TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kolaborasi lintas instansi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui program Penguatan Ekosistem Ekonomi Produktif Lumbung Mataraman terus menunjukkan hasil nyata.
Sepanjang 2026, program ini sukses menyalurkan pembiayaan produktif perbankan senilai total Rp 9,17 miliar untuk menggerakkan perekonomian desa dan memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Pembiayaan tersebut merupakan buah dari sinergi antara Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) DIY, Bank BPD DIY, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menegaskan bahwa Lumbung Mataraman bukan sekadar tempat penyimpanan bahan pangan, melainkan sebuah sistem sosial-produktif.
Program ini berakar kuat pada falsafah lokal nandur apa sing dipangan, mangan apa sing ditandur (menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam).
"Lumbung Mataraman ini adalah lumbung pangan hidup. Intinya mengajarkan kemandirian keluarga untuk menanam apa yang dimakan, merawat alam, sekaligus mencukupi gizi dari pekarangan sendiri," kata Ni Made di Lumbung Mataraman Bendung, Kapanewon Semin, Gunungkidul, Selasa (21/7/2026).
Prinsip tersebut diwujudkan melalui berbagai langkah konkret, mulai dari diversifikasi konsumsi pangan lokal, pelestarian sumber daya genetik pangan, pembuatan kebun bibit, hingga pemanfaatan pekarangan rumah secara berkelanjutan.
Melalui dukungan Dana Keistimewaan DIY, program ini juga masuk dalam urusan kebudayaan sebagai bentuk revitalisasi tradisi agraris dan gotong royong.
"Dalam budaya kita, pertanian bukan sekadar memproduksi barang dagangan, tapi soal hubungan manusia dengan alam dan sesama. Jadi, penguatan ekonomi ini tidak boleh meninggalkan akar budayanya," tegas Ni Made.
Baca juga: Pemda DIY Kampanyekan Becak Listrik Gratis di Malioboro dan Uji Coba Sistem Digitalisasi
Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda DIY, Eling Priswanto, memaparkan bahwa program ini merupakan bagian dari Peta Jalan (Roadmap) TPAKD DIY 2026–2030 sekaligus wujud dukungan terhadap Program Strategis Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pelaksanaannya dipusatkan di empat kalurahan percontohan, yaitu Kalurahan Bendung (Kabupaten Gunungkidul), Kalurahan Wukirsari (Kabupaten Bantul), Kalurahan Glagahharjo (Kabupaten Sleman), dan Kalurahan Giripeni (Kabupaten Kulon Progo).
Sepanjang 2026, telah dilaksanakan 38 kegiatan pendampingan, yang terdiri dari 7 kegiatan pra-inkubasi (kunjungan dan koordinasi lintas instansi) serta 31 kegiatan inkubasi (pendampingan usaha, peningkatan kapasitas SDM, sosialisasi, pameran, hingga evaluasi).
"Dari total 38 kegiatan pendampingan tahun ini, hasilnya terlihat jelas. Akses warga ke layanan keuangan perbankan melonjak dan usaha di kalurahan makin maju," ujar Eling.
Adapun rincian capaian inklusi keuangan dalam ekosistem ini meliputi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp9,17 miliar kepada 120 debitur, Kredit Kawan Usaha sebesar Rp160 juta kepada tiga debitur, serta Kredit Mikro Makarti sebesar Rp165 juta kepada tiga debitur.
Selain itu, program ini juga berhasil mencatatkan penghimpunan tabungan yang mencapai Rp1,5 miliar dari 488 nasabah.
Dari sisi digitalisasi keuangan, program ini berhasil mendorong terbentuknya tiga agen Laku Pandai BPD DIY, pendaftaran 80 merchant QRIS, serta mendorong 179 warga untuk mulai menggunakan layanan mobile banking.
Meski mencatat tren positif, Eling memberi catatan bahwa ke depan pemerintah masih perlu menguatkan kualitas kelembagaan usaha, meningkatkan kapasitas produksi, membangun infrastruktur pendukung, serta mempercepat digitalisasi di desa.
Ni Made turut menambahkan bahwa kelompok warga harus difasilitasi dengan literasi keuangan dan temu bisnis (business matching).
"Kelompok warga harus bisa membaca pasar, menjaga produksi dan mutu produk, memperbaiki kemasan, hingga membangun identitas merek yang kuat," tambahnya.
Dalam acara tersebut, Pemda DIY bersama Bank BPD DIY juga menyerahkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) berupa mesin pencacah sampah plastik kepada pengelola Lumbung Mataraman Bendung.
Apresiasi secara khusus diberikan kepada Bank BPD DIY yang secara aktif turun langsung mendampingi kelompok masyarakat.
Lurah Bendung, Didik Rubiyanto, menyambut baik bantuan yang dinilai sangat tepat sasaran tersebut.
Menurutnya, Kalurahan Bendung yang tengah dikembangkan menjadi kawasan wisata sangat membutuhkan solusi tata kelola lingkungan yang terintegrasi dengan ekonomi.
"Mesin ini sangat membantu kami mengurangi tumpukan sampah plastik, sekaligus mengolahnya menjadi produk yang bernilai uang. Ini sangat pas untuk mendukung pengembangan wisata dan ekonomi warga Bendung," kata Didik.
Acara yang turut dihadiri Direktur Utama Bank BPD DIY, Santoso Rohmad, perwakilan Bank Indonesia, OJK, dan jajaran Pemkab Gunungkidul ini juga dimeriahkan dengan peninjauan gerai UMKM serta talkshow literasi keuangan bersama OJK DIY dan Dinas Koperasi dan UKM.
Ke depan, ekosistem produktif ini diharapkan terus berlanjut sebagai program unggulan DIY dalam melahirkan kelompok usaha desa yang tangguh dan menjaga kedaulatan pangan berbasis keluarga. (*)