Jamaah Tak Lagi Repot Membawa Buah Tangan, Oleh-Oleh Haji dan Umrah Sudah Menunggu di Pekanbaru
Nolpitos Hendri July 21, 2026 11:20 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Bagi sebagian orang, oleh-oleh haji dan umrah hanyalah buah tangan dari perjalanan ibadah, namun di balik itu, tersimpan potensi ekonomi yang terus bertumbuh dan menjanjikan.

Sepanjang tahun, jutaan umat Islam berangkat haji dan umrah, maka kebutuhan akan oleh-oleh khas Tanah Suci diyakini akan tetap ada.

Peluang inilah yang membuat bisnis oleh-oleh haji dan umrah tersebut terus berkembang dan semakin menjanjikan.

Di tengah deretan toko yang menjual berbagai kebutuhan di Jalan Lobak, Pekanbaru, terdapat satu toko dengan nuansa khas Timur Tengah yang tampak menarik.

Rak-rak berisi kurma, air zamzam, sajadah, tasbih, perlengkapan ibadah, hingga berbagai suvenir haji dan umrah tersusun rapi menyambut pelanggan yang datang.

Toko bernama Rumah Raudhoh ini menjadi salah satu gambaran bagaimana bisnis oleh-oleh haji dan umrah kini berkembang menjadi peluang usaha yang menjanjikan.

Jika dahulu masyarakat terbiasa menunggu jemaah pulang dari Tanah Suci untuk mendapatkan oleh-oleh, kini kebiasaan itu mulai berubah.

Banyak keluarga jemaah memilih cara yang lebih praktis dengan memesan berbagai kebutuhan oleh-oleh sebelum kepulangan.

Jemaah tidak perlu lagi membawa banyak barang tambahan di dalam koper yang dapat menambah beban perjalanan.

Cukup melakukan pemesanan, kemudian keluarga di Tanah Air mengambil oleh-oleh tersebut, sehingga saat jemaah tiba di rumah, paket sudah tersedia dan siap dibagikan kepada saudara, tetangga, maupun kerabat.

Perubahan pola inilah yang membuat bisnis oleh-oleh haji dan umrah terus tumbuh, termasuk di Pekanbaru.

Permintaan tidak hanya datang dari jemaah yang baru pulang, tetapi juga dari masyarakat yang ingin berbagi keberkahan dengan menyediakan buah tangan khas Tanah Suci untuk berbagai kesempatan.

Salah satu pelaku usaha yang melihat peluang tersebut adalah Ade Kurniawan.

Berawal dari satu toko oleh-oleh haji dan umrah Raudhoh di Jalan Lobak, usaha yang dirintisnya perlahan berkembang hingga memiliki beberapa cabang dengan konsep berbeda.

Setelah toko di Jalan Lobak berkembang, Ade kemudian membuka toko kedua di Jalan Paus dengan nama Istana Araby.

Tidak berhenti di sana, ia kembali membuka Raudhoh di Jalan Sudirman, kemudian terbaru menghadirkan toko di Jalan Delima dengan nama Rawha.

"Awalnya hanya satu toko, kemudian berkembang karena melihat kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi. Kami mencoba menghadirkan konsep yang berbeda di setiap lokasi meskipun produk yang dijual hampir sama," kata Ade Kurniawan kepada Tribun, Selasa (21/7/2026).

Menurutnya, setiap toko memiliki karakter masing-masing.

Toko Raudhoh di Jalan Lobak menjadi yang paling lengkap karena selain menyediakan oleh-oleh haji dan umrah, juga tersedia berbagai pakaian muslim.

Sementara toko lainnya lebih menyesuaikan dengan kebutuhan dan karakter pelanggan di kawasan tersebut.

Dari sisi harga, paket oleh-oleh juga dibuat beragam agar bisa menjangkau berbagai kalangan.

Paket sederhana tersedia mulai dari Rp10 ribu, kemudian Rp17 ribu, Rp26 ribu hingga Rp40 ribu.

Selain paket yang sudah disiapkan toko, ada pula pelanggan yang membeli produk secara kiloan untuk dirangkai sendiri sesuai kebutuhan.

"Rata-rata sekali pesan bisa mencapai ratusan paket. Ada yang memesan 100 paket, tetapi tidak sedikit juga yang mencapai 400 hingga 500 paket sekali pembelian," jelas Ade.

Produk yang tersedia juga cukup beragam.

Selain kurma dan air zamzam, tersedia sajadah, kain ihram, tasbih, Al-Qur'an digital, suvenir, aksesori, hingga berbagai produk herbal seperti madu, vitamin anak, garam Himalaya, minyak zaitun, dan kebutuhan lainnya.

Ade mengatakan, salah satu tantangan bisnis ini adalah mengikuti siklus perjalanan haji dan umrah.

Penurunan penjualan biasanya terasa saat masa peralihan dari musim umrah menuju musim haji.

Pada pertengahan Syawal hingga menjelang keberangkatan haji, aktivitas umrah menurun sehingga permintaan ikut berkurang.

"Biasanya hampir dua bulan agak berat karena tidak ada jamaah umrah. Ditambah beberapa waktu lalu nilai dolar juga naik sehingga ada pengaruh terhadap harga barang," jelasnya.

Namun setelah musim haji selesai dan jemaah mulai kembali ke Tanah Air, aktivitas bisnis kembali meningkat.

Momen kepulangan jemaah menjadi salah satu periode paling ramai karena banyak keluarga yang membutuhkan oleh-oleh untuk dibagikan.

Selain momentum haji dan umrah, bulan Ramadan juga menjadi periode dengan permintaan tinggi.

Kebutuhan kurma meningkat karena menjadi salah satu makanan yang identik dengan bulan suci.

Menurut Ade, hampir semua lapisan ekonomi memiliki kebutuhan terhadap produk oleh-oleh tersebut.

Untuk menjaga kualitas produk, terutama barang yang membutuhkan penyimpanan khusus seperti kurma, pihaknya juga menyediakan tempat penyimpanan dengan suhu tertentu.

Hal itu dilakukan agar produk tetap terjaga kualitasnya sebelum sampai ke tangan pelanggan.

Dalam mengembangkan usaha, Ade menilai lokasi menjadi salah satu faktor penting.

Toko yang berada di kawasan strategis, mudah terlihat, memiliki akses parkir, dan banyak dilalui masyarakat akan lebih mudah berkembang.

"Kalau memang niat berjualan dan lokasinya tepat, insya Allah ada jalannya. Lokasi sangat menentukan, karena semakin banyak orang melihat toko, semakin besar peluang pelanggan datang," ulasnya.

Selain lokasi, strategi pemasaran juga menjadi bagian penting.

Ade memanfaatkan media sosial, pemasangan spanduk, hingga bekerja sama dengan sejumlah akun populer di Pekanbaru untuk memperkenalkan produknya.

Baginya, bisnis oleh-oleh haji dan umrah bukan hanya untuk menjual barang, tetapi juga menghadirkan kemudahan bagi masyarakat yang ingin berbagi kebahagiaan setelah perjalanan ibadah ke Tanah Suci.

Sementara itu salah seorang jamaah asal Kualu Pekanbaru, Siti Rahma mengatakan, keberadaan toko oleh-oleh haji dan umrah sangat membantu.

Saat pulang dari Tanah Suci beberapa waktu lalu, ia memilih memesan seluruh oleh-oleh di Pekanbaru sehingga tidak perlu memenuhi koper dengan barang bawaan tambahan.

Menurutnya, cara tersebut membuat perjalanan pulang jauh lebih nyaman karena ia cukup membawa barang pribadi.

"Kalau dulu pulang umrah koper isinya lebih banyak oleh-oleh daripada barang sendiri. Sekarang lebih praktis. Tinggal pesan dari Pekanbaru, keluarga yang mengambil, begitu sampai rumah semua sudah tersedia dan tinggal dibagikan kepada keluarga maupun tetangga," ujarnya.

Hal senada disampaikan Yuliana, salah seorang warga Sukajadi Pekanbaru yang keluarganya baru saja menunaikan ibadah haji.

Ia mengaku sengaja memesan ratusan paket oleh-oleh sebelum anggota keluarganya pulang dari Tanah Suci.

Dengan begitu, saat jemaah tiba di rumah, seluruh paket sudah siap dibagikan kepada tamu yang datang bersilaturahmi.

"Menurut saya lebih praktis dan tidak merepotkan jemaah. Pilihan produknya juga banyak, harganya bervariasi, sehingga bisa disesuaikan dengan anggaran. Yang paling penting, keluarga yang baru pulang haji bisa lebih fokus beristirahat dan bersilaturahmi tanpa harus sibuk mengemas oleh-oleh," tuturnya.

( Tribunpekanbaru.com / Alexander )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.