BANGKAPOS.COM, MEDAN - Danu, seorang pekerja bangunan, berlari mendekati pusat ledakan disebuah rumah Kompleks Grand Polonia, Medan Polonia, Sumatera Utara pada Senin (20/7/2026) petang sekitar pukul 15.30 WIB.
Ketika itu Danu mendengar teriakan minta tolong dari balik reruntuhan.
Beberapa detik sebelimnya, pria yang sedang memperbaiki jendela rumah berlantai empat tak jauh dari lokasi ledakan, mendengar dentuman keras yang membuat tubuhnya terhempas.
Seorang sopir mobil yang kendaraannya tertimpa material bangunan menjadi korban pertama yang ia bantu bersama rekan-rekannya.
"Banyak suara minta tolong. Ada tukang paket, terus ada sopir mobil juga yang tertimpa. Mereka teriak, 'Tolong bang, tolong'," kata Danu saat ditemui di lokasi kejadian, Selasa (21/7/2026).
Pintu mobil yang ringsek tak bisa dibuka. Bersama tiga warga lain, Danu memaksa menarik pintu hingga akhirnya korban berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.
"Enggak ada luka, cuma lemas saja," tuturnya.
Di tengah proses penyelamatan, Danu mengetahui ada balita berusia sekitar dua tahun yang masih berada di dalam rumah.
Karena masih membantu sopir yang terjebak dalam mobil, Danu meminta pekerja bangunan lain mendobrak pintu agar anak tersebut bisa segera diselamatkan.
"Saya lihat ada anak kecil di atas, sudah luka-luka. Saya minta pekerja bangunan di sebelah dobrak pintu supaya bayi itu cepat diselamatkan," ujarnya.
Balita itu akhirnya berhasil dievakuasi dan dilarikan ke rumah sakit.
Hari pertama Danu bekerja sebagai tukang bangunan di Kompleks Grand Polonia, Medan Polonia, Sumatera Utara, berubah menjadi pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan.
Sekilas ia mengira gempa bumi mengguncang kawasan tersebut. Namun ketika menoleh ke luar, rumah bernomor 3B sudah berubah menjadi puing.
"Saya dengar suara ledakan keras. Pas keluar, rumah itu sudah hancur," ujarnya.
Ledakan ini menyebabkan tujuh orang menjadi korban.
Lima di antaranya merupakan penghuni rumah seperti orangtua, istri, anak, dan pekerja rumah tersebut.
Sementara dua lainnya, yakni seorang kurir pesanan daring, dan juga seorang sopir yang berada tak jauh dari lokasi tersebut.
Tiga orang meninggal dunia, sedangkan empat orang lainnga selamat namun mengalami luka-luka.
Tak hanya Danu, saksi lain bernama Wiwin juga menyampaikan kesaksian yang memunculkan tanda tanya.
Di tengah hujan deras dan angin kencang, ia mengaku melihat kilatan cahaya putih melesat menuju rumah sesaat sebelum ledakan terjadi.
"Cahayanya masuk, langsung meledak. Batu, tembok, dan kaca berhamburan ke mana-mana," ungkapnya.
Namun, ia tidak dapat memastikan apakah cahaya tersebut berasal dari petir atau fenomena lain.
Ledakan menghancurkan rumah bertingkat itu hingga rata dengan tanah.
Tiga mobil di depan rumah tertimpa material bangunan, sementara sedikitnya tujuh rumah di sekitarnya mengalami kerusakan berupa dinding retak, kaca pecah, dan kanopi roboh.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, Hery Marantika, mengatakan terdapat tujuh orang di lokasi saat kejadian.
Empat orang berhasil selamat, sedangkan tiga lainnya diduga tertimbun reruntuhan.
Proses evakuasi berlangsung dramatis karena struktur bangunan yang nyaris rata dengan tanah dan berisiko ambruk sewaktu-waktu.
Akses menuju lantai dua juga sangat sempit sehingga petugas harus membatasi penggunaan alat berat.
Setelah hampir sehari melakukan pencarian, tim SAR gabungan menemukan korban kedua dalam kondisi meninggal dunia pada Selasa (21/7) sekitar pukul 15.45 WIB di lantai dua bangunan.
Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan alat berat langsung dihentikan begitu posisi korban terdeteksi.
Evakuasi kemudian dilakukan secara manual menggunakan mobil ladder milik Dinas Pemadam Kebakaran untuk menghindari kerusakan tambahan.
"Puji Tuhan, korban kedua berhasil ditemukan di lantai dua. Sebelumnya dini hari tadi satu korban juga berhasil dievakuasi," ujarnya.
Korban yang ditemukan berjenis kelamin perempuan. Polisi masih memastikan identitasnya, apakah merupakan asisten rumah tangga atau pengasuh anak di rumah tersebut.
Menurut Hery, operasi pencarian sejak awal terkendala material beton bertumpuk dan kondisi bangunan yang labil.
Sekitar 300-400 personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran, dan Pemerintah Kota Medan dikerahkan dengan dukungan tiga ekskavator, satu unit crane, serta peralatan pencarian khusus.
"Indikasinya masih ada satu korban lagi yang sedang kami upayakan untuk dievakuasi," katanya.
Hingga Selasa sore, dua korban telah ditemukan meninggal dunia, termasuk istri pemilik rumah yang dievakuasi lebih dahulu pada dini hari. Menyusul dugaan masih ada korban lainnya, tim gabungan masih melakukan proses penyisiran secara bertahap.
Penyebab ledakan dahsyat yang menghancurkan rumah mewah di Kompleks Grand Polonia, Medan Polonia, Senin (20/7), masih menjadi teka-teki.
Dugaan awal kepolisian yang mengarah pada kebocoran pipa gas bawah tanah dibantah PT Perusahaan Gas Negara (PGN) setelah hasil pemeriksaan awal tidak menemukan kandungan gas metana di lokasi kejadian.
Area Head PGN Medan Agus Kurniawan mengatakan pihaknya langsung menurunkan tim teknis dan tanggap darurat begitu menerima laporan ledakan.
Langkah pertama yang dilakukan adalah menghentikan sementara penyaluran gas serta memeriksa jaringan pipa demi menjamin keselamatan warga di sekitar lokasi.
"Prioritas utama PGN saat ini adalah mengamankan lokasi dengan menutup penyaluran gas dan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap jaringan pipa gas," kata Agus, Selasa (21/7).
Menurutnya, hasil deteksi gas yang dilakukan di area rumah, baik di lantai satu maupun lantai dua, menunjukkan angka 0 ppm, sehingga tidak ditemukan kandungan gas metana.
"Berdasarkan hasil deteksi gas yang dilakukan tim PGN bersama pihak berwenang, tidak terdeteksi adanya kandungan gas metana di area kejadian," ujarnya.
Meski demikian, PGN menegaskan tidak ingin mendahului hasil penyelidikan aparat penegak hukum dan akan terus berkoordinasi selama proses investigasi berlangsung.
Dugaan Awal Kebocoran Pipa Gas
Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak menyebut hasil investigasi awal justru mengarah pada dugaan kebocoran pipa gas bawah tanah.
Dugaan itu muncul setelah petugas melakukan pemeriksaan menggunakan alat pendeteksi gas di lokasi.
"Hasil investigasi awal mengarah pada adanya kebocoran pipa gas tanam. Namun, ini masih dugaan awal dan penyelidikan terus berlangsung," kata Calvijn.
Selain olah tempat kejadian perkara, polisi juga memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi untuk menelusuri titik awal ledakan.
Penyelidikan turut melibatkan Satuan Brimob Polda Sumatera Utara yang mengerahkan Tim Penjinak Bom (Jibom), Tim Kimia, Biologi, Radioaktif (KBR), serta Tim Search and Rescue (SAR).
Komandan Satuan Brimob Polda Sumut Kombes Pol M. Rendra Salipu mengatakan tim Jibom bertugas mensterilkan lokasi dan memastikan tidak ada ancaman lanjutan, sedangkan Tim KBR melakukan deteksi kemungkinan adanya paparan bahan berbahaya.
Sementara itu, Tim SAR membantu proses pencarian dan evakuasi korban bersama personel gabungan.
"Seluruh personel bekerja sesuai tugas masing-masing untuk memastikan lokasi aman, membantu evakuasi korban, dan mendukung proses penyelidikan," ujar Rendra.
Perbedaan hasil temuan antara kepolisian dan PGN membuat penyebab insiden tersebut masih menunggu kesimpulan resmi dari proses investigasi yang sedang berlangsung.
Daftar Nama-nama Korban
Berikut identitas sementara para korban yang terdampak peristiwa ledakan di komplek perumahan mewah ini.
Korban selamat:
1. Jeavelin sorang anak berusia dua tahun
2. Hasan, orangtua pemilik rumah
3. Seorang sopir yang belum diketahui identitasnya
4. Yuda, kurir yang saat kejadian sedang mengantarkan paket
Korban meninggal dunia:
1. Jesika, wanita yang merupakan istri pemilik rumah
2. Ros, Asisten Rumah Tangga
3. Sinta, wanita yang bekerja sebagai babbysitter
(Tribunmedan.com/Kompas.com)