SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS - Baru-baru ini, tarian tradisional dari Kabupaten Musi Rawas mendapat pengakuan secara nasional dan ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda Indonesia tahun 2026 oleh Kementerian Kebudayaan.
Tari tersebut adalah Tari Piring Gelas. Bagi sebagian masyarakat, mungkin tak asing dengan nama tarian tersebut. Hingga kini tarian tersebut pun masih kerap ditampilkan di berbagai momen.
Lantas bagaimana cerita di balik Tari Piring Gelas asal Musi Rawas tersebut?
Kabid Kebudayaan Disbudpar Musi Rawas, Erwina mengatakan, prestasi membanggakan kembali ditorehkan Musi Rawas dengan ditetapkannya Tari Piring Gelas sebagai Warisan Takbenda oleh Kementerian Kebudayaan.
Baca juga: Tari Piring Gelas Musi Rawas Sumsel Resmi Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2026
Diceritakan Erwina, tarian tersebut pada zaman dahulu, identik dengan ritual tertentu yang sering dilakukan oleh masyarakat Suku Jawa.
Hanya saja, seiring dengan berjalannya waktu dan zaman, saat ini Tari Piring Gelas tersebut lebih sering dijadikan untuk penampilan atau pertunjukan dan kadang dipakai untuk menyambut tamu penting.
"Kalau dulu, Tari Piring Gelas ini dipakai untuk ritual, tapi sekarang tidak. Justru sekarang ini tarian itu lebih sering ditampilkan untuk pertunjukan dan penyambutan tamu," kata Erwina kepada Sripoku.com, Selasa (21/7/2026).
Bahkan lanjut Erwina, pada saat itu, tidak semua orang bisa menampilkan atau menjadi penari dalam tarian tersebut. Hanya perempuan tertentu yang bisa menampilkannya, seperti perempuan yang masih gadis atau masih perawan dan masih suci.
"Kalau dulu tidak sembarangan orang bisa menjadi penari dalam tarian ini, hanya perempuan yang masih gadis, masih perawan dan masih suci yang bisa," ungkapnya.
Selain itu masih kata Erwina, sebelum menampilkan Tari Piring Gelas, juga harus menggunakan pawang (orang dengan keahlian khusus). Sebab, tarian tersebut seperti halnya dengan akrobatik.
"Tari Piring Gelas ini penampilannya seperti akrobatik, karena sang penari akan menari di atas piring yang disusun di atas gelas secara bertingkat. Sehingga dibutuhkan seorang pawang, untuk menjaga agar penari tidak mengalami hal yang tidak diinginkan," jelasnya.
"Jadi dulu, sebelum tampil, maka pawang tersebut harus membacakan mantra yang diyakini lebih dulu," ungkapnya.
Baca juga: Mengenal Tradisi Suroan Desa E Wonokerto Musi Rawas, Warisan Budaya Jawa Digelar Setiap Bulan Suro
Namun untuk saat ini dikatakan Erwina, tarian tersebut bisa dibawakan dengan menggunakan teknik. Sehingga bisa dilakukan oleh semua orang yang tentunya sudah terlatih atau profesional.
"Untuk penari bisa naik di atas piring yang disusun bertingkat di atas gelas, itu ada tekniknya. Memang sebelumnya banyak orang berpikir, atas piring dan gelas itu sudah direkatkan dengan lem, padahal tidak sama sekali," jelasnya.
Lebih lanjut Erwina menjelaskan, karena identik dengan ritual, pada zaman dahulu penari dalam Tari Piring Gelas hanya dibawakan oleh satu orang saja.
Namun, untuk saat ini bisa dibawakan oleh 2-3 orang.
"Zaman dulu cukup 1 orang, tapi sekarang karena untuk pertunjukan, maka bisa 3 orang, dimana 2 orang sebagai dayang yang bertugas menjaga keseimbangan piring," tutupnya.