SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Di atas lantai semen Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, dua bocah laki-laki bergerak lincah memeragakan berbagai gerakan. Mereka sesekali melompat, berguling, bertumpu pada kedua tangan, dan juga menjaga keseimbangan dengan kepala sebagai tumpuan.
Gerakan-gerakan akrobatik itu tak lain adalah bagian dari latihan breakdance atau breaking yang rutin dilakukan bersama komunitas Nanggroe Break Cypherz (NBC).
Saat ditemui Serambi di lokasi, pada Rabu (15/7/2026), latihan para bocah itu dipandu langsung oleh Nainunis, pendiri sekaligus koordinator NBC, yang telah malang melintang ke berbagai negara.
Nay, sapaanya, menjadi sosok penting di balik perjalanan panjang komunitas yang telah bertahan hampir dua dekade di Aceh. NBC berdiri pada 2008 dengan misi sederhana, membangun ruang bagi anak-anak muda Aceh untuk belajar breakdance sekaligus menyalurkan kreativitas melalui jalur yang positif.
Sejak awal, komunitas ini berlatih dan memperkenalkan breakdance di berbagai tempat dan ruang terbuka yang bisa diakses secara umum di Banda Aceh.
Mengenalkan Aceh ke dunia
Tahun 2011 menjadi sejarah penting bagi NBC. Di tahun itu, mereka tampil di Malaysia, sekaligus sebagai panggung luar negeri pertama yang mereka jajaki. Berhadapan dengan sekitar 100 tim dari berbagai negara, tiga anggota NBC berhasil menembus babak 16 besar.
Keberhasilan itu tidak lepas dari konsep yang mereka tampilkan. NBC memadukan gerakan breakdance dengan unsur budaya Aceh melalui Tari Ratoh Duk. Perpaduan tersebut menjadi daya tarik tersendiri dan membedakan mereka dari peserta lain.
“Di sana tandingnya berbagai negara (100 tim). Tapi kami masuk 16 besar, terkejut kami karena susah saat itu masuk 16 besar. Itu gara-gara kami buat konsep Tari Ratoh Duk dengan breakdance, jadi menarik mereka,” jelasnya.
Capaian tersebut, menjadi tekad mereka untuk terus mengenalkan Aceh ke berbagai belahan dunia. Bahkan, sejak saat itu, nama NBC semakin dikenal di kalangan komunitas breakdance internasional.
Jaringan yang terbangun melalui berbagai kompetisi membawa mereka tampil di sejumlah negara di Asia, Eropa, hingga Afrika.
Hingga saat ini, dalam setiap penampilannya, Nay mengungkap selalu membawa identitas Aceh, baik melalui konsep pertunjukan maupun cara memperkenalkan budaya daerah kepada dunia. Hingga kini ia telah tampil di 14 negara yang tersebar di Asia, Eropa, dan Afrika, sekaligus aktif menjadi juri dan mentor dalam berbagai kompetisi internasional.
Bahkan dalam waktu dekat, Nay akan terbang ke Maladewa dalam rangka breaking global yang diselenggarakan oleh Kardo. Meski telah mendunia, Nay tetap memilih membangun komunitas di Aceh.
Baginya, setiap penampilan di luar negeri bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga menjadi cara memperkenalkan budaya dan identitas Aceh kepada dunia. “Sekarang tiap di luar negeri saya selalu mengenalkan Aceh, dan sekarang saya di konten-konten selalu bicara bahasa Aceh, teks saja saya buat tiga bahasa,” jelasnya.
Di tengah berbagai pencapaian itu, NBC tetap mempertahankan latihan rutin di Banda Aceh. Regenerasi menjadi fokus utama komunitas agar semakin banyak anak muda memiliki ruang untuk mengembangkan bakat sekaligus menjauh dari aktivitas negatif.
Berulang kali diusir
Sebelum melangkah ke pentas dunia, perjalanan Nay bersama komunitasnya dalam memperkenalkan tarian dance di Aceh tidak berjalan mulus. Pada masa-masa awal, NBC kerap menghadapi penolakan hingga berulang kali ditegur dan diusir saat latihan. Breakdance dianggap sebagai budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Aceh.
“Kami sempat diusir saat latihan di Taman Budaya. Lalu kami pindah ke Tamah Sari dan diusir juga. lama-kelamaan kami tetap latihan di Taman Budaya, tapi ada juga yang larang oleh orang tari tradisional. Tapi saya bertekad ‘kapreh manteng wate lon rayek’ (tunggu saja saat kami berhasil),” kata Nay menguatkan diri saat itu.
Kendati kerap mengalami penolakan, mereka memilih bertahan. NBC terus berlatih sambil berupaya menghilangkan stigma negatif yang melekat pada breakdance.
Mereka tampil dengan busana yang lebih tertutup, menjaga etika saat berlatih maupun tampil, serta menunjukkan bahwa breakdance dapat menjadi wadah pembinaan generasi muda, bukan sekadar hiburan.
“Meski dilarang, kami mencoba menampilkan hal positif, mulai dari tampil dengan menutup aurat, tidak pakai celana pendek. Tapi masih juga dilarang dianggap budaya kafir,” ujarnya.
Perlahan, kata Nay, kerja keras mereka mulai membuahkan hasil. Dukungan masyarakat mulai tumbuh seiring prestasi yang diraih komunitas tersebut di berbagai kompetisi.
Hapus stigma negatif
Lebih lanjut, Nay secara tegas juga membantah anggapan bahwa komunitas breakdance identik dengan narkoba. Menurutnya, stigma itu justru bertolak belakang dengan kenyataan.
“Kami kerap dicap identik dekat dengan narkoba, tapi pada dasarnya komunitas seperti ini cukup jauh dari narkoba karena akan sangat mengganggu fisik dan tenaga. Aktivitas kami ini butuh fisik yang ekstra,” tegasnya.
Nay juga mengulas awal mula breakdance yang lahir di jalanan New York, Amerika Serikat, tahun 1970-an. Di mana, gerakan tarian tersebut menjadi salah satu gerakan budaya damai terhadap anak muda jalanan kala itu.
“Sehingga, yang awalnya anak muda antargeng itu sering berkelahi dan harus ada yang meninggal untuk keluar sebagai pemenang, perlahan berubah jadi adu skill dancer,” jelasnya.(ra)