Pengusaha Sale Pisang Cilacap Produksi 7 Kuintal Sehari saat Kemarau
khoirul muzaki July 21, 2026 07:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Terik matahari yang menyengat sejak pagi menyelimuti Dusun Tegalsari, Desa Layansari, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Selasa (21/7/2026).

Suasana tersebut menghadirkan pemandangan  berbeda karena puluhan rak penjemuran dipenuhi ribuan potong pisang yang tersusun rapi dengan warna kuning keemasan, pertanda musim kemarau membawa berkah bagi para perajin sale pisang.

Di halaman rumah yang luas, hamparan rigen bambu berjajar hampir memenuhi seluruh pelataran.

Sementara aroma manis pisang yang sedang dijemur bercampur dengan udara panas yang berembus pelan, menghadirkan kesibukan khas sentra produksi sale pisang saat cuaca sedang bersahabat.

Bagi Sukarman, perajin sale pisang asal Dusun Tegalsari, matahari yang bersinar sepanjang hari bukan sekadar penanda musim kemarau, melainkan "mesin pengering alami" yang membuat proses produksi berjalan lebih cepat dibandingkan hari-hari saat hujan turun.

"Kalau musim kemarau penjemurannya cukup dua hari sudah kering, sedangkan kalau musim hujan bisa tiga sampai empat hari karena sinar mataharinya tidak maksimal," kata Sukarman.

Cuaca cerah yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir membuat setiap rak penjemuran selalu terisi penuh sejak pagi hingga sore karena pisang yang dijemur dapat langsung mengering secara merata tanpa harus dipindahkan berulang kali akibat hujan.

Di sela-sela kesibukan mengawasi proses penjemuran, Sukarman sesekali merapikan susunan pisang di atas rigen agar seluruh permukaan terkena sinar matahari secara merata sehingga menghasilkan kualitas sale pisang yang baik sebelum masuk ke tahap berikutnya.

Menurut Sukarman, proses pembuatan sale pisang dimulai dari memilih pisang yang telah matang sempurna setelah diperam selama empat hingga lima hari menggunakan penutup plastik, kemudian pisang dikupas satu per satu sebelum dipres menggunakan cetakan kayu hingga berbentuk pipih.

"Setelah matang pisangnya dikupas, dipres, lalu disusun di rigen bambu untuk dijemur sampai kering, setelah itu baru digoreng dan dikemas menjadi produk siap jual," ujarnya.

Baca juga: Edi Sungkowo Resmi Jabat Kepala Kemenag Wonosobo Gantikan Panut

Setelah benar-benar kering, sale pisang kemudian diangkat dari rak penjemuran untuk digoreng hingga berwarna kecokelatan dengan tekstur renyah di bagian luar namun tetap lembut di dalam sebelum akhirnya dikemas dalam plastik dan dipasarkan kepada pelanggan.

Musim kemarau tidak hanya mempercepat proses produksi, tetapi juga meningkatkan kapasitas hasil yang mampu dihasilkan setiap hari karena waktu penjemuran yang lebih singkat membuat perputaran produksi berlangsung lebih cepat.

"Kalau musim hujan paling sekitar lima kuintal per hari, sekarang saat musim kemarau bisa mencapai tujuh kuintal sehari karena proses jemurnya lebih cepat," ungkap Sukarman.

Peningkatan produksi tersebut membuat pesanan dari berbagai pelanggan dapat dipenuhi tanpa harus menunggu lama, terutama permintaan dari wilayah Cilacap maupun Kota Bandung yang selama ini menjadi tujuan pemasaran sale pisang buatannya.

Sukarman mengatakan, produk sale pisang dipasarkan dengan harga berkisar Rp21 ribu hingga Rp31 ribu per bungkus, bergantung pada ukuran dan jenis kemasan yang dipilih konsumen.

"Penjualannya masih ke wilayah Cilacap dan juga Bandung dengan harga sekitar Rp21 ribu sampai Rp31 ribu per pak," jelasnya.

Di balik teriknya matahari yang bagi sebagian orang terasa menyengat, Sukarman justru melihat peluang yang membawa harapan karena cuaca cerah membuat roda usahanya berputar lebih cepat, produksi meningkat, permintaan terpenuhi, hingga omzet yang diperoleh mampu mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.

Bagi para perajin sale pisang di Gandrungmangu, musim kemarau bukan sekadar pergantian musim, melainkan waktu terbaik untuk memanen berkah dari sinar matahari yang mengeringkan setiap lembar sale pisang sekaligus menghidupkan perekonomian keluarga mereka. (ray)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.