Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Deanza Falevi
TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Di balik semarak peringatan Hari Jadi ke-195 Kota Purwakarta dan Hari Jadi ke-57 Kabupaten Purwakarta, masih tersimpan persoalan yang dirasakan sebagian masyarakat.
Warga Desa Batutumpang, Kecamatan Tegalwaru, hingga kini harus bertahan menghadapi krisis air bersih akibat kemarau panjang.
Selama tiga bulan terakhir, sejumlah warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Di tengah keterbatasan tersebut, warga terpaksa memanfaatkan dua kubangan bekas galian tanah yang masih menyisakan genangan air sebagai tempat mandi dan mencuci pakaian.
Meski kondisi air tampak keruh kecokelatan, bercampur lumpur, sampah plastik, hingga lumut di tepi kubangan, warga mengaku tidak memiliki pilihan lain.
Pantauan Tribunjabar.id pada Selasa (21/7/2026) sore hari, kubangan tersebut didatangi warga yang datang membawa ember, pakaian kotor, hingga jeriken.
Sebagian ibu-ibu mencuci pakaian di tepian kubangan, sementara ada anak-anak yang mandi menggunakan air yang diambil dari genangan tersebut.
Nina (31), salah seorang warga, mengatakan keluarganya sudah tiga bulan kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur di rumah mengering.
"Sudah tiga bulan enggak ada air. Sumur kering. Mau engga mau mandi sama nyuci di sini," kata Nina usai mencuci pakaian kepada Tribunjabar.id, Selasa (21/7/2026).
Menurut Nina, air dari kubangan hanya digunakan untuk mandi dan mencuci. Sementara untuk kebutuhan memasak dan minum, keluarganya harus membeli air isi ulang seharga Rp5 ribu per galon atau air mineral sekitar Rp20 ribu per galon.
Sesekali, kata dia, warga juga mendapat bantuan air bersih dari pemerintah desa melalui mobil tangki.
Meski menyadari kondisi air yang digunakan sangat kotor, ia mengaku tidak memiliki pilihan lain.
"Takut sih, tapi engga ada lagi air. Alhamdulillah sampai sekarang belum ada yang sakit. Harapan kami pemerintah bisa kirim air bersih seminggu dua kali," ujarnya.
Kondisi serupa juga dialami Solihah (45). Setiap musim kemarau, ia harus berjalan sekitar setengah jam dari rumah menuju kubangan untuk mencuci pakaian.
"Kalau kemarau sudah biasa begini. Engga ada air di rumah. Nyuci di sini, mandi juga kadang di sini (kubangan)," ucapnya.
Ia mengaku tetap harus mengeluarkan biaya untuk membeli air bersih yang digunakan memasak, mencuci peralatan makan, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya. Menurutnya, satu toren air bersih harus ditebus sekitar Rp60 ribu.
"Harapannya pemerintah bisa bikin sumur atau jet pump supaya kami punya air bersih seperti kampung-kampung lain," katanya.
Sementara itu, Wawan (48) mengaku setiap hari harus bolak-balik mengangkut air dari kubangan menuju rumahnya karena sumur sudah mengering sejak sekitar dua bulan lalu.
"Sudah dua bulan kosong, sumur kering sejak engga hujan. Ini sudah tiga kali bolak-balik bawa air buat mandi sama nyuci piring," ujarnya.
Untuk kebutuhan minum, ia mengaku keluarganya harus membeli air galon isi ulang. Namun, untuk mandi dan mencuci mereka masih mengandalkan air dari kubangan.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi krisis air bersih yang setiap tahun terjadi saat musim kemarau.
Mereka berharap distribusi bantuan air bersih dapat dilakukan secara rutin, sekaligus pembangunan sumber air bersih permanen seperti sumur bor atau sistem penyediaan air bersih agar tidak terus bergantung pada genangan air bekas galian tanah yang kondisinya jauh dari layak.(*)