Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris | Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Ketua Umum Asosiasi Dosen Lintas Perguruan Tinggi (DKLPT), Dr Tgk Nanda Saputra, MPd resmi meraih gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian tertutup Program Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Senin (20/7/2026).
Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan akademisi Aceh karena penelitian yang diangkat mengangkat Hadih Maja Aceh, salah satu warisan budaya lisan masyarakat Aceh, ke ranah kajian ilmiah di tingkat nasional.
Tokoh Pendidikan Kota Santri Bireuen sekaligus Dosen Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Dr Tgk Karimuddin, MA yang juga menjabat Sekretaris DKLPT mengatakan, ujian disertasi berlangsung dinamis di Aula Gedung G Lantai 3 FKIP UNS mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.
Menurutnya, selama ujian berlangsung, Nanda Saputra harus menjawab berbagai pertanyaan, kritik, serta pendalaman materi dari tim penguji terkait substansi penelitian yang disusunnya.
Tim penguji terdiri atas Dr Imam Sujadi, MSi, Prof Kundharu Saddhono, SS, MHum, Prof Dr Sarwiji Suwandi, MPd, Prof Dr Rr Elisabeth Nugraheni Eko Wardani, SS, MHum, Dr Raheni Suhita, MHum, Prof Dra Ani Rakhmawati, MA, PhD, serta Dr Isah Cahyani, MPd dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Setelah melalui proses akademik yang berlangsung cukup intens, Nanda Saputra dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar doktor.
Baca juga: Kutip Hadih Maja, Safrizal Ajak Aceh Bangun Harmoni dengan Alam
Karimuddin menyampaikan, bahwa capaian tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan bagi organisasi DKLPT, tetapi juga masyarakat Aceh karena berhasil membawa kekayaan intelektual daerah ke dalam kajian akademik nasional.
"Ini merupakan pencapaian yang sangat membanggakan. Dr Nanda Saputra berhasil menunjukkan bahwa kearifan lokal Aceh memiliki nilai ilmiah yang tinggi dan layak menjadi bagian dari diskursus akademik nasional," ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Menurut Karimuddin, Hadih Maja yang selama ini hidup dalam tradisi lisan masyarakat Aceh kini memperoleh ruang baru melalui penelitian ilmiah sehingga dapat didokumentasikan dan diwariskan kepada generasi mendatang melalui dunia pendidikan.
Disertasi yang diangkat Nanda Saputra berjudul "Hadih Maja Aceh dalam Perspektif Ekokritik Cheryll Glotfelty dan Pemanfaatan dalam Penyusunan Buku Teks Apresiasi Sastra di Perguruan Tinggi."
Karimuddin menilai, penelitian tersebut menjadi langkah strategis dalam mengintegrasikan kearifan lokal dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Ia menjelaskan, bahwa pendekatan ekokritik yang digunakan dalam penelitian mampu menunjukkan relevansi nilai-nilai budaya Aceh terhadap berbagai persoalan kontemporer, seperti pelestarian lingkungan, pendidikan karakter, hingga pengembangan pembelajaran sastra di perguruan tinggi.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga, mendokumentasikan, serta mengembangkan warisan intelektual bangsa agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Karena itu, penelitian yang menjadikan budaya lokal sebagai objek kajian perlu terus didorong sebagai bagian dari penguatan identitas bangsa sekaligus memperkaya khasanah ilmu pengetahuan Indonesia.
Baca juga: Membaca Kearifan Tambang dalam Hadih Maja dan Syair Langgolek
Karimuddin berharap, keberhasilan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi dosen, peneliti, maupun mahasiswa di Aceh untuk lebih percaya diri mengangkat potensi daerah dalam karya ilmiah.
Selain menjabat Ketua Umum DKLPT, Dr Tgk Nanda Saputra juga dikenal sebagai pendiri Yayasan Penerbit Muhammad Zaini yang aktif mendorong pengembangan literasi, publikasi ilmiah, serta penerbitan buku akademik.
Di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), ia juga dipercaya sebagai Ketua Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Pidie yang aktif menjalankan berbagai program di bidang riset, literasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Karimuddin berharap, keberhasilan tersebut menjadi pemantik lahirnya lebih banyak doktor asal Aceh yang mengangkat kekayaan budaya daerah sebagai objek penelitian.
"Semoga prestasi ini menjadi motivasi bagi generasi muda Aceh untuk terus menempuh pendidikan setinggi mungkin,” harap dia.
“Penelitian yang berakar pada kearifan lokal akan memperkuat identitas budaya sekaligus menghadirkan solusi bagi kehidupan masyarakat," pungkasnya.(*)