TRIBUNJOGJA.COM - Marcelo Dias melihat gunung kapur terbelah menjadi dua. Dari celah belahan itu tampak matahari. Pemandangan yang ia temukan ketika mengunjungi lokasi penanda gerbang perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Kecamatan Rongkop, Gunungkidul, itu menjadi inspirasi karyanya.
Siapa sangka, hasil karyanya berupa pradesain penanda perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil menang sayembara yang digelar Pemda DIY.
Karya warga Gunungkidul tersebut telah menyingkirkan 400 saingannya selama periode sayembara pada 17 April hingga 20 Juli 2026.
Marcelo pun menceritakan bagaimana proses kreatif itu ia lakoni, mulai dari sulitnya mencari ide awal hingga menyelesaikan proses desain berdasar ide yang ditemukannya.
Ia mengisahkan perjuangannya ketika ide itu muncul setelah melihat matahari muncul di antara celah gunung kapur yang terbelah, hingga tercipta sebuah karya bertajuk Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan DIY.
Awalnya, Marcelo mendengar tentang sayembara tersebut. Ia mengaku menerima informasi lomba dari Instagram.
Berniat ikut serta, ia mencoba mencari ide namun tak kunjung menemukannya. Demi mengikuti sayembara yang digelar mulai 17 April hingga 20 Juli 2026 itu, ia pun berpikir keras. “Saya mencari-cari ide terus enggak dapat-dapat ide,” kata dia, Senin (20/7/2026).
Hingga akhirnya ia memilih mendatangi lokasi yang ditentukan oleh Pemda DIY untuk penanda gerbang perbatasan, di antaranya di Kecamatan Rongkop, Gunungkidul.
“Akhirnya saya langsung aja menuju ke site-nya langsung. Lihat site-nya seperti apa, saya lihat langsung di situ kayak gitu, terus kemudian tiba-tiba saya muncul ide,” katanya.
Ketika berada di lokasi, ia melihat gunung kapur yang terbelah menjadi dua. Dari celah belahan itu tampak matahari. Pemandangan ini jadi inspirasi karyanya.
Marcelo menceritakan, cahaya yang muncul itu menuntunnya kepada hal baik. Ia kemudian mengombinasikan berbagai unsur untuk memperkuat karyanya.
“Cahaya Pradipta sendiri adalah cahaya hyang menerangi, seperti itu. Di mana saat saya survei site, memang di situ ada gunung, dua gunung kapur yang terbelah dan di situ terdapat matahari di dalamnya. Saat di situ saya mendapat inspirasi,” ujarnya.
Walau itu merupakan karya individu, Marcelo mengatakan dalam proses desain beberapa kali dibantu oleh teman-teman dan adiknya.
"Di mana cahaya tersebut menuntun saya menuju hal yang baik, hal menuju Jogja. Maka dari itu bagaimana caranya saya membuat identitas Jogja di situ semakin kuat lagi, menambahkan unsur-unsur Jogja, kemudian membuatnya di mana di situ mendapat kehangatan dan unsur budaya Jogja lebih dikenal oleh masyarakat luas,” imbuhnya.
Ikaputra, salah satu juri sekaligus Guru Besar Bidang Arsitektur, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan, total karya yang masuk pada sayembara ini sebanyak 400 yang kemudian disaring hingga mengerucut ke 5 karya terbaik.
“Luar biasa dari peminat yang ada 400 itu kita seleksi penyaringan dan ketemu 5 besar. Nah, setelah itu kita menyeleksi satu per satu dengan juri kehormatan,” ujarnya.
“Kami betul-betul memiliki satu kesatuan pendapat. Tidak ada dissenting dan sebagainya,” imbuhnya.
Ia menjelaskan keunggulan karya milik Dias adalah secara visual jika menatap pada tengah karya memiliki keunikan yang khas.
Saat siang dan malam hari juga memiliki keunikan tersendiri dan masih bisa dikembangkan. “Tapi secara jelas visual baik siang maupun malam hari cukup unik,” pungkasnya.(kompas.com)