Jelang Deadline Sanksi Open Dumping, PSEL Putri Cempo Solo Baru Olah 100 Ton Sampah per Hari
Putradi Pamungkas July 21, 2026 09:30 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – PSEL Putri Cempo masih belum mampu mengolah sampah sesuai target menjelang tenggat penghentian sistem open dumping di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo Solo, Jawa Tengah, yang berakhir pada 26 September 2026. 

Hingga kini, kapasitas pengolahan sampah baru mencapai sekitar 50 hingga 100 ton per hari atau masih jauh dari target 550 ton per hari.

Tim Ahli Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Putri Cempo, Prof. Prabang Setyono, mengatakan fasilitas yang dikelola PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP) tersebut masih beroperasi jauh di bawah kapasitas idealnya.

“Kapasitasnya kan 550 ton sebenarnya itu kan. Tapi sekarang sekitar 50-100 ton,” ungkapnya, Selasa (21/7/2026).

Seperti diketahui, Pemerintah Kota Solo mendapat sanksi penghentian praktik open dumping di TPA Putri Cempo.

Tenggat pelaksanaannya berakhir pada 26 September 2026 atau 180 hari sejak sanksi dijatuhkan pada 30 Maret 2026.

SAMPAH MEMBLUDAK - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo Solo, Rabu (8/4/2026). PSEL Putri Cempo masih belum mampu mengolah sampah sesuai target menjelang tenggat penghentian sistem open dumping di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo yang berakhir pada 26 September 2026.
SAMPAH MEMBLUDAK - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo Solo, Rabu (8/4/2026). PSEL Putri Cempo masih belum mampu mengolah sampah sesuai target menjelang tenggat penghentian sistem open dumping di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo yang berakhir pada 26 September 2026. (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

Produksi RDF Masih Minim, Baru Satu Gasifier Beroperasi

Prabang menjelaskan, rendahnya produksi Refuse-Derived Fuel (RDF) membuat pembangkit listrik dari sampah belum dapat beroperasi secara maksimal.

Saat ini, hanya satu unit gasifier yang beroperasi. Padahal, fasilitas PSEL Putri Cempo memiliki delapan gasifier yang apabila seluruhnya berfungsi dapat menghasilkan listrik hingga 8 megawatt.

“Waste processing itu untuk menyediakan feed stock bahasanya asupan ya makanannya dari gasifier ya itu kan kapasitasnya kan ada 8 gasifier ya. Kalau optimal menghasilkan 8 megawatt ya. Tapi yang bergerak sekarang baru 1 gasifier. Asupannya memang kapasitas cuman segitu,” jelasnya.

PT SCMPP Siapkan Tambahan Line Pengolahan Sampah

Menurut Prabang, rendahnya produksi RDF juga dipengaruhi karena baru satu jalur (line) pengolahan sampah yang beroperasi.

PT SCMPP berencana mengaktifkan tambahan line agar kapasitas pengolahan RDF meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan seluruh gasifier.

“Sekitar 20-30 persen saja nanti dari konversi menjadi Waste processing itu kan baru satu line ya. Rencana 2 line bahkan ini mungkin akan menjadikan 4 line. Sekarang kan 2 line sudah ada tapi yang beroperasi baru 1 line. Jadi kalau 4 line-nya yang ada kan ya diharapkan dari 100 ton ya bisa jadi menjadi 200-300 ton,” terangnya.

Prabang berharap empat line pengolahan sampah dapat beroperasi penuh sebelum akhir tahun 2026 sehingga produksi RDF meningkat dan seluruh delapan tungku gasifier memperoleh pasokan bahan bakar yang cukup.

“Direncanakan sebenarnya secepatnya akhir tahun sebenarnya 4 line,” jelasnya.

Baca juga: Target Pengolahan Sampah Putri Cempo Tak Tercapai, PT SCMPP Sudah Diperingatkan Pemkot Solo

Sampah Campuran Jadi Kendala

Prabang mengakui, sejak uji coba pertama sekitar 3,5 tahun lalu, PSEL Putri Cempo belum mampu mencapai target kapasitas pengolahan sampah.

Salah satu penyebab utamanya ialah karakter sampah yang sangat beragam.

Menurutnya, proses pengolahan menjadi lebih kompleks karena sampah yang masuk terdiri dari berbagai jenis material dalam satu aliran.

“Karena itu waste processing. Jadi ketika bicara sampah campuran plastik, styrofoam, kaca besi, bahan bangunan, organik jadi satu,” terangnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.