BANGKAPOS.COM - Kerusakan salah satu mesin serta keputusan nekat menerjang cuaca buruk disinyalir menjadi pemicu utama tenggelamnya Kapal Motor (KM) Nurul Salsa di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Rabu (15/7/2026) silam.
Penyelidikan intensif terus dilakukan pihak kepolisian untuk membongkar secara detail faktor penyebab kecelakaan maut yang menyisakan duka mendalam ini.
Penelusuran penyebab musibah laut tersebut kian terang setelah nakhoda dan seluruh anak buah kapal (ABK) menjalani pemeriksaan intensif di kepolisian.
Temuan awal menunjukkan adanya kombinasi masalah teknis armada serta dugaan kelalaian navigasi di tengah kondisi gelombang tinggi.
Di saat bersamaan, aparat gabungan juga memperluas jangkauan operasi pencarian terhadap belasan korban yang hingga kini belum ditemukan.
Berikut deretan fakta terbaru terkait dugaan penyebab utama hingga perkembangan evakuasi tragedi KM Nurul Salsa.
Polres Kepulauan Selayar masih menyelidiki penyebab tenggelamnya KM Nurul Salsa.
Kapolres Kepulauan Selayar AKBP Didid Immawan mengatakan, penyidik Satreskrim telah memeriksa nahkoda bersama tujuh ABK sejak Senin (20/7/2026).
"Nahkoda dan ABK sudah diperiksa dan diamankan di Polsek Pasimasunggu," kata Didid, dikutip dari Tribun Timur, Selasa.
Menurut dia, hasil penyelidikan akan diumumkan setelah seluruh proses selesai.
"Hasil penyelidikan akan disampaikan kepada publik setelah prosesnya rampung," ujar Didid.
Ia menegaskan penyelidikan dilakukan secara profesional dengan mengedepankan alat bukti dan keterangan para saksi, termasuk nahkoda serta ABK.
Didid juga meminta seluruh personel yang terlibat dalam operasi kemanusiaan terus mengoptimalkan koordinasi di lapangan dan memberikan pelayanan terbaik kepada keluarga korban.
Ia juga berharap seluruh korban yang masih hilang dapat segera ditemukan.
Baca juga: Kisah Pilu KM Nurul Salsa Tenggelam: Kakek Umar Hilang Bersama Cucu yang Sempat Ia Beri Pelampung
Penyelidikan polisi turut mengungkap sejumlah pengakuan awal dari nahkoda KM Nurul Salsa.
Kasatpolair Polres Selayar Iptu Amad Soedachlan mengatakan, berdasarkan keterangan nahkoda, kapal tetap berlayar meski hanya menggunakan satu mesin karena mesin lainnya mengalami kerusakan.
Nahkoda juga mengaku tetap melanjutkan pelayaran meski cuaca saat itu dilaporkan buruk.
Selain itu, polisi mendalami kerusakan mesin yang terjadi sekitar lima jam setelah kapal berangkat.
Mesin dilaporkan mati total sehingga kapal tidak mampu menghadapi gelombang tinggi dan angin kencang hingga akhirnya tenggelam.
Fakta lain yang didalami penyidik ialah jumlah penumpang yang melebihi kapasitas kapal.
Berdasarkan pengakuan nahkoda, KM Nurul Salsa seharusnya hanya mengangkut 45 orang.
Namun saat berlayar, kapal membawa 76 penumpang dan sebagian di antaranya tidak tercatat dalam manifes.
Temuan tersebut menjadi salah satu aspek yang kini didalami polisi untuk mengetahui penyebab pasti tenggelamnya KM Nurul Salsa.
Nahkoda bersama tujuh ABK hingga kini masih diamankan di Polsek Pasimasunggu untuk kepentingan penyelidikan.
Di tengah operasi pencarian hari ketujuh, nelayan menemukan satu jasad yang diduga merupakan penumpang KM Nurul Salsa di perairan sekitar Pulau Pamalikang, Kabupaten Pangkep.
Informasi tersebut diteruskan ke Posko SAR Gabungan di Pelabuhan Benteng, Selayar.
Basarnas kemudian mengerahkan KN SAR Kamajaya 104 dan Rigid Inflatable Boat (RIB) KN SAR Pacitan untuk mengevakuasi jenazah.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Makassar Muhammad Arif Anwar mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan identitas korban sebelum proses identifikasi selesai.
"Pagi ini kami menerima laporan dari masyarakat nelayan di Pulau Pamalikang terkait penemuan satu jenazah yang diduga korban KLM Nurul Salsa," kata Arif.
"Kami belum dapat memastikan identitas korban sebelum proses tersebut selesai," ujarnya.
Jenazah selanjutnya dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk menjalani proses identifikasi sesuai prosedur.
Perluasan Area Operasi Pencarian 18 Korban Hilang
Basarnas bersama Tim SAR Gabungan terus melanjutkan operasi pencarian terhadap korban yang belum ditemukan.
Pada hari ketujuh operasi, area pencarian diperluas hingga 2.924 nautical mile persegi (NM⊃2;) dan dibagi ke dalam lima sektor pencarian dengan melibatkan enam Search and Rescue Unit (SRU).
Penyisiran dilakukan berdasarkan metode Search and Rescue Maritime Prediction (SARMAP) untuk memperkirakan arah hanyut korban berdasarkan arus, angin, dan cuaca.
Arif mengatakan, perluasan area pencarian dilakukan agar seluruh wilayah yang berpotensi menjadi lokasi hanyutnya korban dapat disisir secara maksimal.
"Hari ini merupakan hari ketujuh pelaksanaan operasi SAR KLM Nurul Salsa. Kami terus mengoptimalkan pencarian dengan memperluas area hingga 2.924 nautical mile persegi dan membaginya ke dalam lima sektor agar setiap wilayah yang berpotensi menjadi lokasi hanyutnya korban dapat disisir secara maksimal," kata Arif.
Ia menegaskan seluruh personel tetap berkomitmen melanjutkan pencarian.
"Kami turut berduka atas penemuan ini. Meski demikian, personel tetap berkomitmen melanjutkan pencarian terhadap korban lainnya yang masih belum ditemukan," ujar dia.
Hingga Selasa (21/7/2026), sebanyak 59 orang ditemukan selamat dan satu korban telah dipastikan meninggal dunia.
Sementara itu, 18 korban lainnya masih dalam pencarian, sedangkan identitas jasad yang baru ditemukan masih menunggu hasil identifikasi di RS Bhayangkara Makassar. (Kompas.com/ Tribun Timur/ Bangkapos.com)