Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI – Warga Desa Manjung, Kecamatan Wonogiri, Jawa Tengah kembali mendesak Pondok Pesantren (Ponpes) Manjung ditutup setelah kasus dugaan asusila yang menjerat pendirinya, Bripka E, mencuat ke publik.
Desakan tersebut bukan semata dipicu oleh kasus hukum yang kini bergulir.
Pemerintah Desa Manjung menyebut keinginan warga untuk menutup ponpes sebenarnya sudah muncul sejak beberapa tahun lalu karena berbagai persoalan yang dinilai belum terselesaikan.
Sekretaris Desa Manjung, Exsanuri, mengatakan aspirasi penutupan ponpes telah berulang kali disampaikan kepada berbagai pihak.
Menurutnya, salah satu persoalan utama adalah kondisi ponpes yang dinilai mengalami overkapasitas sejak berdiri pada 2011.
"Iya intinya menutut untuk ditutup. Tapi sudah berulang kali saya sampaikan. Ini kan sudah gejolak. Dulu itu kan overkapasitas, ya bukan dulu, sampai saat ini overkapasitas," jelasnya, Selasa (21/7/2026).
Selain masalah kapasitas, pemerintah desa juga pernah menerima informasi mengenai dugaan ketidaksesuaian antara jumlah santri yang dilaporkan dengan data sebenarnya.
Keluhan lain yang disampaikan warga berkaitan dengan aktivitas ponpes yang berlangsung hingga larut malam.
Penggunaan pengeras suara dalam berbagai kegiatan keagamaan disebut pernah mengganggu waktu istirahat masyarakat sekitar.
"Sangat terganggu. Utamanya sound. Kalau dulu. Sebelum kasus bullying itu kan sound sangat keras sekali. Bahkan melebihi sound horeg itu. Dan aktivitasnya di luar jam melebihi batas," katanya.
"Malam, malam. Kalau dulu sampai jam 1, sampai jam 12, itu. Lah terus saya sarankan sampai jam 11, oke taat. Lah setelah ada bullying ini, sudah tidak ada lagi untuk sound-nya. Utamanya sound yang dulu itu, emang sangat-sangat mengganggu," imbuhnya.
Exsanuri menjelaskan kondisi tersebut mulai membaik setelah kasus perundungan yang menewaskan seorang santri pada Desember 2025.
Sejak saat itu, pengelola ponpes disebut melakukan sejumlah pembenahan sehingga penggunaan pengeras suara tidak lagi menjadi keluhan utama warga.
Baca juga: Kemenag Siapkan Kajian Penutupan Ponpes Santri Manjung Wonogiri, Dipicu Keresahan Masyarakat
Sebelum pendirinya terseret kasus dugaan pelecehan seksual, Ponpes Manjung dikenal aktif menggelar berbagai kegiatan keagamaan yang dihadiri banyak jamaah dari berbagai daerah.
"Ya kadang ada kegiatan pengajian akbar. Kalau enggak di sini ya di lapangan, kan sering ada di sini. Sholawatan hampir tiap hari. Terus tiap malam Rabu atau malam apa, itu ada kajian khusus juga di sini," terangnya.
Namun, situasi di Ponpes Manjung kini berubah drastis.
Seluruh santri telah dipulangkan oleh keluarga masing-masing setelah kasus yang menjerat Bripka E mencuat.
Sekretaris Desa Manjung mengatakan petugas Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Wonogiri juga telah mendatangi lokasi untuk memastikan seluruh santri kembali ke rumah dengan aman.
"Sudah ke sini konfirmasi ya terkait dengan kepulangan santri itu, mereka mengatakan lego (lega) kalau sudah memang sudah dijemput. Kan banyak yang mungkin ada kekhawatiran bagaimana nantinya kalau ada di sini masih ada santri terus ada sesuatu kan enggak mengenakkan juga," ujarnya.
(*)