UNM Bantu UMKM Bulukumba Terapkan Sistem Kerja Modern Berbasis Budaya Lokal
Imam Wahyudi July 21, 2026 11:07 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, BULUKUMBA – Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung penguatan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) PNBP Penugasan Tahun Anggaran 2026 yang digelar di Desa Balleanging, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, Sulsel, Sabtu (18/7/2026) lalu.

Kegiatan pengabdian itu mengangkat tema “Transformasi UMKM Berbasis Science, Art, and Technology untuk Mewujudkan Usaha Berkelanjutan.” 

“Tema tersebut dipilih sebagai upaya mendorong pelaku UMKM agar mampu mengembangkan usahanya melalui penerapan tata kelola modern tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya lokal yang telah menjadi identitas masyarakat,” kata Ketua Tim Pengabdian, Dr H Agung Widhi Kurniawan, Selasa (21/7/2026).

Program PKM merupakan salah satu bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. 

Melalui kegiatan ini, dosen tidak hanya mentransfer pengetahuan akademik.

Namun juga mendampingi masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi, termasuk dalam pengelolaan usaha.

“Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNM,” tambahnya.

Tim pengabdian terdiri atas Dr H Agung Widhi Kurniawan, Dr Burhanuddin, dan Hery Maulana Arif.

Mereka turun langsung memberikan pendampingan kepada para pelaku UMKM di Desa Balleanging.

Tim mengusung tema “Penguatan Manajemen SDM Berbasis Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Kinerja UKM.” 

Burhanuddin mengatakan fokus utama program ini adalah memperkuat kapasitas sumber daya manusia pelaku UMKM melalui penerapan sistem manajemen yang profesional. 

Menurutnya, pendekatan tersebut dipadukan dengan nilai-nilai budaya Bugis-Makassar agar pelaku usaha mampu membangun tata kelola yang berkelanjutan sekaligus tetap mempertahankan identitas lokal.

Dalam pelaksanaannya, para pelaku UMKM memperoleh pendampingan mulai dari penyusunan struktur organisasi usaha dan pembagian tugas (job description). 

Mereka juga dibekali penyusunan standar operasional prosedur (SOP) produksi serta penerapan sistem quality control sederhana untuk menjaga kualitas produk. 

“Selain itu, tim membantu peserta menyusun lembar evaluasi kinerja dan logbook pencatatan produksi sebagai upaya membangun tata kelola usaha yang lebih profesional,” kata Burhanuddin.

Pendampingan tersebut diharapkan mampu membantu pelaku usaha membangun sistem kerja yang lebih tertata.

Sehingga aktivitas usaha tidak lagi bergantung pada kebiasaan semata, tetapi didukung oleh tata kelola yang jelas, terukur, dan berorientasi pada peningkatan kualitas produk maupun pelayanan.

Selain aspek manajerial, tim pengabdian juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya manusia dalam meningkatkan produktivitas usaha. 

Menurut Burhanuddin, kualitas SDM merupakan faktor penting dalam menentukan keberhasilan sebuah usaha, terutama di tengah persaingan yang semakin kompetitif.

Keunikan program ini terletak pada pendekatan yang memadukan konsep manajemen modern dengan nilai-nilai kearifan lokal Bugis-Makassar. 

Nilai seperti sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling menghargai).

Terlebih semangat gotong royong dinilai masih sangat relevan diterapkan dalam membangun budaya kerja yang sehat, harmonis, dan produktif.

Dalam sesi penyampaian materi, Burhanuddin menekankan sejumlah sasaran strategis.

Yakni meningkatkan kapasitas manajerial pelaku UMKM, mengintegrasikan budaya lokal ke dalam sistem kerja usaha, memperkuat tata kelola organisasi.

Selanjutnya meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha.

Melalui penerapan sistem kerja yang lebih modern, para pelaku UMKM diharapkan mampu menghasilkan produk yang lebih berkualitas.

Lalu memperbaiki proses produksi, meningkatkan pelayanan kepada konsumen, hingga memperluas peluang pemasaran.

Kegiatan PKM ini turut dihadiri Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNM, Ketua Program Studi Manajemen FEB UNM.

Kepala Desa Balleanging, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Bulukumba, para pelaku UMKM, serta masyarakat setempat yang menjadi peserta kegiatan.

Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut menunjukkan adanya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mendukung penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.

Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan hasil pengabdian tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata, tetapi dapat diterapkan secara nyata oleh pelaku UMKM dalam menjalankan usahanya sehari-hari.

Selama kegiatan berlangsung, peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi materi maupun diskusi. 

Mereka juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi mengenai berbagai persoalan usaha yang dihadapi.

Mulai dari pembagian tugas dalam usaha keluarga, penyusunan SOP, pengendalian mutu produk, hingga strategi meningkatkan produktivitas.

Burhanuddin berharap program pendampingan ini mampu memberikan dampak jangka panjang bagi pengembangan UMKM di Desa Balleanging. 

Dengan penerapan sistem kerja yang lebih profesional, manajemen usaha yang lebih baik.

Yang terpenting adalah penguatan budaya kerja berbasis kearifan lokal, pelaku UMKM diharapkan mampu meningkatkan daya saing, memperluas pasar, dan menciptakan usaha yang lebih tangguh serta berkelanjutan.

Melalui kegiatan PKM ini, UNM juga menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dalam mendukung pembangunan masyarakat.

Sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.