TRIBUN-PAPUA.COM, SORONG - Yayasan Unggul Sinergi Byak Abadi atau Institut USBA bekerja sama dengan Terra Papua, Greenpeace dan Konservasi Indonesia menyelenggarakan Sekolah Kader Masyarakat Adat Raja Ampat 2026 di Kota Sorong, Senin (20/7/2026).
Kegiatan tersebut diikuti 40 perwakilan masyarakat adat dari berbagai wilayah adat di Kabupaten Raja Ampat.
Sekolah kader ini bertujuan membangun regenerasi kepemimpinan masyarakat adat sekaligus memperkuat kapasitas generasi muda dalam menjaga hak-hak masyarakat adat, melestarikan budaya, serta mengelola sumber daya alam Raja Ampat secara berkelanjutan.
Staf Ahli Setda Kabupaten Raja Ampat James M. Bisay mengatakan, sekolah kader merupakan langkah strategis untuk melahirkan pemimpin-pemimpin adat masa depan guna menjaga tanah, laut, dan budaya Raja Ampat dengan penuh tanggung jawab.
Baca juga: Polisi Tangani Sampah Terbakar di Sentani, Bripka Awal Imbau Warga Tak Buang Sampah Sembarangan
"Hari ini adalah titik awal dari sebuah perjalanan besar, perjalanan untuk melahirkan pemimpin-pemimpin adat masa depan yang akan menjaga tanah, laut, dan budaya Raja Ampat dengan penuh kecintaan dan kehormatan," ujarnya saat membuka kegiatan.
Menurutnya, masyarakat adat memiliki tanggung jawab besar untuk melanjutkan warisan leluhur yang selama ini menjaga kekayaan alam dan budaya Raja Ampat.
"Kini menjadi tanggung jawab generasi penerus untuk menjaganya melalui pengetahuan, kepemimpinan, dan keberanian dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat adat," katanya.
Ia menjelaskan bahwa selama pelatihan peserta akan memperoleh berbagai materi, mulai dari kepemimpinan adat, pengorganisasian masyarakat, perlindungan hak-hak masyarakat adat, pengelolaan wilayah adat, hingga pengembangan ekonomi berkelanjutan berbasis kearifan lokal.
Baca juga: Senator Minta APH Tak Lembek pada Mafia TKA dan Tambang Papua Barat
Pemkab Raja Ampat berharap sekolah kader tersebut mampu melahirkan tokoh-tokoh adat yang tidak hanya mampu memperjuangkan hak masyarakat adat, tetapi menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan pembangunan berkeadilan.
"Kami berharap forum ini menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa masyarakat adat Raja Ampat mampu bangkit, bersatu, dan menyuarakan aspirasinya secara bermartabat," ujar James.
Kepala Sekolah Kader Masyarakat Adat Raja Ampat, Rudi Dimara mengatakan, sekolah kader dirancang bukan sekadar sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi sebagai proses kaderisasi yang melahirkan pemimpin baru melalui pengalaman, dialog dan partisipasi aktif generasi muda adat.
Baca juga: Dinkes Manokwari Pacu Pencegahan Kecacatan 507 Penderita Kusta
"Pengetahuan adat tidak boleh berhenti pada generasi hari ini. Sekolah kader menjadi ruang belajar bersama agar nilai-nilai adat, sejarah, hukum adat, serta cara menjaga tanah dan laut tetap hidup melalui generasi muda. Dari ruang seperti inilah lahir dialog, inovasi, dan kepemimpinan baru yang akan memperkuat masyarakat adat," jelasnya.
Menurut Rudi, kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan Jambore atau Temu Raya Masyarakat Adat Raja Ampat yang dijadwalkan pada Agustus 2026.
Melalui keterlibatan tersebut, peserta akan memperoleh pengalaman mengorganisasi kegiatan masyarakat adat sekaligus memperkuat konsolidasi antarwilayah adat di Raja Ampat.
Ia berharap seluruh peserta tidak hanya menjadi lulusan pelatihan, tetapi mampu tampil sebagai penggerak organisasi masyarakat adat, fasilitator pembelajaran, pendamping komunitas, serta calon pemimpin yang berperan aktif dalam memperkuat perlindungan wilayah adat dan pengelolaan sumber daya alam Raja Ampat mulai dari tingkat kampung, sub-suku, suku, hingga tingkat kabupaten.
Baca juga: Muluskan Proyek Jalan 135 Km di Merauke, Saksi Mengaku Tak Tahu Dokumen Pelepasan Kawasan Hutan
“Semoga bisa lahir generasi pemimpin adat yang berintegritas, berwawasan, serta mampu menjaga kelestarian alam, memperkuat identitas budaya, dan memperjuangkan hak-hak masyarakat adat demi keberlanjutan Raja Ampat bagi generasi mendatang,” katanya.(*)