TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU – Memasuki musim kemarau, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sanggau, Paulus, mengajak seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ia meminta pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga masyarakat memperkuat langkah-langkah pencegahan agar risiko karhutla dapat diminimalkan.
Menurutnya, kesiapsiagaan seluruh elemen, terutama instansi yang menangani kebencanaan, menjadi hal yang sangat penting.
"Sudah kita bicarakan bagaimana mengantisipasi kemungkinan bencana, terutama kebakaran hutan dan lahan. Ini memang tidak bisa kita rencanakan, tetapi harus kita waspadai bersama," ujar Paulus, Senin 20 Juli 2026.
• Titik Panas di Kalbar Melonjak Jadi 466, Ketapang dan Sanggau Jadi Wilayah Terbanyak
Politisi Partai Demokrat itu mengimbau masyarakat yang masih membuka lahan dengan cara membakar agar mematuhi ketentuan yang berlaku, termasuk membuat sekat bakar untuk mencegah api merembet ke area lain.
"Kepada masyarakat yang membuka ladang, kalau memang melakukan pembakaran harus membuat sekat bakar dengan baik. Itu menjadi salah satu cara untuk mengendalikan api agar tidak meluas," katanya.
Paulus juga meminta seluruh personel yang bertugas dalam penanggulangan bencana tetap siaga meski masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana.
"Walaupun kita memang masih memiliki banyak keterbatasan dari sisi sarana dan prasarana, saya berharap petugas tetap siap siaga untuk mengatasi apabila terjadi kebakaran demi kepentingan masyarakat," tegasnya.
Selain itu, Paulus menilai pemerintah kecamatan dan pemerintah desa sebagai ujung tombak di lapangan harus aktif melakukan sosialisasi, pengawasan, serta koordinasi dengan masyarakat.
Ia mengingatkan setiap warga yang akan membuka lahan dengan cara membakar wajib melapor kepada pemerintah desa terlebih dahulu.
Langkah tersebut dinilai penting agar pemerintah desa dapat melakukan pemantauan dan mengantisipasi jika api berpotensi meluas ke kawasan hutan maupun lahan milik warga lainnya.
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat kembali menjadi perhatian.
Berdasarkan data terbaru sebaran titik panas (hotspot) yang dirilis BMKG Kalbar, jumlah titik panas mengalami peningkatan signifikan dari sebelumnya 301 titik menjadi 466 titik.
Peningkatan tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Barat, seiring dengan kondisi cuaca yang didominasi musim kemarau dan minimnya potensi hujan dalam beberapa hari ke depan.
Kabupaten Ketapang menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, mencapai 137 titik.
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Sanggau dengan 97 titik panas, disusul Kayong Utara sebanyak 57 titik dan Sintang 41 titik.
Sementara itu, Kabupaten Kapuas Hulu dan Landak masing-masing mencatat 31 titik panas.
Kabupaten Sekadau terdeteksi memiliki 28 titik panas, Kubu Raya 27 titik, Melawi 16 titik, dan Sambas 1 titik panas.
Di sisi lain, sejumlah daerah masih tercatat aman tanpa titik panas, yakni Kabupaten Mempawah, Bengkayang, Kota Pontianak, dan Kota Singkawang yang masih berada pada angka nol titik panas.(*)