Ahli Jelaskan Penyebab Sumur Tua Galian di Tamansari Kota Pangkalpinang Tak Pernah Kering
Hendra July 21, 2026 11:03 PM

BANGKAPOS.COM,BANGKA -- Dua sumur tua yang berada di di ruang terbuka hijau (RTH) Taman Sari, Kota Pangkalpinang menjadi sumber air bersih bagi warga sekitar.

Sumur tua yang berdiameter cukup besar ini tak pernah kering meskipun di musim kemarau panjang melanda Pangkalpinang.

Saat ini yang sarat sejarah ini sudah dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Oleh karena itu, masyarakat dilarang merusak maupun mengotori situs dan lingkungan cagar budaya tersebut.

Penyelidik Bumi Ahli Muda Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ervina Puri Utami, menyampaikan analisis bahwa sumur gali yang tidak pernah kering secara geologi ini dipengaruhi oleh keberadaan akuifer bebas yang stabil, imbuhan air tanah yang baik, serta litologi yang porus dan memiliki permeabilitas tinggi.

Faktor utamanya mencakup posisi muka air tanah yang dangkal, air hujan yang meresap ke tanah secara kontinu, dan jenis batuan atau tanah yang jenuh air.

"Akuifer bebas ini mampu menyuplai air tanah dan mempertahankan muka air tanah sepanjang tahun. Akuifer adalah lapisan batuan jenuh air tanah yang dapat menyimpan dan meneruskan air tanah dalam jumlah cukup dan ekonomis," kata Ervina Puri Utami kepada Bangkapos.com, Selasa (21/7/2026).

Ia menjelaskan, akuifer tidak tertekan atau akuifer bebas adalah akuifer yang dibatasi di bagian atasnya oleh muka air tanah bebas dan di bagian bawahnya oleh lapisan kedap air.

Muka air tanah adalah ketinggian permukaan air tanah suatu sistem akuifer pada suatu lokasi dan waktu tertentu.

"Ada beberapa faktor sumur gali tidak pernah kering. Geologi litologi, karakteristik batuan di area sumur gali mempunyai porositas atau kemampuan batuan menyimpan air dan permeabilitas atau kemampuan batuan mengalirkan air yang baik. Seperti endapan kerikil, endapan pasir, aluvium, lempung pasiran, dan pasir lempungan sehingga air hujan mudah meresap dan mengisi kembali cadangan air," lanjutnya.

Kemudian, secara hidrogeologi, sumur gali berada pada sistem akuifer tidak tertekan atau akuifer bebas, di mana posisi muka air tanahnya sangat dipengaruhi oleh suplai air hujan dan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Dalam artian, akuifer memiliki kemampuan penyimpanan yang tinggi dan terjadi pengisian ulang (recharge) secara terus-menerus tanpa terhalang lapisan kedap air.

"Lalu kondisi lingkungan di sekitar sumur gali merupakan daerah resapan air atau imbuhan (recharge area) yang aktif dan luas, yang keberadaannya didukung oleh tutupan vegetasi yang sangat baik, tanah bertekstur pasir atau lempung berpasir, serta keberadaan sumur pada lembah atau cekungan sehingga merupakan wadah tempat infiltrasi air dan aliran air tanah," katanya.

Kondisi ini, sambungnya, akan menghasilkan imbuhan air tanah yang cukup sehingga muka air tanah tetap stabil.

"Kesimpulan geologi, dari sudut pandang geologi dan hidrogeologi, sumur gali yang tidak kering mengindikasikan adanya akuifer yang produktif dan berkesinambungan, didukung oleh litologi yang porus dan permeabel, daerah imbuhan yang memadai, ketebalan akuifer yang cukup, keseimbangan neraca air tanah, serta kemungkinan adanya struktur geologi yang memperlancar aliran air tanah," tutupnya.

(Bangkapos.com/Riki Pratama

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.