"Sumpah Trauma Akutt," Curhat Nanik S Deyang 1,5 Bulan Jadi kepala BGN hingga Putuskan Mundur
muslimah July 22, 2026 10:56 AM

"Sumpah Trauma Akutt," Curhat Nanik S Denyang 1,5 Hulan Jadi kepala BGN hingga Putuskan Mundur

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mengundurkan diri dari jabatannya pada Rabu (22/7/2026).

Nanik sendiri diketahui baru 1,5 bulan menjabat sebagai Kepala BGN, sejak dilantik Prabowo pada 8 Juni 2026 lalu di Istana Negara, Jakarta.

Dia mengumumkan pengunduran dirinya melalui unggahan di media sosial.

Di situ ia juga curhat soal betapa pekerjaan selama ini sangat berpengaruh pada kesehatannya.

Nanik mengaku trauma berat karena harus berurusan dengan uang dalam jumlah besar.

Meski demikian ia menegaskan akan tetap mendukung program Makan Bergisi Gratis (MBG).

Nanik menjelaskan ia akan menjadi pengawas BGN.

Baca juga: Buntut Dugaan Korupsi BGN, Kejaksaan Negeri Kudus Kumpulkan Data 78 Mitra SPPG

Nanik S Deyang juga menyampaikan bahwa saat ini dirinya ingin lebih fokus pada proses pemulihan kesehatan setelah sempat mengalami gangguan pada jantung hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Nanik mengaku, sempat mengalami kondisi drop selama sembilan hari dan menjalani perawatan sekitar satu minggu.

Setelah kondisinya membaik, ia baru dapat kembali mengikuti rapat kabinet.

Stres Kelola BGN, Kolesterol Tinggi Sumbat Jantung Nanik S Deyang 

Dalam curhatannya, Nanik mengatakan hasil pemeriksaan dokter menunjukkan adanya sumbatan pada arteri jantung.

Menurut Nanik, kondisi tersebut berkaitan dengan kadar kolesterol tinggi serta tekanan stres yang berat selama menjalankan tugas.

“Menurut dokter saya ada sumbatan di arteri jantung yang selain karena kolesterol tinggi, juga dipicu juga oleh stres yang luar biasa,” tulis Nanik.

Ia mengungkapkan, salah satu tekanan terbesar yang dirasakannya selama memimpin BGN adalah tanggung jawab dalam mengelola anggaran negara yang besar.

Kekhawatiran agar setiap penggunaan anggaran berjalan sesuai aturan membuatnya mengalami tekanan psikologis yang berat.

Nanik mengatakan, dirinya menjadi sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan, termasuk meminta pemeriksaan dan pendampingan sebelum menandatangani berbagai dokumen.

“Saking takutnya saya memegang anggaran besar, sampai tanda tangan apapun saya tidak mau sendiri harus dua Waka ikut paraf,” ujarnya.

Menurut Nanik, tekanan tersebut perlahan berdampak pada kondisi fisiknya.

Ia mengaku kerap merasa cemas ketika menghadapi banyak dokumen pekerjaan hingga tubuhnya mengalami reaksi seperti panas dingin.

Nanik pun meminta doa agar diberikan kekuatan untuk menjalani masa pemulihan.

Ia menyebut keputusan untuk meninggalkan jabatan di BGN diambil agar dapat lebih berkonsentrasi menjaga kesehatannya.

“Saya sudah pamit kepada presiden, jangan lama-lama saya di BGN karena saya mau konsen untuk kesehatan saya,” tulisnya.

Meski memilih fokus pada kesehatan, Nanik tetap berharap program BGN dapat berjalan dengan baik.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang selama ini mendukungnya selama menjalankan tugas.

Stres Pegang Uang, Trauma, Naniek S Deyang Tetap Jadi Pengawas BGN

Nanik juga menuliskan jika dirinya trauma jika harus berurusan dengan dana MBG.

Trauma ini terungkap saat Nanik juga mengatakan jika saat pamitan Prabowo memintanya tak langsung meninggalkan BGN. 

"Saya diminta tetap ikut mengawasi BGN. Kemungkinan presiden akan membentuk dewan pengawas dimana saya disuruh menjadi ketua dewan pengawasnya," tulis Nanik di akun facebooknya. 

Nanik menyatakan kesanggupannya menjadi pengawas asal tidak berhubungan dengan uang. 

"Kalau  mencereweti kayaknya masih bisa yg penting tidak berhubungan dengan pegang  uang , sumpah trauma akuttt," tulisnya dengan emoticon tertawa. 

Nanik menegaskan tetap akan mendukung program besutan Prabowo ini. 

"Saya tetap berjuang  dan mendukung Pak Presiden yang saat ini sangat keras berupaya memperbaiki kehidupan  rakyat Indonesia.14 tahun ikut beliau , saya tau persis program MBG bukan untuk tujuan politis seperti yang dituduhkan orang, tapi sebagai program untuk benar-benar intervensi gizi anak -anak agar tumbuh menjadi generasi emas dan juga untuk menjaga kesehatan mereka.

Di akhir postingannya, Nanik kembali menegaskan akan konsentrasi pada kesehatannya 

"Saya konsentrasi di kesehatan dulu ya prens."

Rekam Jejak Nanik S Deyang

JAMIN KEAMANAN - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang menjamin keselamatan netizen yang mengkritik menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di media sosial. Hal ini disampaikan Nanik selepas rapat koordinasi MBG dengan Pemprov Jateng di Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, Selasa (3/3/2026). 
JAMIN KEAMANAN - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang menjamin keselamatan netizen yang mengkritik menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di media sosial. Hal ini disampaikan Nanik selepas rapat koordinasi MBG dengan Pemprov Jateng di Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, Selasa (3/3/2026).  (TRIBUN JATENG/iwan Arifianto)

Nanik merupakan politikus Indonesia yang sebelumnya sempat menjabat sebagai Wakil Ketua BGN era Dadan Hindayana.

Awalnya, Nanik berkarier sebagai wartawan Tabloid Bangkit. Kemudian menjadi tim sukses Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 lalu.

Nanik dan Prabowo memang diketahui telah mengenal satu sama lain sejak lama.

Bahkan, jauh sebelum itu, pada Pemilu 2014, Nanik yang saat itu masih menjadi jurnalis sudah menjalin hubungan erat dengan Prabowo. 

Sejak saat itulah, Nanik dikenal sebagai salah satu sahabat yang dipercaya Prabowo.

Mantan jurnalis itu pun terus konsisten berada di barisan pendukung dan mengawal perjuangan politik Prabowo hingga memenangkan Pilpres pada 2024.

Sejak Prabowo menjabat sebagai Presiden RI, Nanik mendapatkan posisi-posisi strategis di pemerintahan, termasuk menjadi Wakil Kepala BGN, sebelum akhirnya menjabat sebagai Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana yang terjerat kasus korupsi Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sebelum terjun ke BGN, Nanik sempat dipilih Prabowo menjadi Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan periode tahun 2024-2029.

Lalu pada 12 Juni 2025, ia diangkat menjadi Komisaris Independen Pertamina, baru kemudian menjadi Wakil Kepala BGN pada 17 September 2025.

Saat menjabat Wakil Kepala BGN, Nanik diberhentikan dari jabatan Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan.

Namun, hingga saat ini, Nanik diketahui masih tercatat menjabat sebagai Komisaris PT Pertamina (Persero).

Di balik karier cemerlangnya itu, Nanik sebelumnya sempat terlibat dalam penyebaran kasus kebohongan Ratna Sarumpaet pada 2018.

Janji Nanik saat Jadi Kepala BGN

Setelah resmi dilantik jadi Kepala BGN, Nanik mengucapkan terima kasih dan berkomitmen akan menjalankan amanahnya dengan benar.

"Tentu ini satu amanah yang harus kita jalankan dengan baik, benar, tulus, ikhlas, dan jujur, karena ini program yang sangat bagus sekali, kita bertanggung jawab untuk bisa mencerdaskan anak-anak bangsa sekaligus bisa untuk menggerakan ekonomi bawah," ungkapnya pada 8 Juni 2026 lalu.

Sebagai langkah pertama, Nanik mengatakan dirinya akan fokus pada efisiensi anggaran MBG agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini.

"Tetapi dengan tidak mengubah target dari yang kita berikan gizi. Efisiensi ini kami lakukan yang pertama melalui moratorium."

"Moratorium ini bukan titik baru, tetapi juga dapur-dapur baru. Per hari ini jumlahnya titik dapur yang operasional berdasarkan virtual account itu 27.877, nah kita hentikan dulu di situ, kita akan tata," jelasnya.

Saat menjabat menjadi Kepala BGN yang baru, Nanik juga mengatakan bahwa dirinya telah menyampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa dirinya akan fokus pada kualitas MBG daripada kuantitasnya.

"Kemarin dipanggil Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau, tahun 2026 ini kami tidak mengejar kuantitas, kami akan perbaiki kualitas," tegasnya dalam konferensi pers, Kamis (4/6/2026).

"Sehingga bisa jadi kami tidak akan mengejar ke 82 juta, tapi bagaimana dapur-dapur ini sehat, memberikan makan yang bergizi, lalu refocusing," sambungnya.

Nanik kemudian menjelaskan, apabila terdapat sekolah-sekolah yang tergolong mahal, pihaknya akan mempertanyakan apakah sekolah-sekolah tersebut masih memerlukan program MBG. 

Jika dinilai tidak terlalu membutuhkan, alokasi program MBG tersebut akan dialihkan ke wilayah 3T atau Tertinggal, Terdepan, dan Terluar.

Dengan demikian, kata Nanik, jumlah penerima manfaat tetap bisa bertambah, tetapi penambahannya dilakukan dengan mengurangi alokasi bagi pihak-pihak yang selama ini dianggap kurang menjadi prioritas.

"Nah sekarang kita fokuskan. Semua sekolah kan dikasih, nah sekarang kita fokuskan adalah ke 3T dan terutama untuk 3B (Balita, ibu hamil, dan ibu menyusui)," paparnya.

(Tribunnews.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.