Legenda sepak bola Jerman, Lothar Matthaus, memberikan kritik tajam terhadap perilaku tim nasional Argentina setelah kekalahan mereka dari Spanyol di final Piala Dunia. Mantan pemenang Ballon d'Or itu mengecam Albiceleste atas kurangnya sportivitas dan pendekatan taktis mereka selama pertandingan puncak tersebut.
Kekacauan terjadi setelah peluit panjang berbunyi di final Piala Dunia. Penobatan Spanyol sebagai juara dunia diwarnai dengan insiden panas di lapangan ketika kedua tim terlibat konfrontasi sengit. Bek Argentina, Nahuel Molina, tertangkap kamera memukul kapten Spanyol, Rodri, saat ia berlari dari bangku cadangan untuk merayakan kemenangan. Insiden itu memicu perkelahian yang lebih besar, di mana Leandro Paredes terlihat mencekik Eric Garcia sebelum juga bersitegang dengan Gavi. Para pemain dan staf pelatih dari kedua tim akhirnya turun tangan untuk memisahkan mereka. Paredes kemudian diganjar kartu merah atas tindakannya, hanya beberapa menit setelah Enzo Fernandez dikeluarkan dari lapangan pada masa tambahan waktu karena menerima kartu kuning kedua.
Saat para pemain Spanyol bersiap untuk mengangkat trofi, sejumlah pemain Argentina terlihat membalikkan badan mereka dari panggung pada saat yang sama ketika para juara menerima trofi dari para pejabat. Tindakan tersebut dengan cepat menjadi sorotan di seluruh dunia.
Matthaus mengecam kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan Argentina selama final tersebut. Dalam kolomnya di Sky Sport, ia menulis, “Saya sebenarnya penggemar sepak bola Argentina, tetapi apa yang ditunjukkan oleh tim Amerika Selatan itu di final Piala Dunia sama sekali tidak mencerminkan sepak bola. Spanyol ingin bermain; Argentina tidak. Mereka bermain dengan ketakutan dan membiarkan diri mereka terseret ke dalam situasi yang tidak pantas terjadi di lapangan.”
Mantan pemain internasional Jerman itu secara khusus menyoroti keputusan Argentina untuk tidak memberikan guard of honour kepada Spanyol setelah pertandingan berakhir. “Mereka menunjukkan diri sebagai pihak yang tidak bisa menerima kekalahan dengan lapang dada, dan mereka tidak membentuk guard of honour untuk tim Spanyol. Saya merasa sangat kecewa dengan hal itu. Saya bisa memahami rasa kecewa, tetapi ini adalah masalah rasa hormat terhadap tim yang memang pantas menjadi juara dunia,” ujar Matthaus.
Kritik Matthaus sejalan dengan pernyataan pemain Spanyol yang juga menyinggung sikap Argentina setelah pertandingan. Dani Olmo, ketika ditanya langsung mengenai perilaku tim lawan selama upacara penghargaan, menjawab dengan tenang namun tegas. “Bagi kami itu tidak masalah. Yang penting adalah nilai-nilai yang ingin kamu tunjukkan,” kata Olmo, menurunkan tensi drama sambil menegaskan pentingnya fair play dan saling menghormati antar pesaing.
Gelandang Spanyol itu menambahkan bahwa para atlet elite memiliki tanggung jawab besar di panggung dunia seperti Piala Dunia. “Kami adalah contoh bagi banyak generasi, bagi banyak anak laki-laki dan perempuan, dan saya pikir mereka juga harus menjadi teladan bagi semua orang, dan ke arah yang lebih baik. Sekarang kami hanya ingin menikmati momen ini,” ujar Olmo, menyampaikan pesan yang ditujukan secara halus kepada tim lawan dari Amerika Selatan tersebut.
Final ini juga menjadi akhir pahit bagi Lionel Messi, yang kembali memimpin Argentina hingga ke partai puncak dalam turnamen besar di Amerika Utara. Meskipun Messi tetap menjadi pusat permainan Argentina, Matthaus meyakini bahwa laga tersebut menandai berakhirnya perjalanan sang legenda di Piala Dunia.
“Lionel Messi memimpin Argentina sampai ke final. Saya percaya itu adalah pertandingan terakhirnya di Piala Dunia,” ujar Matthaus ketika berbicara tentang bintang Inter Miami itu. “Saya tidak yakin dia akan bermain di Piala Dunia lagi pada usia 43 tahun, tetapi saya juga tidak bisa memastikan apakah itu pertandingan internasional terakhirnya.”