BANGKAPOS.COM, BANGKA – Ninik (50), warga Kota Pangkalpinang tampak sibuk bolak-balik mengambil air dari sumur tua yang berada di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Sari Wilhelmina Park, Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, pada Selasa (21/7/2026) sore.
Dengan mengenakan kemeja, celana panjang dan tas hitam di punggungnya, ia datang membawa beberapa wadah untuk menampung air yang bakal digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Di tangannya tergenggam ember kecil yang diikat dengan seutas tali.
Ember itu perlahan diturunkan ke dalam sumur untuk menimba air yang tampak jernih.
Setelah penuh, air kemudian dipindahkan ke empat galon plastik kecil yang telah disiapkannya di pinggir sumur.
Satu per satu galon tersebut diisi hingga penuh.
Meski harus berjalan bolak-balik dan sedikit menguras tenaga, Ninik terlihat santai mengambil air yang akan digunakan untuk memasak dan kebutuhan minum keluarganya.
Baca juga: Polisi Aktif Polda Babel Terseret Dugaan Kasus Pengeroyokan Jalani Sidang Perdana
Aktivitas itu menjadi pemandangan yang kerap terlihat di sekitar sumur tua Taman Sari, terutama saat warga membutuhkan sumber air ketika musim kemarau tiba.
Ninik mengatakan, sejak dirinya kecil telah terbiasa mengambil air di sumur yang tak pernah kering tersebut.
"Dari zaman dahulu, dari waktu kecil sampai sekarang sudah tua, mengambil air di sini," kata Ninik kepada Bangkapos.com di sela kesibukannya mengambil air sumur pada Selasa (21/7/2026) sore.
Ia mengatakan, air sumur yang dia ambil digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak dan kebutuhan lainnya.
"Ini mengambil untuk air minum dan masak," lanjutnya.
Dia menjelaskan, dari sejak kecil dirinya sering bermain dan mengambil air di Taman Sari.
Saat itu kondisinya tak sebagus sekarang.
Menurutnya, saat itu, sumur kondisinya sejajar dengan tanah atau rata.
Tetapi kini keberadaannya tampak lebih menarik setelah dipercantik dengan sentuhan ornamen dan ukiran pada bagian dinding atas sumur.
Desainnya dibuat menyerupai tekstur kulit pohon, sehingga menyatu dengan suasana alami dan estetika kawasan Taman Sari.
Polesan tersebut menambah nilai keindahan sumur sekaligus memperkuat nuansa hijau di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Sari yang menjadi salah satu ruang publik favorit warga Pangkalpinang.
"Zaman dahulu walaupun musim kemarau panjang airnya tidak kering. Saya sering ke sini, orang tua saya juga mengambil airnya dan mencuci dulunya di sini. Tetapi karena sekarang sudah tua, tidak lagi. Jadi saya sendiri ke sini," katanya.
Baca juga: Bhita Tampil di Top 42 Dangdut Academy 8 Malam Ini, Kirim Virtual Gift Lewat Aplikasi Vidio
Di Taman Sari, terdapat dua sumur tua itu, berada berdekatan di ruang terbuka hijau (RTH) Taman Sari, Kota Pangkalpinang.
Lokasi ini setiap harinya menjadi sumber air bersih warga yang tak pernah kering sepanjang tahun dan musim kemarau.
Permukaan sumur ditutup setengahnya menggunakan konstruksi semen beton.
Pada bagian pinggir terdapat sebuah pipa yang menjulur masuk ke dalam sumur.
Digunakan sebagai akses untuk mengambil maupun menyalurkan air dari dalam sumur.
Lokasi sumur berada di situs Taman Sari yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, dilarang merusak dan mengotori situs, lingkungan Cagar Budaya.
Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Dato Akhmad Elvian, menjelaskan, Tamansari pada saat awal berdirinya dinamakan Wilhelmina Park terletak pada sisi Barat rumah Residen (Residentshuis Te Pangkalpinang op Bangka) dan pada sisi Timur gedung pertemuan Panti Wangka (Societeit de Harmonie).
Menurutnya, Wilhelmina Park, dirancang oleh Van Ben Benzenhorn, dibangun sejak 3 September 1913 ketika ibukota Keresidenan Bangka dipindahkan dari Kota Mentok ke Kota Pangkalpinang.
"Wilhelmina Park merupakan fasilitas pendukung dari rumah Residen Residentshuis Te Pangkalpinang op Bangka yang berfungsi sebagai taman, konservasi tanaman, tempat berolahraga ringan dan tempat berangin-angin, zich onspannen," kata Elvian kepada Bangkapos.com.
Baca juga: Fakta Baru Sidang Lundup Timah Indonesia-Malaysia, Kirim Sinyal Senter ke Kapal Hantu Milik Pai
Ia menjelaskan, pembangunan Wilhelmina Park di Kota Pangkalpinang sebagai ibukota keresidenan adalah salah satu wujud pembangunan kota ibukota yang dirancang atau direncanakan secara baik dan modern. Termasuk aspek strategis penataannya dengan berbagai fasilitas pemerintahan dan fasilitas publiknya.
Kemudian, pengubahan nama Wilhelmina Park menjadi Taman Sari dilakukan dengan alasan yang kuat untuk menyatukan simpul penegakan kedaulatan Negara antara Yogyakarta dan Bangka priode tanggal 22 Desember 1948 hingga tanggal 6 Juli1949.
"Taman Sari adalah satu taman yang indah di Yogyakarta sebagai ibukota Negara dan kelanjutannya di Bangka pada priode tanggal 22 Desember 1948 hingga tanggal 6 Juli1949," katanya.
Penamaan nama Taman Sari juga, sambung Elvian, terinspirasi dari pemikiran Bung Karno yang pernah melontarkan gagasan kekeluargaan bangsa-bangsa. Dengan memberi syarat harus memperhatikan kedudukan perjuangan rakyat indonesia itu sebagai satu bagian daripada satu revolusi besar internasional.
"Dalam pidato lahirnya Pancasila gagasan itu muncul dalam frase taman sari antar bangsa-bangsa. Pada Bulan Agustus 1951 Bung Hatta juga meresmikan Tugu Pergerakan Kemerdekaan saat beliau Kembali ke Bangka melakukan napak tilas saat pengasingan," terangnya.
Akhmad Elvian mengatakan, pada masa Walikotamadya Drs. Rustam Effendi di lokasi Tamansari ditambah fasilitas publik dengan dibuat dua sumur untuk kepentingan umum.
"Sumur pertama berfungsi untuk mandi dan cuci dan sumur kedua untuk air minum, hingga sekarang hanya satu sumur yang berfungsi untuk mandi, cuci dan air minum, pada saat musim kemarau, banyak orang Pangkalpinang berdatangan ke Taman Sari untuk mengambil air karena sumur tidak pernah kering," jelasnya.
Baca juga: Simpan Sabu di Rumah Kontrakan, Sentri Tak Berkutik Diringkus Satresnarkoba Polresta Pangkalpinang/d
Ia mengatakan, keberadaan hutan kota dan sumur dalam Taman Sari menambah pentingnya Taman Sari sebagai penanda kota dan sebagai taman simpul perjuangan bangsa.
"Pada saat sekarang Taman Sari sudah dilengkapi berbagai fasilitas-fasilitas umum yaitu, panggung terbuka, lapangan gasing, mushola, tugu edukasi, pendestrian, dan sangat cocok untuk rekreasi anak dan keluarga apalagi jika jumlah tanaman dan bunga bunga lebih didiversivikasi dan dilakukan penataan ulang," tutupnya.
(Bangkapos.com/Riki Pratama)