Mantan presiden FIFA, Sepp Blatter, melontarkan kritik tajam terhadap badan pengatur sepak bola dunia itu setelah berakhirnya Piala Dunia FIFA 2026. Ia menilai turnamen tersebut telah “kehilangan kredibilitasnya” dan menyerukan para penggemar, pemain, serta asosiasi nasional untuk merebut kembali olahraga ini dari pengaruh politik.
Pernyataan keras Blatter muncul hanya dua hari setelah Spanyol mengalahkan juara bertahan Argentina dengan skor 1-0 lewat perpanjangan waktu untuk meraih gelar Piala Dunia kedua mereka, sekaligus menutup edisi pertama yang diikuti 48 tim sepanjang sejarah turnamen.
Meski mengakui bahwa Spanyol layak menjadi juara, pria berkebangsaan Swiss berusia 90 tahun itu tidak menahan diri dalam menilai warisan dari turnamen tersebut.
Melalui unggahan di platform X, Blatter menulis: “Piala Dunia terpanjang telah berakhir – dengan juara yang tepat. Namun, sepanjang perjalanan menuju peluit akhir, turnamen ini telah kehilangan kredibilitasnya. Politik tidak boleh dibiarkan menutupi permainan ini.”
Ia menutup pesannya dengan seruan yang lebih kuat kepada seluruh pihak yang terlibat dalam sepak bola. “Kini, tanggung jawab ada pada para penggemar, pemain, dan asosiasi nasional untuk merebut kembali sepak bola dan mengembalikannya ke akarnya di bawah kepemimpinan baru,” tambahnya.
Unggahan tersebut juga menandai FIFA, Piala Dunia, pertunjukan paruh waktu FIFA yang kontroversial, Donald Trump, serta presiden FIFA saat ini Gianni Infantino, menegaskan siapa saja yang menurut Blatter harus menjadi pusat perdebatan.
Politik dan kontroversi mendominasi pembicaraan turnamen
Blatter telah lama menjadi salah satu pengkritik paling vokal terhadap arah kebijakan FIFA di bawah Infantino, dan komentarnya kali ini mencerminkan meningkatnya sorotan terhadap hubungan antara sepak bola dan politik selama turnamen yang diperluas tersebut.
Edisi 2026 yang diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Piala Dunia, menampilkan 48 tim dan 104 pertandingan di 16 stadion selama lebih dari satu bulan.
Meski kualitas permainan di lapangan mendapat banyak pujian, berbagai kontroversi di luar lapangan justru mendominasi pemberitaan sepanjang turnamen.
Ketegangan politik terkait partisipasi Iran, sengketa visa, pembatasan perjalanan bagi pendukung dari beberapa negara, perdebatan mengenai kebijakan imigrasi, kekhawatiran soal suhu panas ekstrem, serta kritik terhadap meningkatnya komersialisasi FIFA menjadi bahan diskusi utama selama kompetisi berlangsung.
Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino juga menjadi sorotan tajam, terutama setelah sanksi terhadap pemain Balogun dicabut menjelang laga babak 16 besar Amerika Serikat.
Infantino rayakan kesuksesan meski menuai kritik
Meski dihujani kritik, FIFA menggambarkan turnamen ini sebagai salah satu yang paling sukses dalam sejarah.
Infantino menyoroti rekor jumlah penonton langsung yang hampir mencapai tujuh juta orang, sementara estimasi menunjukkan lebih dari enam miliar penonton di seluruh dunia menyaksikan turnamen tersebut.
Jumlah penonton televisi juga tetap tinggi. Stasiun penyiaran berbahasa Spanyol, Telemundo, melaporkan bahwa final antara Spanyol dan Argentina menarik sekitar 22,6 juta penonton, menjadikannya berpotensi sebagai final Piala Dunia paling banyak ditonton dalam sejarah televisi berbahasa Spanyol.
Tingkat kehadiran di stadion di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko juga melampaui ekspektasi meski ada kekhawatiran terkait harga tiket dan masalah logistik.
Di atas lapangan, format 48 tim terbukti mampu menghapus kekhawatiran bahwa kompetisi akan kehilangan daya saing. Tim-tim kejutan seperti Tanjung Verde dan Kongo tampil mengesankan sebelum akhirnya turnamen menghadirkan semifinal bergengsi yang mempertemukan Spanyol, Argentina, Prancis, dan Inggris.