TRIBUNJOGJA.COM – Jika sering melintasi kawasan Kotabaru, Kota Yogyakarta, mungkin Anda pernah merasa suasana di daerah ini berbeda dibanding kawasan lain di Jogja. Jalanannya lebar dan rindang, deretan bangunan bergaya kolonial masih berdiri kokoh, sementara kafe hingga coffee shop modern membuat kawasan ini semakin hidup.
Tak heran jika banyak orang menyebut Kotabaru sebagai salah satu kawasan paling estetik di Yogyakarta. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap suasananya menyerupai kawasan di kota-kota Eropa.
Di balik tampilannya yang menawan, Kotabaru ternyata menyimpan sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda. Kawasan ini bukan sekadar permukiman biasa, melainkan dirancang sebagai kawasan elite yang dilengkapi berbagai fasilitas modern pada masanya. Selain itu, Kotabaru juga menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Berikut sejumlah fakta unik tentang kawasan Kotabaru yang mungkin belum banyak diketahui.
Jauh sebelum dipenuhi kafe dan menjadi salah satu kawasan favorit untuk berjalan kaki, Kotabaru merupakan pemukiman elite yang dibangun khusus bagi warga Eropa pada masa Hindia Belanda.
Berdasarkan informasi dari Pemerintah Kota Yogyakarta dan JOGJACAGAR milik Dinas Kebudayaan DIY, kawasan ini mulai dikembangkan sekitar tahun 1917 hingga 1920 dengan nama Nieuwe Wijk, yang berarti "Kota Baru".
Kawasan tersebut dirancang oleh arsitek Belanda Thomas Karsten untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal para pejabat kolonial, perwira militer, hingga petinggi perusahaan perkebunan dan pabrik gula.
Berbeda dengan kawasan permukiman lain pada masa itu, Kotabaru dibangun menggunakan konsep Garden City atau kota taman yang saat itu sedang populer di Eropa.
Konsep tersebut menghadirkan jalan-jalan yang lebar, tata ruang berpola radial, pepohonan rindang, serta rumah-rumah yang berdiri di atas lahan luas agar sirkulasi udara dan pencahayaan tetap optimal di daerah beriklim tropis.
Menurut sejumlah kajian dari Universitas Gadjah Mada mengenai perkembangan tata kota kolonial di Yogyakarta, konsep tersebut membuat Kotabaru menjadi salah satu kawasan modern pertama di kota ini. Tidak hanya memiliki jalan yang tertata rapi, kawasan tersebut juga telah dilengkapi fasilitas pendidikan, tempat ibadah, fasilitas kesehatan, hingga ruang terbuka yang mendukung aktivitas masyarakat.
Meski kini telah dipenuhi bangunan komersial, karakter arsitektur kolonial dan tata kotanya masih dapat dinikmati hingga sekarang sehingga Kotabaru ditetapkan sebagai salah satu kawasan cagar budaya di Yogyakarta.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa di kawasan Kotabaru masih terdapat bunker peninggalan Jepang yang kondisinya relatif utuh dan terawat.
Bunker tersebut berada di kompleks Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 75, Terban, yang masih termasuk dalam kawasan heritage Kotabaru.
Menurut JOGJACAGAR dan dokumentasi Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama, bunker itu dibangun pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 hingga 1945. Saat itu gedung utama museum digunakan sebagai markas sekaligus rumah dinas pejabat militer Jepang atau Syudocan, sedangkan bunker di bagian belakang difungsikan sebagai tempat perlindungan apabila terjadi serangan udara.
Bunker tersebut berada sekitar dua meter di bawah permukaan tanah dengan lorong-lorong beton yang masih kokoh hingga sekarang. Suasana di dalamnya terasa sejuk meski tanpa pendingin ruangan, memperlihatkan bagaimana bangunan pertahanan pada masa perang dirancang agar mampu melindungi para penghuninya.
Dinas Kebudayaan DIY melalui JOGJACAGAR juga mencatat bahwa bangunan museum beserta bunkernya telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Karena itu, kondisi fisiknya terus dijaga sehingga masyarakat masih dapat melihat langsung salah satu peninggalan penting dari masa pendudukan Jepang di Yogyakarta.
Selain menjadi daya tarik sejarah, keberadaan bunker ini juga menjadi pengingat bahwa kawasan Kotabaru pernah mengalami perubahan fungsi secara drastis. Setelah Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, banyak warga Belanda meninggalkan kawasan tersebut dan Kotabaru beralih menjadi wilayah yang dikuasai militer Jepang.
Pada awal abad ke-20, listrik masih menjadi fasilitas mewah yang belum bisa dinikmati semua wilayah di Yogyakarta. Menariknya, setelah kawasan Keraton, Kotabaru menjadi salah satu daerah pertama yang merasakan aliran listrik.
Berdasarkan catatan JOGJACAGAR dan arsip sejarah yang diterbitkan Kompas.com, sekitar tahun 1919 hingga 1922 jaringan listrik mulai dibangun untuk melayani kawasan permukiman elite Kotabaru dan pusat perdagangan Malioboro. Saat itu, pasokan listrik berasal dari perusahaan swasta Hindia Belanda bernama N.V. Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM).
Masyarakat Jogja kemudian mengenal bangunan gardu induk listrik tersebut dengan sebutan Babon ANIEM. Dalam bahasa Jawa, kata babon berarti induk atau pusat.
Sesuai namanya, gardu ini berfungsi menyalurkan listrik ke rumah-rumah penduduk hingga lampu penerangan jalan di kawasan Kotabaru dan Malioboro.
Hingga kini, beberapa bangunan gardu peninggalan ANIEM masih dapat dijumpai di Yogyakarta. Menurut Dinas Kebudayaan DIY, bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya karena menjadi saksi awal modernisasi sistem kelistrikan di Kota Yogyakarta.
Selain menyimpan sejarah kolonial, Kotabaru juga menjadi saksi salah satu pertempuran penting setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Pada 7 Oktober 1945 terjadi peristiwa yang dikenal sebagai Serbuan Kotabaru atau Pertempuran Kotabaru. Berdasarkan keterangan Pemerintah Kota Yogyakarta, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, dan Kemendikbud, pertempuran ini menjadi salah satu aksi bersenjata terbesar di Yogyakarta untuk merebut kekuasaan dari tentara Jepang.
Saat itu, meski Indonesia telah merdeka, pasukan Jepang masih menguasai markas militer beserta gudang persenjataan di Kotabaru. Upaya perundingan yang dilakukan oleh para tokoh Indonesia tidak membuahkan hasil karena pihak Jepang menolak menyerahkan senjatanya.
Akhirnya, para pemuda yang tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR), Polisi Istimewa, serta berbagai kelompok pejuang memutuskan melakukan penyerbuan pada dini hari. Sebelum serangan dimulai, mereka terlebih dahulu memutus aliran listrik dan jaringan telepon menuju markas Jepang agar komunikasi musuh terganggu.
Pertempuran berlangsung sengit hingga akhirnya pasukan Jepang menyerah dan mengibarkan bendera putih. Dari peristiwa tersebut, pejuang Indonesia berhasil merebut puluhan ton persenjataan yang kemudian digunakan untuk memperkuat pertahanan Republik Indonesia.
Namun kemenangan tersebut harus dibayar mahal. Sebanyak 21 pejuang gugur dalam pertempuran yang kini dikenang sebagai salah satu tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Yogyakarta.
Jika berjalan menyusuri kawasan Kotabaru, Anda mungkin akan menemukan nama-nama jalan seperti Faridan M. Noto, Sabirin, Atmosukarto, Wardhani, hingga I Dewa Nyoman Oka. Ternyata nama-nama tersebut bukan dipilih secara acak.
Menurut Pemerintah Kota Yogyakarta dan JOGJACAGAR, nama jalan tersebut diambil dari para pejuang yang gugur dalam Peristiwa Serbuan Kotabaru pada 7 Oktober 1945. Penamaan itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Tidak hanya nama jalan, penghormatan kepada para pahlawan juga diwujudkan melalui pembangunan Monumen Serbuan Kotabaru serta Masjid Syuhada, yang hingga kini masih menjadi salah satu ikon kawasan tersebut.
Bahkan, berdasarkan data Kemendikbud, terdapat total 21 nama pejuang yang diabadikan di kawasan Kotabaru sebagai pengingat bahwa daerah ini pernah menjadi medan perjuangan penting dalam sejarah bangsa.
Kini, ketika menikmati suasana teduh di bawah rindangnya pepohonan atau mampir ke berbagai kafe yang berjajar di sepanjang jalan, banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa kawasan ini menyimpan kisah perjuangan yang begitu besar.
(MG ABIL PRAMUDYA)