Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata menyoroti adanya peluang baik dalam mengembangkan paket wisata musik terutama yang bertemakan K-Pop pada masa tinggalnya ke berbagai destinasi prioritas, khususnya yang berdekatan dengan Jakarta (greater Jakarta).
"Kementerian Pariwisata terbuka untuk berkolaborasi dengan asosiasi Industri Biro Perjalanan Wisata seperti ASITA, AITTA, ASTINDO, dan IINTOA untuk mengembangkan paket konser musik," kata Juru Bicara Kemenpar Nia Niscaya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Nia menilai paket-paket wisata musik khususnya yang bertemakan K-Pop dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara ke Indonesia. Industri pariwisata nasional perlu melihat banyaknya konser K-Pop yang digelar, sebagai peluang untuk menggerakkan sektor pariwisata.
Kementerian Pariwisata meyakini konser internasional sebagai salah satu penggerak event pariwisata yang memberikan dampak ekonomi signifikan di sektor pariwisata, sekaligus momen baik untuk mempromosikan destinasi wisata ke tingkat global.
Penyelenggaraan konser K-Pop di kota-kota besar di Indonesia dinilai memberikan dampak besar terhadap perekonomian negara sekaligus dapat mencegah keluarnya devisa pariwisata, karena para penggemar K-Pop di Indonesia yang jumlahnya besar tidak harus keluar negeri untuk menyaksikan idola K-Pop mereka.
Dia mencontohkan adanya rencana penyelenggaraan konser BTS selama tiga hari pada tanggal 26,27 dan 29 Desember ditargetkan akan menyumbang 18.000 wisatawan mancanegara, dengan rata-rata pengeluaran tiap wisman sebesar 380,1 dolar AS atau sekitar Rp6,7 juta.
"Bila dihitung, maka target potensi devisa yang dihasilkan dari pelaksanaan konser BTS sebesar 6,6 juta dolar Amerika atau Rp120,6 miliar itu pun belum termasuk pembelian merchandise dan F&B," katanya.
Di samping itu, konser K-Pop di Jakarta juga memberikan keuntungan besar berupa perputaran uang yang dibelanjakan oleh ribuan penonton untuk membeli tiket konser, akomodasi, makan minum, transportasi dan komunikasi, serta membeli oleh-oleh, di antaranya merchandise.
Perputaran uang di antaranya akan masuk ke negara berupa pajak dan sewa venue (GBK) ke perusahaan pengelola aset negara.
Oleh karenanya, Kementerian Pariwisata siap berkolaborasi dengan asosiasi industri dan biro perjalanan wisata dalam mengembangkan paket wisata konser musik (concert tourism) yang terintegrasi, mulai dari tiket konser, transportasi, akomodasi, hingga atraksi wisata.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan wisatawan tidak hanya datang untuk menonton konser, tetapi juga memperpanjang masa tinggal (length of stay) dan meningkatkan pengeluaran wisata sehingga memberikan efek pengganda pada ekonomi yang lebih luas.
Nia turut memastikan Kementerian Pariwisata akan terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak untuk membantu mempermudah izin penyelenggaraan event-event berskala besar.
"Saat ini peran Kemenpar adalah mendukung penyelenggaraan sebuah event dengan mengeluarkan surat rekomendasi/keterangan dukungan untuk event skala internasional sebagai salah satu dokumen wajib untuk pengajuan izin keramaian," ujarnya.
Di sisi lain, Kementerian Pariwisata turut berupaya mempromosikan destinasi pariwisata Indonesia ke mancanegara, khususnya pada wisatawan asal Korea Selatan melalui penyelenggaraan konser internasional idol K-Pop.
Apalagi, konser musik yang menampilkan artis idol K-Pop banyak diminati wisatawan milenial dan Gen Z, yang merupakan mayoritas dari segmentasi wisatawan Korea yang mengunjungi Indonesia.





