TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kota Palangka Raya terus bertambah luas selama musim kemarau.
Dalam sehari, Senin (20/7/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 17 titik kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah.
Secara kumulatif sejak Status Siaga Karhutla ditetapkan pada 1 Juni hingga 20 Juli 2026, BPBD mencatat 66 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 21,37 hektare dengan Kecamatan Jelan Rayak terbanyak capai 45 kasus.
Baca juga: Status Karhutla Kotim Dinilai Sudah Layak Naik ke Tanggap Darurat
Baca juga: Pemprov dan BPN Kalteng Percepat Reforma Agraria, Potensi Redistribusi Tanah Capai 1.822 Bidang
Baca juga: Vinicius Jr Tunda Balik ke Real Madrid, Los Blancos Buka Peluang Rekrut Haaland
Meningkatnya kejadian karhutla tersebut mendorong Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya berharap pemerintah pusat kembali melaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) apabila kondisi cuaca memungkinkan guna membantu menekan risiko meluasnya kebakaran.
Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, mengatakan berbagai upaya pencegahan telah dilakukan sejak awal musim kemarau.
Langkah tersebut meliputi sosialisasi kepada masyarakat, memperkuat Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK), melibatkan komunitas pemadam kebakaran, hingga memetakan kawasan rawan karhutla untuk memperkuat pemantauan.
"Kita sudah melakukan sosialisasi, memperkuat TSAK, melibatkan komunitas pemadam, serta memetakan daerah rawan kebakaran untuk memperkuat pemantauan," ujar Zaini, Selasa (21/7/2026).
Meski demikian, ia meminta masyarakat tetap waspada dan tidak membuka maupun mengelola lahan dengan cara membakar selama musim kemarau.
"Masyarakat benar-benar harus mengelola lahannya dengan bijak. Jangan menggunakan api sembarangan, harus sangat hati-hati," katanya.
Menurut Zaini, penanganan karhutla saat ini juga diperkuat melalui operasi water bombing menggunakan helikopter bantuan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah di sejumlah titik kebakaran.
"Beberapa titik yang mulai terbakar sudah disiram melalui water bombing. Kita sudah melihat helikopter beroperasi beberapa hari ini," ucapnya.
Sebelumnya, pemerintah pusat telah melaksanakan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Kalimantan Tengah selama 16 hari dan berakhir pada 30 Juni 2026.
Memasuki Juli, dukungan penanganan karhutla dilanjutkan melalui pengerahan helikopter water bombing.
Meski demikian, seiring meningkatnya kejadian karhutla selama musim kemarau, Pemko Palangka Raya berharap operasi TMC dapat kembali dilaksanakan apabila kondisi awan memungkinkan.
Menurut Achmad Zaini, turunnya hujan melalui TMC diharapkan dapat mengurangi kekeringan sehingga risiko kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan.
"Kalau kondisi awan memungkinkan, kita berharap pemerintah pusat dapat melaksanakan TMC agar hujan turun dan kekeringan tidak menjadi ancaman kebakaran lahan dan hutan," tuturnya.