Dulu Sukses Menanam Semangka, Kini Aksan Abdul Kadir Petani Asal Minsel Berhenti Bertani
Ventrico Nonutu July 21, 2026 08:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Di sebuah lahan yang dulu dipenuhi hamparan tanaman semangka, Aksan Abdul Kadir petani semangka asal Matani, Minsel, Sulut, pernah merasakan manisnya hasil pertanian. 

Setiap musim panen menjadi momen yang dinantikan karena kerja keras selama berbulan-bulan akhirnya membuahkan hasil. 

Dari kebun itulah ia menghidupi keluarga dan menaruh harapan bahwa bertani bisa menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Namun, harapan itu kini tinggal kenangan.

Sudah beberapa bulan terakhir Aksan memilih berhenti menanam semangka. 

Bukan karena kehilangan semangat atau tak lagi mencintai dunia pertanian, melainkan karena keterbatasan modal yang membuatnya tak mampu melanjutkan usaha tani yang selama ini menjadi sumber penghidupan.

Untuk memulai satu musim tanam, ia membutuhkan biaya sekitar 30 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli bibit, pupuk, pestisida, hingga menyewa lahan. 

Di tengah kondisi ekonomi yang semakin berat, kebutuhan modal itu menjadi tantangan yang sulit ia atasi.

“Keinginan untuk menanam masih ada. Tapi modalnya tidak cukup. Bibit mahal, sewa tanah juga harus dibayar di awal,” ujarnya saat dihubungi Tribun Manado, Com, Selasa (21/7/2026).

Menurut Aksan, bertani semangka sebenarnya memiliki potensi keuntungan yang cukup menjanjikan jika panen berjalan baik dan harga di pasaran stabil. 

Dia pernah menikmati hasil panen yang mampu menutup seluruh biaya produksi sekaligus memberikan keuntungan bagi keluarganya.

Namun, dalam beberapa musim terakhir, kondisi berubah. 

Harga sarana produksi pertanian terus meningkat, sementara akses terhadap permodalan masih terbatas. 

Belum lagi terjadi serangan hama sehingga panennya tidak maksimal.

Tanpa tabungan yang memadai maupun bantuan modal, ia akhirnya memutuskan menghentikan aktivitas bertani.

Keputusan tersebut bukan hal yang mudah. Sebab, bertani bukan sekadar pekerjaan baginya, tetapi juga bagian dari kehidupan yang telah dijalani selama bertahun-tahun. 

Setiap sudut lahan menyimpan cerita tentang perjuangan, harapan, hingga kegembiraan saat panen tiba.

Kini, hari-harinya tak lagi dihabiskan untuk merawat tanaman semangka. Ia memilih mengerjakan pekerjaan serabutan demi memenuhi kebutuhan rumah tangga sambil berharap suatu saat dapat kembali mengolah lahan.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Aksan mengaku belum kehilangan harapan. 

Pria yang penuh semangat ini percaya kesempatan untuk kembali bertani masih terbuka apabila suatu saat memiliki modal yang cukup atau mendapat akses bantuan yang dapat meringankan biaya produksi.

“Masih ada rencana kembali menanam kalau sudah ada modal yang cukup nantinya,” ungkapnya.

Baginya, yang dibutuhkan bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan dukungan agar petani kecil tetap mampu bertahan. 

Sebab tanpa modal, banyak petani terpaksa meninggalkan lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

“Kalau ada bantuan dari pemerintah kami lebih senang karena memang selama ini pakai modal sendiri,” pungkasnya.

(TribunManado.co.id/Fer)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.