Laporan Wartawan TribunJabar.id, Putri Puspita
FADHLY Rafiansyah tak pernah membayangkan namanya akan dipanggil sebagai wisudawan terbaik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kerja keras menjadi alasan semua itu terjadi.
Pada usia yang baru 22 tahun, lulusan Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak itu menorehkan prestasi tertinggi. Padahal kuliah dijalani berbarengan dengan kesibukan berorganisasi, hingga bekerja sebagai software developer.
Baginya, pencapaian tersebut bukan hasil dari ambisi menjadi nomor satu, melainkan buah dari konsistensi menjalani setiap kesempatan yang datang. Jika sebagian mahasiswa menetapkan target lulus dengan predikat terbaik sejak awal kuliah, Fadhly justru menjalani masa perkuliahan dengan santai.
Ia aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan, menekuni hobinya di bidang musik, hingga mulai bekerja sebelum menyelesaikan studi.
Baca juga: ITB dan UPI Rilis Jadwal Tahun Akademik, Mahasiswa Baru Jalani Orientasi hingga Akhir Agustus
“Tapi, alhamdulillah dengan kerja keras akhirnya bisa menjadi mahasiswa terbaik,” kata Fadhly saat ditemui seusai acara wisuda, Selasa (21/7).
Materi perkuliahan bukan tantangan berat baginya selama empat tahun, melainkan membagi waktu. Di satu sisi, ia harus memenuhi kewajiban akademik, di sisi lain aktif di Himpunan Mahasiswa Program Studi dan Unit Kegiatan Mahasiswa Dapur Seni yang menjadi wadahnya menyalurkan minat bermusik. Pada saat yang sama, ia juga harus memenuhi tanggung jawab sebagai pekerja.
Perjalanan karier Fadhly juga berawal dari sesuatu yang sederhana. Saat memasuki semester lima hingga enam, ia mencoba mengikuti program magang sebagai software developer. Awalnya, ia hanya ingin mencari tambahan uang jajan.
Namun, kemampuannya membuat perusahaan tempat magang memercayainya untuk tetap bekerja. Bahkan, dia pun tetap bekerja di sana hingga lulus kuliah ini.
Menariknya, dunia pemrograman bukanlah bidang yang telah ia kuasai sejak sekolah. Ia mengaku baru mengenal dan mempelajari rekayasa perangkat lunak ketika kuliah di UPI.
Baca juga: Polemik CADAS SPMB Jabar, Pengamat UPI Sebut Disdik Jabar Kurang Matang Petakan Kuota Sekolah
Meski harus bekerja, aktivitas akademiknya tetap berjalan. Fadhly menjalani magang secara jarak jauh sejak semester enam. Dia tetap bekerja saat masuk bangku kuliah lagi pada semester tujuh. Pekerjaan dia lakukan secara remot. Kini, ia pun bersiap kembali ke Bogor untuk melanjutkan pekerjaannya.
Lulusan teknologi informasi yang kini bekerja di industri perangkat lunak, Fadhly menyadari tantangan dunia kerja semakin besar. Kehadiran artificial intelligence (AI) membuat banyak orang khawatir kehilangan pekerjaan, termasuk di bidang teknologi.
Dia mengakui kondisi tersebut memang nyata. Persaingan kerja di sektor IT semakin ketat karena jumlah lulusan terus bertambah, sementara beberapa jenis pekerjaan mulai tergantikan oleh otomatisasi.
Namun, dia tidak menjadikan AI sebagai musuh tetapi teman agar bisa bekerja lebih baik dalam menghadapi klien. Ia mengajak mahasiswa maupun calon mahasiswa di bidang komputer untuk terus mengikuti perkembangan teknologi, tidak terpaku pada satu kemampuan.
Baca juga: Dedi Mulyadi Lepas 1.147 Mahasiswa UPI untuk Mengajar di Pelosok Melalui Probidik Gema Jabar
“Kalau masuk jurusan komputer, semangat saja. Jangan tertinggal. Jangan fokus di satu topik saja. Kalau ada inovasi baru, terima dan mulai beradaptasi dengan teknologi terbaru,” katanya.
Di balik keberhasilannya mendapatkan pekerjaan sebelum lulus, Fadhly mengaku relasi memiliki peran yang sangat besar. Aktif di organisasi tidak hanya memberinya pengalaman kepemimpinan, tetapi juga memperluas jaringan pertemanan yang akhirnya membuka peluang karier.
“Dari teman-teman di himpunan maupun Dapur Seni, ada yang kenal ini, kenal itu, akhirnya saya mendapat kesempatan kerja juga,” tuturnya.
Baginya, prestasi akademik memang penting, tetapi kemampuan membangun hubungan baik dengan banyak orang menjadi bekal yang tak kalah berharga ketika memasuki dunia profesional. (*)