Jakarta (ANTARA) - Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr. Angga Wirahmadi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S.(K) mengingatkan orang tua untuk menjalin komunikasi dan mencermati perilaku anak mereka untuk mendeteksi gangguan kesehatan mental.

Dalam webinar yang diikuti dari Jakarta, Selasa, Angga menjelaskan bahwa gangguan mental pada anak kerap tidak terlihat secara jelas.

Angga menjelaskan gangguan mental berupa depresi pada anak dan remaja umumnya ditandai dengan minat terhadap kegiatan yang disukai menurun, nafsu makan berkurang dan merasa tidak berharga.

Selain itu, gangguan kesehatan mental yang juga kerap ditemui pada anak dan remaja adalah kecemasan, yang ditunjukkan dengan pikiran berlebihan, gelisah, susah tidur dan keluhan seperti sakit perut tiba-tiba tanpa alasan.

"Gejala ini sering dianggap perubahan perilaku biasa pada remaja, padahal bisa menjadi tanda awal gangguan mental," kata Angga.

Dia mendorong agar orang tua membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan deteksi dini masalah kesehatan mental yang dialami anak.

Jika anak diketahui mengalami gangguan kesehatan mental, orang tua disarankan untuk mengajak anak menerapkan pola makan seimbang dan aktivitas fisik, pencegahan cedera yang disengaja. Kemudian edukasi mengenai kekerasan fisik, psikologis dan seksual termasuk soal pranikah dan kontrasepsi.

Orang tua juga perlu mencegah konsumsi rokok dan alkohol terutama pada remaja. Selain itu juga berperan untuk mendukung anak kembali melakukan kegiatan positif di sekolah seperti berorganisasi, mengembangkan hobi dan olahraga.

Orang tua juga perlu menjalin komunikasi yang baik dengan anak untuk mendukung kesehatan mental anak di rumah.

Kepada anak-anak, Angga berpesan agar mereka bercerita kepada orang tua, guru atau teman yang dipercaya jika mereka memiliki masalah.