SURYA.co.id, BANGKALAN – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono merombak kurikulum pendidikan di 11 Politeknik Kelautan dan Perikanan di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai bagian dari strategi mempercepat implementasi Ekonomi Biru dan melahirkan industri kelautan baru berbasis riset dan inovasi.
Langkah tersebut dibarengi dengan peresmian penggunaan nomenklatur Ocean Institute of Indonesia (OII) sebagai identitas pendidikan tinggi di lingkungan KKP serta penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan 14 perguruan tinggi mitra strategis, termasuk Universitas Trunojoyo Madura (UTM), di Ballroom Gedung Mina Bahari III KKP, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026).
Trenggono menegaskan, pembenahan kurikulum dilakukan secara menyeluruh agar pendidikan vokasi di lingkungan KKP mampu menghasilkan sumber daya manusia yang sesuai kebutuhan industri kelautan nasional maupun global.
"Ini yang ingin saya satukan karena saya akan melihat ukuran-ukuran suksesnya," tegas Trenggono.
Menurutnya, ukuran keberhasilan pertama adalah lahirnya industri dan inovasi baru sebagai implementasi kebijakan Ekonomi Biru.
Baca juga: Sejarah Baru Madura Fakultas Kedokteran UTM Resmi Dibuka, Wagub Jatim: Madura Siap Cetak SDM Unggul
Padahal, potensi kelautan Indonesia sangat besar, tetapi belum diikuti pertumbuhan industri yang memadai.
"Tapi tidak terlahir (industri dan inovasi baru) di situ, ini tantangan pertama. Kedua, industri kelautan perikanan di dunia sangat luar biasa. Seperti Jepang dengan valuasi perusahaannya yang mencapai miliaran dolar, bahkan sampai 20 miliar dollar termasuk di Korea dan Cina," paparnya.
Ia juga menyoroti belum adanya perusahaan-perusahaan besar sektor kelautan dunia yang menjalin kerja sama dengan Indonesia dalam penyediaan tenaga kerja terampil.
"Kebutuhan industri itu kalau kita hebat, harusnya mereka kerjasama dengan kita, itulah esensinya dari program ini. Kita ini dibiayai negara 100 persen, beasiswa, sehingga hasil dan kualifikasinya harus hebat," tegasnya.
Karena itu, Trenggono menilai pembaruan kurikulum menjadi kebutuhan mendesak agar lulusan memiliki kompetensi sesuai perkembangan industri.
"Maka diperlukan standar-standar yang harus dipersiapkan. Selain ahli di bidang vokasi, maka dari sisi kelimuannya harus dimiliki melalui kerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi yang reputasinya terbaik," pungkas Trenggono.
Penggunaan nomenklatur Ocean Institute of Indonesia (OII) menjadi langkah strategis KKP untuk memperkuat identitas sekaligus meningkatkan daya saing pendidikan tinggi kelautan dan perikanan.
Penandatanganan kerja sama dengan 14 perguruan tinggi menjadi bentuk kolaborasi dalam memperkuat kelembagaan pendidikan tinggi vokasi agar lebih adaptif, profesional, dan berdaya saing internasional.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Brian Yuliarto, PhD mengatakan sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan OII akan membangun ekosistem riset yang kuat bagi sektor kelautan.
"Mengajak kampus yang cukup banyak ini, diharapkan mampu menjadi poros riset dan inovasi di bidang kelautan Indonesia. Sehingga kelak menghasilkan startup-startup baru yang bisa menjadi tulang punggung Industri Kelautan Indonesia," harap Prof Brian.
Menurutnya, OII juga berpotensi dikembangkan menjadi pusat riset dan inovasi yang diisi mahasiswa magister dan doktor dari kampus-kampus mitra strategis.
"Kita tahu kelautan kita menyimpan harta karun yang sangat besar tetapi industri-industri kelautan tidak sebanyak industri di sektor lainnya. Karena itu, harta karun yang harus diangkat oleh orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan, dan tentunya OII akan menjadi salah satu backbone lahirnya inovasi-inovasi dan karya-karya besar di bidang kelautan," pungkasnya.
Dalam kerja sama tersebut, Universitas Trunojoyo Madura menjadi salah satu dari 14 perguruan tinggi yang dipercaya menjadi mitra strategis BPPSDM KP.
Rektor UTM Prof Dr Safi', SH, MH hadir didampingi Direktur Program Pascasarjana Prof Dr Bambang Haryadi, SE, MSi, Ak, CA dan Wakil Direktur Pascasarjana Dr Rina Yulianti, SH, MH.
Prof Safi' mengatakan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri menjadi langkah penting dalam mengoptimalkan potensi kelautan Indonesia.
"Pada intinya antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri bisa bersinergi dalam rangka optimalisasi potesi sumber daya laut yang dimilik Indonesia," ungkap Prof Safi' kepada SURYA.co.id, melalui sambungan selulernya.
Menurutnya, keterlibatan UTM tidak lepas dari berbagai inovasi yang telah dikembangkan kampus tersebut, terutama di bidang pergaraman.
UTM berhasil mengembangkan inovasi produksi garam pangan berupa garam sehat kaya mineral melalui fortifikasi ekstrak kelor, alga laut, rumput laut, serta flora dan fauna laut.
Sementara pada sektor nonpangan, UTM menghasilkan berbagai prototipe garam lifestyle, mulai dari garam kecantikan, spa dan sauna, garam industri, garam farmasi hingga garam analisis.
Selain itu, UTM juga memiliki Laboratorium Lapang Pusat Unggulan Iptek (PUI) Garam di Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan.
"Makanya UTM menjadi bagian dari perguruan tinggi yang dilibatkan dalam MoU oleh KKP karena kami dikenal punya riset dan inovasi garam. Selain itu tentu juga potensi potensi laut lainnya," singkat Prof Safi'.
Kepala BPPSDM KP Dr I Nyoman Radiarta, SPi, MSc mengatakan kerja sama dengan perguruan tinggi merupakan bentuk nyata penguatan Ocean Institute of Indonesia.
"Kesepakatan ini, bukan sekedar tanda tangan melainkan wujud implementasi program peningkatan kualitas SDM. Sekaligus sebagai pondasi bagi pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat bidang kelautan dan perikanan," ujar I Nyoman.
Ia menjelaskan, OII menjadi wadah bagi 11 Politeknik Kelautan dan Perikanan untuk memperkuat sinergi, kolaborasi, dan jejaring dengan Dewan Institut Kelautan Indonesia.
Melalui program unggulannya, OII diharapkan mampu memenuhi kebutuhan SDM kelautan dan perikanan berstandar internasional serta menjawab berbagai persoalan sektor tersebut melalui riset terapan.
Menurut I Nyoman, BPPSDM KP juga mendapat amanah dari Presiden Prabowo Subianto untuk menjalankan sejumlah program prioritas nasional di sektor kelautan dan perikanan.
"Meliputi Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, Pembangunan Kawasan Budidaya Udang Terintegr di Waingapu (Pulau Sumba), Revitalisasi Budidaya Ikan di Pantura Jawa, Pengembangan Budidaya Ikan Tematik, serta Pembangunan Pergaraman Nasional untuk swasembada garam nasional dan modernisasi kapal ikan," pungkas I Nyoman.