Agung Waisnawa Pandita Damodara Pandit Dasa (Guru Pandita), memaparkan bahwa tindakan fisik menarik tali kereta suci memiliki makna teologis yang sangat mendalam.
Baca juga: Pansus TRAP DPRD Bali Lanjut Bekerja Meski Fraksi Golkar Resmi Mundur
“Kehidupan sebagai manusia di dunia ini memiliki tujuan, yakni membangun kembali hubungan cinta kasih dengan Tuhan,”
“Selama ini, kita melupakan hubungan hakiki ini. Momen Ratha Yatra ini membangkitkan kembali hubungan ini,”
“Karena itu, kita menarik kereta suci ini dengan tali yang kuat, sebagai simbol ikatan rohani kita kepada Tuhan,” kata Guru Pandita dalam keterangannya yang diterima pada Selasa 21 Juli 2026.(*)