BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Jauh sebelum masyarakat Pangkalpinang menikmati layanan air bersih melalui jaringan perpipaan, kebutuhan air sehari-hari bergantung pada sumur-sumur galian yang tersebar di berbagai lokasi.
Salah satu yang dikenal hingga kini adalah Sumur Tangsi, yang keberadaannya berkaitan erat dengan kawasan barak polisi pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Dato' Akhmad Elvian, menjelaskan bahwa sebelum fasilitas instalasi air minum atau waterleiding dibangun pada 1927, pemerintah kolonial belum memiliki sistem penyediaan air bersih bagi Kota Pangkalpinang.
Menurutnya, pembangunan waterleiding baru dimulai pada masa Residen Bangka J.E. Edie, yang menjabat sejak 17 Mei 1925 hingga pensiun pada 3 Mei 1928.
Program tersebut kemudian dilanjutkan oleh Residen H.M. Starhamer dengan membangun menara air (watertoren) di kawasan Bukit Baru pada 1932.
"Sebelum ada jaringan air minum, pemerintah kolonial mengandalkan sumur-sumur galian sebagai sumber utama air bersih," ujar Akhmad Elvian kepada Bangkapos.com, Selasa (21/7/2026).
Ia menjelaskan, saat itu kendala terbesar pembangunan jaringan air bersih adalah belum ditemukannya sumber air baku yang memenuhi syarat sebagai air minum.
Karena itu, sumur digali di berbagai fasilitas penting milik pemerintah Hindia Belanda. Mulai dari rumah Residen, rumah Asisten Residen, kediaman pegawai pemerintah, rumah pejabat perusahaan timah Belanda (Bangka Tin Winning Bedrijf/BTW), sekolah, perkantoran, rumah sakit, penjara, hingga kompleks militer dan barak polisi.
Tak hanya pemerintah, masyarakat juga membuat sumur secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Di sejumlah kampung bahkan terdapat lokasi yang dikenal sebagai Pemandian Kesarangan, yakni tempat warga mandi, mencuci, dan mengambil air bersama.
"Biasanya lokasi sumur dipilih oleh orang-orang yang memiliki keahlian mencari sumber air. Tidak semua warga mampu menggali sumur sendiri sehingga banyak yang memanfaatkan sumur bersama," jelasnya.
Akhmad Elvian mengungkapkan, keberadaan Sumur Tangsi tidak terlepas dari kawasan yang pada masa kolonial dikenal sebagai Kampement van de Veldpolitie atau barak polisi lapangan.
Hal itu tercatat dalam peta Resident Bangka en Onderh yang dipetakan oleh Topografische Dienst pada 1928-1929.
Dalam peta tersebut terlihat kawasan Eropa (Europe Wijk) di wilayah Bukit, Distrik Pangkalpinang.
Di sisi timur jalan utama (verharde weg) berdiri bangunan Penjara Negara (s'landsgevangenis), sedangkan di sisi baratnya terdapat barak dan lapangan polisi (kampement v/d veldpolitie).
"Dua kawasan itu kemudian dikenal masyarakat sebagai kawasan Tangsi," kata Akhmad.
Untuk menunjang aktivitas para penghuni kawasan tersebut, pemerintah kolonial membangun fasilitas pendukung, termasuk sebuah sumur yang menjadi sumber air bersih.
Seiring berjalannya waktu, sumur tersebut lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Sumur Tangsi, merujuk pada lokasi keberadaannya yang berada di kawasan tangsi atau kompleks barak polisi.
Keberadaan Sumur Tangsi menjadi saksi bagaimana masyarakat dan pemerintah kolonial memenuhi kebutuhan air bersih sebelum hadirnya sistem perpipaan modern di Pangkalpinang.
Sumur ini bukan hanya memiliki fungsi sebagai penyedia air, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah perkembangan infrastruktur dan tata kota Pangkalpinang pada masa Hindia Belanda.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)