5 Populer Internasional: 4 Skenario Akhir Perang AS-Iran - Laporan ISW soal Rudal Balistik Rusia
Endra Kurniawan July 22, 2026 09:36 AM

TRIBUNNEWS.COM - Rangkaian peristiwa internasional menjadi sorotan dalam 24 jam terakhir.

AS kembali melancarkan serangan ke Iran untuk melemahkan militernya di Selat Hormuz, sementara peluang diplomasi makin kecil. 

Prof. Hikmahanto Juwana memetakan empat skenario: kembali berunding, kemenangan AS, kemenangan Iran, atau pergantian pemimpin. 

Sementara itu, Rusia meningkatkan penggunaan rudal balistik ke Ukraina hingga melampaui kapasitas produksinya dan mulai memakai cadangan lama, menurut laporan ISW.

1. 4 Skenario Konflik AS-Iran Menurut Guru Besar UI, dari Meja Perundingan hingga Pergantian Rezim

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih terus memanas dengan aksi saling serang yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pusat Komando AS (CENTCOM) mengumumkan telah melancarkan serangan terbaru terhadap target Iran.

"Hari ini pukul 4 sore ET, pasukan AS memulai putaran serangan baru terhadap Iran atas arahan Panglima Tertinggi. Serangan-serangan ini dirancang untuk lebih melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz," tulis CENTCOM di X, Selasa (21/7/2026) pukul 03.16 WIB.

Di tengah semakin kecilnya peluang kedua negara kembali ke meja perundingan, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, memetakan empat skenario yang berpotensi menentukan arah konflik ke depan.

Dalam wawancara Kompas Malam yang ditayangkan di YouTube KompasTV Selasa (21/7/2026), Prof. Hikmahanto menilai eskalasi yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh sikap keras kedua pemimpin serta terus berubahnya alasan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran.

"Dalam situasi di mana Trump keras dengan berbagai alasan, awalnya serangan Iran ke tanker, kedua tidak adanya kesepakatan sesuai MoU soal senjata nuklir dan sekarang Amerika Serikat melakukan serangan yang besar karena ada tiga prajuritnya yang tewas," ujar Prof. Hikmahanto.

Baca selengkapnya >>>

2. ISW: Rusia Gunakan Rudal Balistik Melebihi Kapasitas Produksi Bulanan, Diduga Mulai Kuras Stok

Rusia dilaporkan meningkatkan penggunaan rudal balistik dalam perang melawan Ukraina hingga melampaui kemampuan produksi bulanannya.

Lembaga kajian Institute for the Study of War (ISW) menyebut Moskow telah meluncurkan rudal balistik sepanjang Juli dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan perkiraan jumlah rudal yang mampu diproduksi Rusia dalam periode yang sama.

Dikutip dari The Guardian, ISW menilai kondisi tersebut menunjukkan Rusia kemungkinan mulai menggunakan cadangan rudal yang telah dikumpulkan sebelumnya untuk mempertahankan intensitas serangan.

Menurut ISW, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Moskow mempertahankan tekanan terhadap Ukraina di tengah perang yang memasuki fase panjang.

"Rusia tampaknya menggunakan persediaan rudalnya untuk terus meningkatkan jumlah rudal balistik yang diluncurkan ke Ukraina," kata ISW.

Lembaga tersebut menilai rudal balistik memiliki keunggulan dibandingkan drone maupun rudal jelajah karena mampu bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan memberikan waktu respons yang lebih singkat bagi sistem pertahanan udara Ukraina.

Baca selengkapnya >>>

3. Trump Ancam Kerahkan Pasukan untuk Rebut Pulau Kharg, Iran Siap 'Menyambut'

Di tengah ancaman eskalasi yang lebih luas dari Presiden AS Donald Trump, Iran memperingatkan Amerika Serikat tentang konsekuensi dari setiap operasi militer untuk merebut Pulau Kharg.

Pulau Kharg merupakan pulau kecil milik Iran di Teluk Persia yang sangat strategis karena menjadi terminal utama ekspor minyak negara itu.

Sekitar 90 persen pengiriman minyak mentah Iran melewati pulau tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, memperingatkan bahwa ada orang-orang di Iran yang menghitung mundur menit demi menit untuk menyambut pasukan AS jika melancarkan invasi darat.

"Mereka akan menghadapi akibatnya. Ada banyak orang di wilayah-wilayah tersebut yang dengan penuh harap menantikan kedatangan mereka," kata Baghaei dalam konferensi pers yang disiarkan IRNA News Agency, Senin (20/7/2026).

Baghaei juga menegaskan kembali posisi Iran mengenai kesepakatan sementara yang ditandatangani dengan Amerika Serikat.

Ia menyatakan dokumen tersebut sangat jelas dan tidak mengandung ambiguitas.

Menjelaskan struktur kesepakatan itu, Baghaei mengatakan, "Teks nota kesepahaman ini singkat dan memiliki 14 klausul."

Ia juga kembali menegaskan posisi Iran mengenai jalur perdagangan maritim strategis Selat Hormuz.

Baca selengkapnya >>>

4. Ujian Perdana Andy Burnham sebagai PM Inggris, Akankah Izinkan AS Pakai Pangkalan Militernya?

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia berbicara dengan Perdana Menteri baru Inggris, Andy Burnham, tak lama setelah Burnham resmi menjabat, Senin (20/7/2026).

Trump menyebut, percakapan tersebut berlangsung sangat baik.

Ia menambahkan bahwa dirinya dan Burnham berencana bertemu dalam waktu dekat untuk membahas berbagai isu yang menjadi kepentingan bersama.

Mengutip Fox News, dalam percakapan itu, kedua pemimpin membahas hubungan AS-Inggris yang telah lama terjalin serta tantangan yang dihadapi Burnham di awal masa jabatannya.

Trump juga menjanjikan dukungan Amerika Serikat.

"Kami membahas banyak hal, termasuk hubungan luar biasa yang telah kami miliki dengan Inggris," kata Trump.

"Perdana Menteri memiliki tugas besar di hadapannya, tetapi dia akan mampu melakukannya dan, tentu saja, AS akan ada di sana untuk membantu!"

Keduanya juga membahas minyak Laut Utara, perdagangan, aliansi militer AS-Inggris, serta upaya membersihkan ranjau di Selat Hormuz, kata Trump.

Baca selengkapnya >>>

5. 6 Negara yang jadi Sasaran Rudal Iran dalam Sepekan, Pangkalan Militer AS Langsung Luluh Lantak

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan daftar negara yang menjadi target rudal mereka dalam sepekan terakhir.

Keenam negara tersebut menjadi lokasi berdirinya pangkalan militer Amerika Serikat (AS).

Serangan yang bertajuk Operasi Nasr 2 ini, dilancarkan sebagai respons atas gelombang serangan udara dan operasi militer terbaru yang digelar pasukan AS di wilayah selatan Iran.

Berdasarkan rilis IRGC yang dihimpun WANA, keenam negara tersebut adalah Yordania, Bahrain, Kuwait, Oman, Suriah, hingga Qatar.

Di Bahrain, serangan Iran dilaporkan menghantam Markas Besar Armada Kelima AS, fasilitas radar peringatan dini C-RAM, gudang senjata, serta fasilitas pemeliharaan helikopter di Pangkalan Udara Shaikh Isa.

Selain itu, IRGC mengklaim menembak pusat data intelijen militer Batelco dan jaringan pusat AI utama di negeri tersebut.

Sementara di Kuwait, gelombang rudal dan drone Iran menyasar Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber.

Baca selengkapnya >>>

(Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.