TRIBUNJOGJA.COM - Mengakhiri sebuah hubungan bukanlah hal yang mudah.
Setelah putus cinta, banyak orang merasa kehilangan, sedih, kecewa, bahkan kesulitan menjalani rutinitas seperti biasanya.
Perasaan tersebut merupakan hal yang wajar. Sebab, saat menjalin hubungan, seseorang tidak hanya berbagi waktu, tetapi juga membangun kebiasaan, harapan, dan kedekatan emosional dengan pasangannya.
Ketika hubungan berakhir, otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
Namun, tidak semua orang terus terpuruk setelah putus cinta.
Ada pula yang perlahan bangkit, mencoba hal-hal baru, hingga merasa menjadi versi diri yang lebih baik dibanding sebelumnya.
Lalu, mengapa hal itu bisa terjadi?
Putus Cinta Memang Menyakitkan, tetapi Perasaan Itu Tidak Bertahan Selamanya
Merasa sedih setelah putus cinta bukan berarti seseorang lemah atau gagal move on.
Justru, respons tersebut merupakan bagian alami dari proses menghadapi kehilangan.
Menurut penelitian, berakhirnya hubungan romantis dapat memunculkan respons emosional yang mirip dengan bentuk kehilangan lainnya.
Tidak sedikit orang yang mengalami kesedihan, marah, bingung, atau merasa kesepian dalam beberapa waktu setelah hubungan berakhir.
Selain karena kehilangan pasangan, seseorang juga kehilangan rutinitas yang sebelumnya dijalani bersama.
Mulai dari saling berkabar setiap hari, merencanakan liburan, hingga memiliki seseorang untuk diajak bercerita. Ketika semua itu tiba-tiba berhenti, otak membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Karena itu, proses pemulihan setiap orang tidak akan sama.
Ada yang mulai merasa lebih baik dalam hitungan minggu, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama.
Banyak faktor yang memengaruhi, seperti lamanya hubungan, cara hubungan berakhir, hingga dukungan dari orang-orang terdekat.
Kenapa Ada Orang yang Justru Lebih Semangat Setelah Putus?
Meski terdengar mengejutkan, sebagian orang justru merasa hidupnya perlahan membaik setelah melewati masa-masa sulit akibat putus cinta.
Dalam psikologi, kondisi ini dapat dikaitkan dengan post-traumatic growth, yaitu perubahan positif yang dapat muncul setelah seseorang berhasil melewati pengalaman yang berat atau penuh tekanan.
Menurut para peneliti, pengalaman yang menyakitkan terkadang membuat seseorang melihat hidup dari sudut pandang yang baru.
Setelah melalui masa sulit, sebagian orang menjadi lebih mengenal dirinya, memiliki tujuan yang lebih jelas, atau lebih menghargai hubungan dengan orang lain.
Perubahan ini tentu tidak terjadi secara instan.
Rasa sedih tetap ada, tetapi perlahan seseorang mulai menemukan cara untuk bangkit.
Misalnya, waktu yang sebelumnya banyak dihabiskan bersama pasangan kini digunakan untuk mencoba hobi baru, kembali berolahraga, mengikuti pelatihan, atau mengejar target yang sempat tertunda.
Tanpa disadari, aktivitas tersebut membantu membangun rutinitas baru sekaligus mengalihkan fokus pada pengembangan diri.
Life After Breakup Bisa Menjadi Kesempatan Mengenal Diri Sendiri
Setelah hubungan berakhir, tidak sedikit orang yang mulai menyadari bahwa ada banyak hal yang selama ini terabaikan.
Mulai dari hobi yang sempat ditinggalkan, target pribadi yang tertunda, hingga waktu untuk diri sendiri yang sebelumnya lebih banyak dihabiskan bersama pasangan.
Masa setelah putus cinta memang tidak selalu menyenangkan. Namun, bagi sebagian orang, fase ini justru menjadi kesempatan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam.
Misalnya, mulai memahami seperti apa hubungan yang diinginkan, nilai-nilai yang dianggap penting dalam sebuah hubungan, hingga kebiasaan yang ingin diperbaiki jika suatu saat menjalin hubungan baru.
Pengalaman yang sulit dapat membantu seseorang memperoleh cara pandang baru terhadap dirinya maupun kehidupannya.
Tidak semua orang mengalaminya, tetapi perubahan positif seperti menjadi lebih mandiri, lebih percaya diri, atau memiliki tujuan hidup yang lebih jelas memang dapat muncul setelah berhasil melewati masa yang berat.
Agar Tidak Berlarut-larut, Beri Waktu untuk Pulih
Saat putus cinta, tidak sedikit orang yang berusaha mengalihkan rasa sedih dengan terus menyibukkan diri atau memendam emosinya.
Padahal, mengakui bahwa sedang merasa sedih, kecewa, atau marah merupakan bagian dari proses pemulihan.
Menerima dan mengenali emosi yang muncul dapat membantu seseorang menghadapi kehilangan dengan cara yang lebih sehat dibanding terus menyangkal atau menekannya.
Selain itu, tidak ada patokan pasti berapa lama seseorang harus bisa move on. Ada yang membutuhkan waktu beberapa bulan, ada pula yang lebih lama. Selama perasaan tersebut perlahan membaik dan tidak terus mengganggu kehidupan sehari-hari, proses tersebut masih tergolong wajar.
Beberapa Hal yang Bisa Dilakukan Setelah Putus Cinta
Meski tidak ada cara instan untuk menghilangkan rasa sedih, beberapa langkah berikut dapat membantu proses pemulihan berjalan lebih baik.
Luangkan waktu untuk diri sendiri. Gunakan waktu tersebut untuk melakukan aktivitas yang disukai atau mencoba hal baru yang sebelumnya belum sempat dilakukan.
Jaga hubungan dengan keluarga dan teman. Dukungan dari orang-orang terdekat dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian saat menghadapi masa sulit.
Tidak terburu-buru mencari hubungan baru. Memberi waktu bagi diri sendiri untuk pulih dapat membantu seseorang memahami pengalaman yang telah dilalui sebelum memulai hubungan berikutnya.
Tetap menjaga kesehatan fisik. Tidur yang cukup, makan secara teratur, dan berolahraga ringan dapat membantu menjaga kondisi tubuh sekaligus mendukung kesehatan mental selama proses pemulihan.
Jika kesedihan terasa sangat berat, berlangsung dalam waktu lama, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog juga dapat menjadi langkah yang tepat.
Tidak Harus Cepat Move On, yang Penting Terus Bertumbuh
Setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam menghadapi putus cinta. Ada yang membutuhkan waktu singkat untuk kembali menjalani rutinitas, ada pula yang memerlukan proses lebih panjang.
Karena itu, tidak ada alasan untuk membandingkan proses pemulihan dengan orang lain.
Life after breakup bukan berarti harus langsung melupakan semua kenangan atau berpura-pura baik-baik saja.
Yang lebih penting adalah perlahan menerima apa yang telah terjadi, belajar dari pengalaman tersebut, dan tetap memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk berkembang.
Bagi sebagian orang, putus cinta memang menjadi akhir dari sebuah hubungan.
Namun, di sisi lain, pengalaman itu juga bisa menjadi awal untuk lebih mengenal diri sendiri dan membangun kehidupan yang lebih baik ke depannya.
(MG Mayumi Cinta Mahesi)